Masih menunggu balasan sms dari Buk Septiana, dosen pembimbing skripsiku. Minggu yang lalu sudah janji sama beliau bahwa minggu ini aku akan maju seminar proposal skripsi. Tiada penghalang sebenarnya. Tinggal minta tanda tangan, terus lapor ke bagian akademik fakultas. Tapi pikiranku saat ini lagi ngak fokus. Mengkoordinir posko bantuan untuk gempa di kampung halaman, lebih menyita pikiranku. Karena tak sanggup aku menyaksikan sanak saudara di kampung halaman menderita dalam musibah. Ku cuba lakukan apapun yang ku bisa bersama teman-teman menggalang dana dengan cara apapun, asalkan halal meskipun dicibir oleh beberapa pihak sebagai tindakan kurang terhormat.

Ya, minta sumbangan di perempatan jalan diwanti-wanti oleh UGM kepada mahasiswanya. Kemarin pas kuliah siang, kulihat sendiri pengumuman resmi larangan itu di papan pengumuman bagian akademik. Sebelumnya, bapak-bapak dari Keluarga Besar Minang Yogyakarta juga mengecam aksi penggalangan dana bantuan gempa di jalan-jalan.

Namun, namanya mahasiswa tak mau dikekang oleh aturan apapun. Selama menurut alur pikir mereka bisa dijalankan dan tidak menganggu siapun, maka lakukan saja meskipun ada pihak-pihak yang melarang (toh semua hanya demi harga diri institusi dan organisasi). Meskipun agak nakal, aksi turun ke jalan yang kami lakukan mendapatkan izin dari Poltabes Yogyakarta. Ku pikir justifikasi dari kepolisian sudah cukup menjadi kekuatan yuridis. Apalagi, kepedulian penggendara motor di perempatan yang kami mintai sumbangan membuat kami terharu lagi bersemangat. Suatu kali, saat seorang teman meminta sumbangan di Perempatan Jombor, seorang anak kecil merogoh kantongnya mengambil uang untuk disumbangkan. Sementara sang Bapak anak itu terkejut, karena sebelumnya tak hendak memberikan sumbangan.  Pengalaman lain, suatu ketika di perempatan pinggit ada seorang ibu-ibu pemilik Hotel di Jalan AM. Sangaji mengajak teman-teman yang lagi minta sumbangan untuk makan siang di hotel kepunyaannya.

Bersama teman-teman Forkommi UGM, Asrama Merapi Singgalang, dan Asrama Putri Bundo Kanduang beserta relawan-relawan yang baik hati, aku akan terus menggalang dana untuk sanak saudara di kampung halaman. Karena inilah yang baru mampu ku lakukan. Hari ini, insya Allah sudah bisa ambil sumbangan dari Mirota Kampus dan Kupu-Kupu Malam.

Tiada yang diharapkan selain pahala dan senyum sanak saudara di tengah musibah yang mendera lewat penggalangan dana yang beberapa hari ku lakukan bersama teman-teman. Karena tiada bermakna hidup jika hanya mengurusi diri sendiri. Bukankah Rasulullah mengatakan “Sesungguhnya muslim yang baik adalah yang memberikan banyak manfaat bagi saudara-saudaranya”.

Ya Allah berikanlah aku kekuatan untuk membantu saudara-saudaraku, dan berikan juga aku kekuatan untuk menyelesaikan skripsiku. Ya Allah karuniakanlah kepadaku pekerjaan dan masa depan yang baik. Ya Rabb, masukkanlah diriku ke dalam surgaMu, bersama-sama para hamba-hamba pilihanMu… Amien.