Kita tentu layak menyampaikan terima kasih sedalam-dalam kepada Metro TV dan TV One yang terus menyampaikan eksklusif “Breaking News Gempa Sumatera Barat”, mengingat “memori pendek” yang diidap oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Tayangan terus-menerus korban Gempa mengugah masyarakat untuk bersimpati dan berempati dengan musibah ini. Terlepas dari indikasi motif politis dari pemilik 2 stasiun berita ini, kita layak memberikan perhargaan sedalam-dalamnya di tengah kembali tv-tv yang lain ke “khittah”-nya, menanyangkan siaran-siaran hedonis lagi penuh kemaksiatan.

Seiring berjalannya waktu, dan momen-momen penting seperti pemilihan ketua umum Golkar, konflik KPK dengan Polri, seremoni pergantian presiden dan wakil presiden, tarik-ulur kursi kabinet, ataupun kisah-kisah yang lain akan segera hadir menghiasi televisi. Lambat laun durasi berita Gempa Sumbar yang boleh dikatakan disiarkan 24 jam sampai hari 5 pasca gempa, akan berkurang. Masyarakat akan beralih kepada berita-berita baru, sementara bencana gempa menjadi berita usang.

Hal ini perlu kita cermati agar tidak terjebak dalam solidaritas sesaat. Karena pemulihan korban gempa bukanlah kerja ringkas satu atau dua minggu. Apalagi masih banyak daerah-daerah yang sampai hari ini belum menerima bantuan sama sekali. Butuh waktu 2-3 bulan untuk aksi cepat tanggap. Dan butuh juga waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk pemulihan baik psikologis maupun infrastruktur.

Peran media sebagai pengatur lalu lintar berita sangat mempengaruhi paradigma masyarakat. Impresi-impresi membangkitkan empati perlu terus ditayangkan agar masyarakat tetap tersentuh, sehingga korban bencana tidak terlupakan.

Sangat penting bagi pengambil kebijakan untuk membuat langkah-langkah strategis, agar penggalangan dana 2 minggu pasca gempa yang tentunya masih mengalir deras. Agar bisa dikelola dengan baik, tidak habis untuk tahap pertama saja.