Pikiranku benar-benar kalut. Ku coba pejamkan mata, harap-harap beban nan mendera hilang dibawa alam bawah sadar. Tapi, teramat amat sulit. Ku putar lagi MP3, siapa tahu lagu bisa membuat sedikit pulih dari “sakit” yang tiada dapat ku mengerti.

Tadi pagi, kusabangi bengkel Ahass langganan di jalan AM. Sangaji. Sudah 2 bulan motor ngak diservis. Mesin sudah kasar, tali gas sudah keras. Ternyata, banyak motor yang ngantri. Kuurungkan niat, daripada harus menunggu lama. Kuputuskan meluncur ke kampus saja.

Melongok ke papan pengumuman, kutemui sebuah pamplet seminar proposal skripsi seorang teman satu angkatan. Ya, kesempatan pikirku. Momen baik untuk mengembalikan semangat merampungkan skripsiku yang sejak lebaran lalu terbengkalai. Sempat juga aku menjadi 1 dari 3 penanya yang ikut nimbrung dalam seminar proposal skripsi yang membahas tentang Anarkhisme itu. Ya, meskipun pertanyaan ngak berbobot banget, tapi aku senang karena bisa terus belajar ngomong di depan forum-forum ilmiah yang terkenal angker. Apalagi tadi dihadiri juga oleh kakak-kakak angkatan yang terkenal sebagai jago debat dan beberapa teman S2.

Saat di jalan menuju pulang, sempat juga terpikir olehku tentang kontroversi kedatangan Miyabi ke Indonesia, yang telah menaikkan rating pencarian Miyabi di internet. Tulisanku beberapa waktu yang lalu bertajuk Selamat Datang Miyabi menempati postingan tertinggi dari artikel-artikelku yang lainnya dalam minggu ini.

Ahh Munafik.. Sok alim… Begitulah serangan tajam dari beberapa orang yang terpuaskan nafsu seksnya dengan kedatangan Miyabi ke Indonesia. Menapuk dada, kamilah orang-orang jujur dengan birahi yang kami miliki. Mungkin itulah keponggahan yang hendak mereka banggakan.

Padahal ini bukan masuk wilayah munafik atau kealiman. Siapakah sih yang ngak punya keinginan seks??? Siapa sih yang ngak punya fantasi-fantasi mesum terhadap lawan jenis??? Seks adalah naluriah alamiah manusia. Orang-orang frigid dan punya kelainanlah yang ngak tertarik dengan seks. Tapi tidak mesti seks ditumpahkan dalam ruang publik, ditonton banyak orang, apalagi dinikmati oleh anak-anak yang belum pantas melihatnya.

Miyabi sebagai artis porno adalah ikon yang sebelum dipublikasikan secara luas saja sudah jadi fenomena bagi banyak orang Indonesia. Apalagi jika ia main film di Indonesia. Film “Menculik Miyabi”, cuma hanya meraup penonton-penonton yang penasaran, paras Miyabi itu kayak apa sih? Tapi download2-an para netter akan film-film Miyabi di internet akan mengelinding bagaikan bola salju.

Entah apa yang akan terjadi, jika muncul fans-fans Miyabi yang tampil terang-terangan. Sangat mungkin Miyabi-nya Indonesia akan muncul. Toh artis porno bisa jadi fenomenal dan mendapat prestise-pengakuan dari masyarakat. Tak salah jika gadis-gadis cantik di Indonesia berduyun-duyun mengikuti jejak Miyabi. Jika sudah begitu, ya selamat menikmati dunia seks bebas, saat keluarga tak lagi diperlukan untuk mengatur hasrat-hasrat biologis masyarakat.

Tapi inilah Indonesia. Negeri yang tak pernah belajar akan teguran-teguran Tuhan. Tak terhitung lagi bencana yang menimpa, tapi tetap saja bersikukuh pembelaan terhadap kemaksiatan.

Sebuah cerita menarik yang disampaikan oleh seorang relawan yang terjun di Pariaman pasca gempa 30 September yang lalu, menunjukkan sikap “basibanak” – “keras kepala” masyarakat yang mengacuhkan kemurkaan Tuhan. Selang satu minggu setelah gempa, diadakan pertunjukkan organ tunggal – pentas musik merayakan pernikahan  mengundang artis dangdut berpakaian minim sepertiga paha. Melenggok-lenggok di tengah korban-korban gempa yang turut menikmati alunan musik dan goyangan sang biduanita.

Arggggggggggg. Entah dengan kata-kata apalagi menunjukkan fenomena tragis ini…

Ya Allah, jangan Engkau jadikan kami orang-orang berhati buta, menjawab musibah yang Engkau turunkan dengan pembangkangan yang berketerusan. Karena kami amat takut akan azabMu… HukumanMu yang memusnahkan kami… Ya Allah sadarkanlah kami… Amien…

Iklan