Hatiku terenyuh ketika membaca berita yang dilansir oleh Padang Media dot com, banyak anak-anak yang turun ke jalan, meminta-minta kepada pengendara yang berlalu lalang. Mereka mengatakan, ini untuk membantu Ibu yang tak punya uang untuk kebutuhan sehari-hari. Anak-anak kecil nan masih lugu itu, telah begitu merasakan beban yang ditanggung oleh orang tuanya.

Sebuah fenomena yang tak kutemui ketika 2 bulan Kuliah Kerja Nyata di Bantul setelah gempa yang melanda Jogja tahun 2006 yang lalu. Aku tidak hendak menyoal lambannya pemerintah memberikan bantuan, karena memang penangganan bencana oleh kaum birokrat memang berjalan hierarkis dari atas ke bawah, lambat karena menunggu instruksi. Tapi aku begitu terharu dengan tangan-tangan mungil itu meminta-minta mengharap belas kasihan.

Anak-anak Minang yang begitu cepat menyadari kesulitan yang dihadapi oleh orang tuanya. Kata mereka, uang yang didapatkan 15-20 ribu setiap hari itu untuk membeli kayu untuk membangun rumah mereka yang luluh lantak. Dek, betapa hebatnya dirimu.

Airmata bercucuran, membaca kembali berita itu. Saat aku menuliskan tulisan ini, aku tak tak dapat menahan kepedihan. Mereka adalah adik-adik yang tak jauh dari kampung halamanku di Pariaman., jalan Sicincin – Lubuk Alung.

Tak ada apa-apanya yang bisa kulakukan di sini??? Meski bersama teman-teman mampu mengumpulkan uang 80-an juta dek. Jauh dengan keberanian dan kesabaranmu dek. Aku masih bisa makan seperti biasa. Masih bisa facebookan 24 jam. Sementara engkau di sana bergelap-gelap di kala malam. Cuma mengharapkan makan dari sumbangan. Ya, itupun tidak menentu.

Dek……… Aku tak tahu lagi harus mengatakan apalagi… Biarkanlah airmata bercucuran, tanda nurani masih bersemanyam di badan..