Obrolan dengan Seorang Mahasiswa S3


Mataku belum jua dipejamkan. Padahal semalaman begadang. Baru 2 jam tidur, tiba-tiba telpon dari adik kelas membangunkanku. Habis itu tak bisa aku kembali berbaring , menenangkan tubuh dan pikiran lewat tidur  di siang hari.

Otak gilaku terus saja membuat status aneh di facebook. Ya, setiap fenomena layak untuk disampaikan selama kita merasa itu adalah hal yang penting. Malas, ngantuk, capek, ataupun lagi patah hati bisa mendatangkan komentar-komentar berjibun. Tiada yang melarang. Dunia wacana kita di era cyberspace ini tak lagi terpusat pada koran dan tv. Kitapun bisa menjadi topik utama berita dunia dalam jangkauan internasional mainan bernama facebook.

Kemarin malam kedatangan tamu mahasiswa s3 UGM.. Namanya juga mahasiswa tua nyeleneh, joint ama mahasiswa tua lainnya di asrama, berhasil merobohkan argumentasi mahasiswa s3… Rasanya keren banget..:) Pantesan dosenku sering bilang, banyak skripsi di filsafat yang lebih bagus dari tesis-tesis mahasiswa2 pasca sarjana..

Status gila yang sangat berbau narsis. Mungkin juga berbau gunjingan bagi orang-orang yang alim. Ku beranikan menulis status ini, karena bagiku perdebatan ilmiah adalah ranah intelektual yang menjadi makanan sehari-hari mahasiswa. Sebagaimana yang diajarkan oleh Prof. Rusdi Lamsudin kepadaku, saat kunjungan-kunjungan tak resmi ke rumah. “Mahasiswa itu harus kreatif  Gun. Harus kritis dan terus belajar beragumen berdasarkan logika yang jelas”.

Mungkin agak jahat juga jika aku mengatakan obrolan dengan Bapak Dosen Universitas Tanjung Pura Kalimantan Barat – Mahasiswa S3 Kimia UGM yang baru pertama kali berkunjung ke asrama itu sebagai “perdebatan. Agak lancang juga jika aku merendahkan kapabilitas beliau sebagai pendidik lulusan Unand, ITB, dan sekarang di UGM.

Ranah obrolan panasku berduet bersama dengan Da Edward – mahasiswa  Kehutanan UGM yang sama-sama berstatus mahasiswa tua – dengan Beliau terkait dengan posisi politis PKS. Awalnya beliau masih banyak diam. Kemudian setelah digiring pada ranah agama, ternyata terkuak, ternyata beliau sangat mengerti dengan alur yang terjadi di PKS. Tentang posisi Majelis Syura, kedekatan PKS dengan Demokrat, sampai ranah pernikahan antar sesama halaqah dakwah teman-teman Tarbiyah.

Perbincangan dimulai, dari kenapa PKS merapatkan diri kepada SBY, yang kalau kita pake paradigma bahwa keberhasilan membina rumah tangga adalah barometer seorang pemimpin, sangat tidak logis. PKS yang getol memperjuangkan jilbab kenapa berlapang dada menerima Ibu Ani yang notabene tidak berjilbab dan Boediono yang track record keagamaannya ngak jelas?? Seyogyanya melihat arah ideologis PKS, seharusnya mereka memberikan dukungan kepada JK-Wiranto.

Beliau menjawab, “PKS melandaskan pilihannya pada hasil survey adinda. Masyarakat memberikan dukungan mayoritas kepada SBY. Rasa-rasanya SBY tidak akan kalah. Apalagi ada AS di belakang”.

Awwwwwwww, langsung saja aku tersentak. Ku balas jawaban beliau, “kenapa harus tunduk pada opini masyarakat yang dibangun lewat survey Pak? Apalagi track record AS sudah jelas sebagai penjajah negeri ini? Kalau PKS mau, tentu lewat pesona keshalehan kader-kader mereka, masyarakat bisa dibujuk untuk mengalihkan pandangan JK-Win yang jelas-jelas menunjukkan identitas keIslaman?”

“Ini masalah strategi adinda. Cara PKS saat ini sudah dicontohkan oleh Nabi Yusuf yang menjadi menteri ekonomi di zaman Fira’un dahulu. Pada suatu saatnya nanti, waktu akan menjawab kesuksesan strategi PKS saat ini”.

Ku cuba alihkan pertanyaan, “kira-kira sekarang ini yang menjadi pembisik-pembisik yang paling didengar oleh SBY siapa Pak? Apakah rekomendasi orang-orang PKS punya posisi tawar yang kuat bagi SBY?”

Tentu think thank SBY banyak. Orang-orang dekat beliau banyak, dari banyak kalangan. Termasuk juga petinggi-petinggi PKS.”

Ku ajukan lagi pertanyaan memperjelas, “apakah suara orang-orang PKS didengar SBY pak? Sejauhmana SBY memakai pemikiran orang PKS? Jika strategi merapat ke Demokrat adalah bagian rencana merebut kekuasaan tahun 2014, kira-kira PKS punya kekuatan untuk menggulingkan penerus SBY ngak, yang tentunya akan dikader mulai detik ini agar sudah menjadi tokoh baru pada pilpres 5 tahun yang akan datang?”

“Kita lihat saja nanti. Sesungguhnya waktulah yang akan menjawab”.

Mendapatkan jawaban diplomatis seperti itu, aku semakin menggila. Untung saja da Edward menenangkan suasana dengan gaya kocaknya yang sangat intelek.

“Bagi saya Pak, PBB lebih mendingan daripada PKS dalam menegakkan syariat Islam. Itu bisa kita lihat dari betapa vokalnya kader-kader mereka ketika isu-isu syariah bergulir. Terus terang saya ragu dengan komitmen PKS yang saat ini sudah sangat berorientasi pragmatis mendapatkan jatah kekuasaan. Meski harus diakui, aspirasi umat Islam memang saat ini di tangan PKS sebagai Partai Islam yang menempatkan banyak kader di parlemen.”

Beliaupun bergumam, “itulah makanya, PKS ingin menyatukan umat Islam. Di PKS ada orang Muhammdiyah, Dewan Dakwah, NU, dan ormas-ormas Islam yang lain. Sudah saatnya kita menghentikan sentimen golongan toh, semua bermuara pada guru yang sama. Pendiri NU dan Muhammadiyah memiliki guru yang sama saat belajar di Makkah, Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. PKS dan PBB sama-sama menjadi anak ideologis Muhammad Natsir.”

“Jadi kita harus bernaungan di bawah payung Islam yang dibawa PKS pak??”, timbal da Edward yang juga sejak tadi memang sudah panas. Melihat pukulan telak dari Da Edward, kuserbu dengan pertanyaan, “apakah kita bisa menjustifikasi, PKS adalah anak ideologi Muhammad Natsir yang syah? Apakah PKS membawa Islam yang paling benar?”

Pertanyaan-pertanyaan itu, tak sempat terbahas dengan baik karena beliau lebih banyak memberikan jawaban-jawaban normatif dengan mencontohkan kisah-kisah pada zaman Rasul. Bukan tak ingin menghormati Rasulullah, bagiku Nabi Muhammad adalah manusia sempurna yang menjadi prototype manusia mulia. Menghubung-hubungkan sepak terjang PKS saat ini, menyiratkan ada klaim “kami adalah orang-orang baik yang mendekati Rasulullah.” Sebuah klaim teologis menyucikan diri sendiri. Sementara belum tentu sama apa yang dilakukan oleh PKS saat ini sama konteksnya dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah…

Tak ingin mendebat lebih jauh, apalagi berkonfrontasi argumen dengan tamu yang selayaknya dimuliakan, obrolan kami akhir berakhir dengan guyonan-guyonan renyah yang memang sudah menjadi spesialisasi anak asrama menunjukkan wajah-wajah bodoh biar orang tak tersinggung. Ahhhh, filsafat yang mengajarkan kekritisan telah membuatku gila ternyata. Menjadi anjing penjaga malam nan terus menyalak kala melihat bayangan-bayangan aneh yang menganggu ketentraman…

Iklan

4 thoughts on “Obrolan dengan Seorang Mahasiswa S3

  1. andai diskusi ini jg disimak oleh pegiat-pegiat PKS, syukurlah, supaya bisa jadi introspeksi. Pragmatisme (apalagi dalam kekuasaan) tdk akan memberi ruang bagi idealisme. Idealisme (Islam, seperti apapun yg ditasfirkan PKS) lah yang akan dikorbankan. Tidak percaya…waktu jualah yang akan membuktikan. Bersih, Peduli, Profesional atau justru kebalikannya…hahaha. Salam hangat dari warga negara yang ingin PKS kembali ke jalan yang baik dan benar, meski harus menjadi oposisi terhadap kekuasaan.

  2. mudah2an mas.. siapa tahu suatu kali ada petinggi pks yang nyasar di blog anak muda yang gila ini..

    ya, waktu yang akan menjawab semua, apakah strategi pks-lah yang menang, ataukah kekuasaan yang lain yang akan menguasai negeri ini..:)

    1. malam juga pak.. saya masih mahasiswa s1 pak.. cuma kalau sama pengurus pasca sarjana filsafat ugm saya kenal.. karena sering kuliah sama beliau..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s