Dan, jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka, sudah sepantasnya berlaku perkataan (ketentuan Kami)… QS 17 (Al-Isra) ayat 16

Inilah ayat Al Qur’an yang beberapa hari ini tersebar luas di kalangan masyarakat terutama masyarakat Minangkabau yang barusan ditimpa musibah gempa berkekuatan 7,6 richter. Sampai-sampai cendikiawan sekaliber Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif mengangkat ulasan tantang ayat ini di rubrik Resonansi Republika edisi  Selasa 6 Oktober 2009. Surat ke 17 ayat 16 kemudian dihubungkan dengan waktu kejadian gempa yang berpusat di barat laut Pariaman yang terjadi pukul 17:16.

Kembali aku teringat dengan salah satu ceramah Ramadhan di Masjid Kampus UGM beberapa waktu yang lalu. Sang Ustadz menyampaikan, “berapa sih di antara kita yang mau merujuk kepada Al Qur’an ketika ditimpa musibah?”. Jika memang benar ayat ini punya kaitan dengan gempa yang terjadi pada tanggal 30 september yang lalu, agaknya masyarakat Minang perlu merenungi ayat “kemurkaan Allah ini”.

Namun,  keinsyafan belum sepenuhnya mengisi hati masyarakat Minang. Masih ada orang-orang mengambil kesempatan di atas kesulitan yang diderita oleh saudara-saudara mereka. Padang Media melaporkan aksi tak punya belas kasihan ini di situsnya. Mie dan bensin dijual dengan harga tak wajar. Sewa mobil naik dua kali lipat dari biasanya. Padahal digunakan untuk mengantar bantuan dan relawan.

Sifat pedagang orang Minang memang sudah terkenal dimana-mana. Tapi apakah elok mengais keuntungan berlipat-lipat? Apalagi di tengah-tengah bencana yang membutuhkan pendekatan rasa, bukan laba.

Tiada suatu musibah yang terjadi, kecuali Tuhan melihat manusia telah melewati batas.  Teguran keras Tuhan melalui gempa, agaknya sudah cukup bagi masyarakat Minang untuk kembali merenungi tatanan sosial dan adatnya. Merenungi kembali arus materialisme yang sudah menjadi berhala yang dipuja-puja oleh orang Minang. Mengukur kesuksesan dan keberhasilan dari kekayaan materi. Penyakit yang tidak saja menjangkiti masyarakat awam Minang, tapi telah bersemanyam di kepala intelektual Minang yang bergelar Professor Doktor.

Pemulihan gempa tidak cukup sekedar pemulihan bangunan dan rehabilitasi infrastruktur. Tapi lebih dari itu, pemulihan karakteristik menjadi penting. Musibah sesungguhnya datang dari Allah. Tentu Allah pula yang menjadi tempat kembali agar kita bisa kembali bangkit dan membangun ranah tercinta. Tanpa keinsyafan akan dosa dan kesalahan, sepertinya musibah ini hanya permulaan dari musibah-musibah yang sangat mungkin terjadi di masa yang akan datang.