Mesin motor mulai dihidupkan. Di tengah malam sunyi, ketika orang letih seharian mengumpulkan puing-puing rumah ataupun mencari sesuap makanan dari bantuan. Menyambung hidup tanpa harus kalah dengan keadaan. Berjalan perlahan menyusuri jalan-jalan yang tak lagi mulus, karena di sana sini amblas diremukan oleh kekuatan alam. Hanya temaram rembulan dan bintang nan menemani perjalanan.

Saat mencapai desa terpencil, nan semakin angker di tengah hutan dan sisa-sisa rerubuhan bangunan, beberapa kantong hitam diturunkan. Beberapa kilo beras ditambah ikan asin yang dijadikan satu paket dalam kresek hitam besar kemudian ditenteng menuju tenda-tenda penduduk. Tampak satu keluarga terlelap dalam lelah. Berbaring melepas sejenak kepedihan, kepiluan sambil menahan lapar karena bantuan tiada kunjung datang.

Seorang Ibu, perlahan kami bangunkan. “Assalamu’alaikum… Bu… Ibu, maaf ganggu sebentar…” Sambil mengucek mata yang masih redup dan mengembalikan kesadaran yang sejenak telah terbang dibawa mimpi… “Bu, ini sedikit beras dan ikan asin… Ibu sudah makan??”…. “Sudah, tapi baru mie saja beberapa hari ini” … “Iya Buk, ini beras, mudah2an ada manfaatnya buat ibuk…”

Kamipun berlalu, dari kejauhan sang Ibu masih terpaku berdiri. Wajahnya yang kusut, tampak sayu. Airmatapun menitis.. Membasahi pipinya, walaupun tak terdengar isak bersuara…

Inilah, salah satu kisah yang disampaikan oleh Uda Drs. Zaiyardam Zubir, M.Hum ketua Team Penyerahan Bantuan yang digalang mahasiswa Minang di Jogjakarta yang selama seminggu ini bergulat dengan penyerahan bantuan untuk korban gempa di Pariaman. Piaman Laweh (Pariaman itu Luas), dengan nagari-nagari nan terpelosok. Bantuan tertimbun di kantor Bupati, tak tersalurkan, hingga banyak kelaparan. Sampai-sampai 2400 nasi bungkus terbiarkan basi karena tak terdistribusi. Tak berpengalaman menanggulangi bencana, membuat gagap Pak Bupati yang klisang-klisut menyusuri luasnya wilayah Pariaman.

Betapa, berharganya sekantor beras dan lauk ikan asing bagi sang Ibu. Nilai yang tak seberapa. Paling Rp 15.000–an. Tapi sekantong bantuan itu, telah menitiskan airmata sang Ibu yang beberapa hari tak menyentuh nasi… Ya Tuhan….

Duhai sahabat-sahabatku, di sini kita masih bisa menyela-nyela mencari sumbangan dengan kuliah dan berinternetan. Berfacebook ria lagi tertawa lepas di kafetaria. Bercengkrama dengan pacar sambil menikmati hidangan makan malam sambil bermesra-mesra. Namun, di seberang sanai masih banyak saudara-saudara kita yang memasuki minggu ketiga pasca gempa, tidur di tenda dengan makanan seadanya. Para Relawanpun harus turun jam 02.00 – 03.00 dinihari agar bantuan tidak dirampas di jalan, oleh massa yang kelaparan. Itupun harus dihantui terjangan fisik dari pemuda yang sedang berjaga malam, karena disangka maling yang pasca gempa menjadi fenomena tak terkendali di Pariaman.

Duhai sahabat, kita hanya berpanasan di perempatan jalan untuk meminta sumbangan. Peluh, letih yang kita dera belum seberapa dengan kerja teman-teman di tempat bencana. Belumlah berarti apa-apa dari sekian juta yang kita kumpulkan…

Sahabat, jangan terlalu memikirkan diri sendiri. Larut dengan kesibukkan sendiri. Anak Minang bukanlah sosok-sosok yang tak punya hati nurani. Membiarkan saudara-saudara sendiri bergelimang dengan kepedihan tanpa sedikitpun rasa simpati…

Ibu, Bapak, Uda, Uni, Adiak, baru iko nan bisa uda lakukan. Tak seberapa nilainya. Namun, mudah2an ketulusan hati bisa mengiringi berkah atas bantuan yang telah kami kirimkan dari sini… Duka kami untukmu Ranah Minang nan jauh di mata, tapi dekat di hati….

Gun, tetap semangat ya… Jangan kalah dengan bisikan-bisikan membunuh yang membuat gerakmu mati suri.. Ayo Gun.. SEMANGAT.. (mode on memotivasi diri sendiri)