Sayup terdengar dari kamar sebelah, sebuah hit dari Dewa 19, Kangen. Lagu yang begitu suka dibawakan oleh teman-temanku saat masih SMA sewaktu jam istirahat tiba. Selesai sudah aku sholat magrib, melepas beban pikiran karena seharian ini aku begitu emosi. Tadi sore sempat juga aku berlari dari asrama ke UGM untuk merefresh pikiran yang jenuh. Ya, sholat dan olahraga adalah beberapa cara yang kulakukan untuk meredam emosi, selain mendengarkan lagu dari Kak Siti Nurhaliza.

Astaghfirullah al ‘Aziim… Ya Allah.. Mengapa aku mudah terbawa su’udzon beberapa hari ini. Tadi pagi sebuah nasehat yang teramat berharga dari Dosenku yang baik di facebook, kuanggap sebagai serangan? Mengapa aku terlalu mudah menyimpulkan sebait kalimat, tanpa kurenungi terlebih dahulu? Ya Allah, kepadaMu hamba minta ampun.. Kepada manusia, hamba minta maaf.


Amarah yang berkelindan di kepala, telah pula melahirkan sebuah tulisan “KAMU IDIOT” yang kuposting tadi pagi di blog ini. Berawal dari status yang ku tulis di facebook:

alhamdulillah.. pengunjung blog kemarin 772 orang…… semangat menuju tangga 1000…

Dosenku yang baik, karena perhatiannya kepadaku menuliskan sebuah komen:

“tidak perlu jd idiot telanjang (dan konyolnya) bangga utk mendongkrak pengunjung ..hehe”

Aku yang lagi tak stabil, mengira komentar Bapak Dosenku itu sebagai sindiran sinis atas blogku. Karena memang aku secara vulgar menuliskan apa yang kurasakan dan kisah percintaan secara gamblang. Kupikir inilah ketelanjangan. Aku shock ketika membaca komentar beliau. Amarahku naik, tak terima dikatakan idiot lagi konyol. Tulisan di kategori Diari Hati yang melankolis memang menaikkan rating pengunjung blogku. Pikiran pendek membuatku mengira beliau, Dosenku yang baik itu, sedang mencibir diriku.

Astaghfirullah… Ternyata tidak… Beliau sedang punya alur pikir lain setelah membaca blog lain. Kemudian menuliskan kalimat idiot itu di status facebookku. Siang hari tadi, baru kusadar, ternyata beliau sedang menyindir aksi Joko Anwar yang rela tampil bugil hanya karena menaikkan statistik twitter-nya, sebuah mini blog yang sekarang lagi booming.

“Anggun,maksudku ini http://www.facebook.com/l/277b7;hotxlah.com/tag/twitter-joko-anwar” …

Arrrrrrggggggggggggg… Aku linglung… Ternyata beliau tak mengalamatkan kata-kata itu kepadaku… Aku sudah salah mengerti…

Dosenku yang baik itu kemudian menuliskan komentar panjang diblog ini, yang membuatku aku terpukul.. Merasa teramat bersalah, karena terlalu terbawa amarah….

Ya Allah Anggun…maafkan saya. Salah paham anakku. Kalimat itu bukan untukmu. Sejatinya utk ingatkan kita ttg kejadian cukup heboh bbrp hari berselang di Jakarta sana. Ttg sorang lelaki terkanal dikagumi banyak orang yang berjanji akan telajang di tempat umum jika twitternya mencapai jumlah pengikut sekian.Terkabul nazarnya, dipenuhi janjinya. Comentku (tidak perlu jd idiot telanjang (dan konyolnya) bangga utk mendongkrak pengunjung..hehe). Justru pesan comentku adalah blogmu bagus isinya krn itu , tanpa telanjangpun, banyak pengunjungnya. Maksunya sambil canda juga, makanya ku tambah hehe.

Tapi bagaimanapun saya akui kalimat saya memang negatif, meski sungguh saya sadari tidak dengan emosional saya menulisnya, tapi tetap saja mamang kurang baik akibatnya . Saya akui salah, mohon maaf, dan ijinkan saya delete comment itu.

Dan saya tidak pernah brusaha mematikan potensimu..sama sekali. Dan insyaallah tidak juga potensi siapapun..bahkan, saya termasuk salah satu pengunjung rutin blogmu itu.
Oiya, ha ini tujuan sebenarnya saya ke FBmu kemaren, melanjutkan obrolan kita dulu hendak mengabarkan berita baik. Alhamdulilah saya mulai konsultasi risetnya, Insyaalah dan mudah2an semester musim dingin ini sudah formal masuk universitasnya. Doakan semoga lancar, selamat, berkah dan bermanfaat.

Ya Allah.. Bagaimana aku harus minta maaf.. Bagaimana aku harus mengembalikan silaturrahmi yang telah terkoyak ini… Gejolak yang timbul karena salahku sendiri… Pak, dengan kerendahan hati, aku minta maaf setulus-tulusnya… Karena salah menduga, telah membuatku hilang kesadaran tak lagi bisa membedakan mana yang cemoohan, mana nasehat berharga.. Mudah2an ada maaf dari Bapak, untukku mahasiswa yang mesti banyak belajar karena minimnya pengalaman hidup… Pak, maafkan anakmu ini… hiks…