Baru malam dinihari ini aku bisa kembali menyapa pengunjung dengan postingan terbaru. 2 hari ini pikiran tak jelas, tak menentu. Apalagi  kemarin sore, setelah ku dengar berita gempa dasyat yang melanda tanah kelahiranku. Orang tua dan keluarga tidak apa-apa. Tapi rumah di Pariaman hancur berantakan.

Tadi pagi,  sakit kembali mendera kepalaku. Sejak bangun sampai siang saat sholat dzuhur. Setelah sholat, sakit berangsur pulih. Bisa juga kukemudikan sepeda motor, meluncur ke Mirota Kampus. Membicarakan kerjasama bantuan gempa dengan asrama. Alhamdulillah, mou disepakati dan mulai besok penggalangan untuk gempa Sumatera Barat sudah berjalan di Mirota Kampus.

Tadi sore, balik dari Gramedia untuk membuat stempel asrama, aku dikejutkan dengan kedatangan Kru Metro TV di asrama. Ada mbak Lalita Ganda Putri, repoter Metro yang sering tampil untuk laporan DIY-Jateng, bersama mas Wahid. Ya, sejak bertemu langsung saat nonton bareng Debat Capres-Cawapres di kantor Golkar DIY beberapa yang lalu, aku jadi ngefans sama mbak lulusan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu. Bareng teman-teman asrama, cukup lama juga kami ngobrol dengan mereka.

Ya, Metro tak ingin kehilangan momen dalam bencana gempa Sumbar. Tak mau kalau up to date dari TV One. Persaingan dua TV swasta nasional yang sama-sama terjun menjadi TV berita ini, semakin kuat menjelang pemilihan Ketua Umum Golkar yang akan diadakan pertengahan oktober ini. Breaking News Gempa Sumatera Barat tak lagi sekedar suguhan berita, namun telah menjadi pertarungan merebut simpati publik, yang berujung pada popularitas masing-masing pemilik TV, Surya Paloh dan Abu Rizal Bakrie.

Persaingan ingin menunjukkan prestasi itulah yang kulihat dari pembentukkan panitia Peduli Bencana Masyarakat Minang Yogyakarta. Egoisme juragan dipertunjukkan oleh panitia inti yang diisi oleh bos-bos Minang yang bedagang di Malioboro. Hingga kami sebagai mahasiswa dianggap tak lebih sebagai pembantu-pembantu mereka di rumah. Padahal kami punya tidak digaji sedikitpun oleh mereka. Kami punya harga diri dan pemikiran sendiri.

Anehnya, amanah mengemban bantuan ummat untuk Gempa Sumbar ini, diserahkan kepada orang-orang yang bertanggung-jawab atas penyelewengan uang Gempa Jogja tahun 2006, dan Gempa Sumatera Barat tahun 2007. Apa bapak-bapak Professor doktor yang menunjuk panitia ini telah lupa dengan sejarah, karena kepikunannya?? Ah entahlah…

Tak mau terlibat jauh dengan trik dan intrik panitia itu, akupun mengompori teman-teman untuk jalan sendiri. Status sebagai mahasiswa UGM cukup kredibel untuk mencari bantuan sendiri dan disalurkan sendiri. Anak muda harus terdepan. Tak lagi menjadi orang-orang suruhan yang letih dalam kerja-kerja teknis. Di kampus kita diajarkan untuk melahirkan ide-ide kreatif. Ketika pemikiran kita diacuhkan oleh juragan-juragan yang kebetulan dikasih kuasa, apa salahnya kita juga mengacuh omongan mereka… Emang siapa sih lu??? Bukan lu yang ngasih makan gue.. and bukan lu juga yang bayar uang kuliah gue..

So, kawan-kawan.. Mari kita bergerak bersama atas nama mahasiswa.. Yang indenpenden.. Lepas dari intervensi juragan-juragan pongah lagi sok jadi raja.. Lawan otoritarianisme.. Hidupkan semangat egaliter. Kita anak-anak muda terpilih dari sekian juta anak-anak negeri ini.. Saatnya kita tunjukkan taji, bahwa kita bisa berbuat lebih.. Semangat.. Insya Allah lewat do’a dan sholat malam, Allah akan membimbing langkah kita.. Amien..

Mengikuti perkembangan berita, tidaklah mengapa. Tapi jangan sampai teracuhkan adzan oleh siaran gempa di TV. Gempa memang telah meninggalkan kepedihan mendalam. Tapi jangan tambah kemurkaan Tuhan dengan mengacuhkan ibadah dan perintah. Tetap bersikukuh melakukan kemaksiatan. Sombong, terus ingin mendatangkan Miyabi, artis porno ke negeri ini. Mau menantang Tuhan bagaimana lagi??? Apakah belum cukup tsunami, gempa tahun datang tiada berhenti??? Apakah kiamat saja, yang membuat kita baru tersadar akan kepongahan diri???

Musibah adalah cobaan bagi mereka yang masih mendahulukan hati nurani. Kemurkaan Tuhan bagi yang terus berbangga mendzolimi. Tinggal kita mau memilih apa. Hendak meninggal dengan husnul khatimah, atau su’ul khatimah… Tinggal pilih…….