Menikmati angin malam di  Lintak Cafe pinggiran selokan mataram. Ya, kemarin malam ada acara penggalangan dana untuk korban gempa Sumatera Barat. Puluhan teman-teman asrama, teman-teman mahasiswa Minang yang kuliah di UGM dan ditemani oleh alumni asrama hadir dalam acara yang juga diliput oleh TV One, Jogja TV dan Kedaulatan Rakyat itu.

Baru mendekati jam 2 dinihari acara selesai. Setelah pemberian sumbangan secara simbolis, aku baru bisa pulang. Karena memang tak enak meninggalkan teman-teman Forkommi UGM (Forum Komunikasi Mahasiswa Minang UGM Jogjakarta) di tempat acara.

Kunikmati kebersamaan yang dirajut oleh teman-teman asrama dan teman-teman Forkommi. Semuanya padu, saling ngobrol tanpa ada gap lagi seperti dahulu. Ya, stigma-stigma negatif antar organisasi perlahan mulai dihilangkan. Karena semuanya dulu berawal dari kesalahpahaman. Aku sebagai senior di asrama, ingin dendam-dendam masa lalu antara asrama dengan Forkommi lebur. Apalagi setelah tahu ternyata Forkommi UGM didirikan oleh alumni asrama juga.

Menikmati angin malam nan sejuk dan beberapa bintang yang hiasi langit. Di tengah pengunjung yang begitu aneh bagiku. Gaya anak muda yang tak sanggup aku tiru. Pergaulan bebas antar cewek dan cowok. Pakaian cewek sepaha yang memabukkan pandangan. Ya, inilah gaya mahasiswa dan anak muda yang dikatakan gaul itu. Nongkrong berjam-jam di cafe, ngobrol sambil internetan. Ah, rasanya ini bukan duniaku.

Baru jam 14.30 ini aku terjaga. Setelah menjelang Dzuhur tadi aku terlelap karena tak dapat menahan kantuk. Kembali ku baca sms-sms balasan dari beberapa teman yang kukirimkan magrib kemarin. Sebuah pertanyaan “keputusasaan”.

“Keputusasaan” karena tak tahu lagi diri aku melangkah kemana. Didera oleh cinta yang tak pernah berlabuh.

Bagi saya mas Anggun adalah cowok yang berpribadi dewasa, cerdas dan santun. Kita ngak boleh mengeluh mengenai rupa. Dan kalau dipikir terus ngak ada selesainya. Orang menilai bukan dari rupa mas. Tapi dari hati.

Inilah salah satu sms yang barusan aku terima dari adik angkatan di Filsafat. Kata-katanya begitu membujuk hati. Ya Tuhan, ku coba renungi kata-kata itu. Apakah cara pandang “materialistik” telah mengisi pikiranku? Memandang kebaikan dari rupa saja. Meninggalkan pesona nan lebih berharga, kemuliaan hati.

Ah, betapa jauhnya aku tersesat dari jalan yang benar. Kayaknya, aku harus merefresh kembali otakku lewat pengajian. Karena sejak lebaran lalu, kering jiwa ini dari siraman hikmah Qur’an dan Sunnah. Kembali berefleksi, menatap masa depan…

Ayo Gun.. Bangkitlah.. Dirimu masih bisa berbuat yang lebih baik daripada terus mencaci diri sendiri dan mengeluh dengan keadaan di sekitarmu… Tak baik menghabiskan energi untuk memikirkan orang-orang yang tak seharusnya engkau pikirkan…

Aku hanyut dalam alunan suara Dorce Gamalama. Mengingat kampung halaman nan sedang berduka… Duhai Ranah Bundo, bukannya aku tak ingin pulang menjegukmu. Namun, aku harus meneruskan perjalananku di perantauan. Insya Allah, setelah diriku menjadi orang, akan ku jelang engkau dan ku bangun engkau sekuat kemampuanku…