Sebuah Maaf


Beberapa gadis mengumpat diriku. Mencap diriku sebagai playboy cap kabel. Mereka merasa sudah mendapatkan hatiku, meskipun hanya lewat telpon atau situs virtual. Mereka seolah-olah telah menjadi sosok spesial diriku. Status sebagai mahasiswa UGM memang telah menyilaukan mata. Padahal perkenalan baru sebatas di dunia maya.

Aku tertipu dengan penampilan mereka lewat foto-foto yang memang mudah dimanipulasi di tengah zaman serba canggih sekarang ini. Yang hitam bisa jadi putih. Dengan pengambilan gambar yang mahir, sisi jelek tertutupi dengan jitu.

Ha2.. Ha2.. Benarlah kata beberapa Filsuf Rasionalis, “jangan percayai apa yang engkau lihat dengan inderamu”. Mata sering tertipu, apalagi hati yang begitu mudah simpati, tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.

Dalam postingan “Prasasti Cinta” yang kutulis beberapa waktu yang lalu, 3 nama yang kusebutkan bukanlah kutemui lewat dunia maya. Greaty kutemui pertama kali di kelas 2 SMP, sampai akhirnya 3 tahun bersama karena satu SMA.  Liza, gadis bersuara merdu yang ku temui pertama kali di Jogja. 4 tahun kami berinteraksi, karena sama-sama tinggal di asrama milik Pemda Sumatera Barat di Jogja. Sedangkan Ivana, ku jumpai pertama kali tahun 2006 dalam momen latihan dasar kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Interaksiku dengan Ivana intens di keinstrukturan IMM sampai pertengahan tahun 2008.

Saat ini, Greaty dan Liza sudah bertunangan. Sementara Ivana tanggal 26 September yang lalu melangsungkan pernikahan di Wonosobo. Ivanalah pamungkas kepercayaanku kepada cinta. Setelah itu, bagiku cinta tak lebih mainan perasaan dan kata-kata.

Kecantikan dan kecerdasan Greaty, kedewasaan dan talenta Liza, kelembutan dan kesabaran Ivana hanya bisa kutemui pada sosok Anna Althafunnisa. Tokoh imajinatif yang dibuat oleh Habiburrahman Al Shirazy dalam novel Ketika Cinta Bertasbih.

Makanya, teramat sering aku mengimpikan Anna, gadis kayangan yang entah dimana keberadaannya. Igauanku kepada Anna, hanyalah penghibur luka dari sakit yang telah membunuhku perlahan sekian tahun lamanya. Meredam emosiku yang tak stabil, daripada menjadi gila dilanda putus asa.

Karena itu, aku hanya bisa minta maaf kepada dikau yang telah merasa ku perhatikan. Menyangka aku menyintai. Tanpa pernah bertanya nama yang terpatri indah di hatiku. Insan-insan yang kutemui dan bergaul secara nyata denganku. Bukan sekedar angan dan ekspresi imajinasi belaka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s