Di Forum G-20, Presiden SBY hendak membanggakan keberhasilannya MENAIKKAN BBM dan PENGENTASAN KEMISKINAN LEWAT BLT. Tentu pujian dan sanjungan dari pemimpin-pemimpin negara adidaya menjadi harapan SBY. Karena legitimasi internasional sangat penting bagi SBY dalam meluaskan pesonanya dalam kancah forum-forum dunia. Kalau di Indonesia jangan ditanya lagi. Keberhasilan memperoleh angka di atas 60% saat Pilpres kemarin sudah menjadi bukti nyata popularitas SBY di mata rakyat Indonesia.

Kenapa kenaikan BBM yang tak menimbulkan gejolak yang berarti perlu dihoyak oleh SBY? Memakai analisis Uda Revrisond Baswir Pakar Ekonomi UGM lulusan AS, maka kenaikan BBM merupakan rapor hijau berangka 9 di mata “Tuanku Amerika Serikat dengan Sekutu-Sekutunya di IMF”. Kenaikan BBM merupakan langkah jitu memberangus ideologi ekonomi kerakyatan yang sangat dibenci oleh mbah-mbah kapitalis dan neo liberalisme.

Pengentasan kemiskinan lewat BLT perlu pula disorak-soraikan SBY di forum G-20, karena juga menjadi catatan penting yang membuat tersenyum para penguasa yang sekarang menguasai politik – ekonomi dunia. Pertama, ini adalah indikasi peluang market yang besar untuk mereka menggelontorkan lebih banyak lagi produk di Indonesia. Kedua, pemberian BLT adalah keberhasilan pemerintah melanggengkan mental “pengemis” yang menjadi ciri khas psikologi bangsa terjajah.

Apa yang diharapkan oleh SBY dari kampanyenya itu? Tak lain dan tak bukan adalah keuntungan materi dan pelanggengan kekuasaan. Dekat dengan negara adikuasa dan IMF berarti aliran dana akan lancar. Maklumlah, sekarang pemerintah memang butuh dana setelah menstabilkan perbankan dan SBY-pun kelimpungan karena sudah berhabiskan banyak uang untuk pemenangan Pemilu. Menjadi anak emas penguasa negara adikuasa membuat jabatan akan langgeng. Karena siapapun tahu, orang yang tidak diinginkan oleh AS untuk menjadi pemimpin di Indonesia akan digulingkan dengan segala cara.

Ketika Tuanku negara adikuasa sedang kesulitan, maka Abdi Dalem-pun segera memberikan bantuan. Bank disehatkan, perbankan dan pasar saham distabilkan agar Tuanku dapat terus bernafas dan berjalan.

Termasuk wacana perluasan pembagian kekuasaan di IMF. Kalau ekonom Umar Juaro mengatakan ini adalah bentuk “keinsyafan negara adidaya atas keserakahan dan ketamakannya selama ini“. Tapi saya lebih cendrung dengan analisis Media Indonesia yang melihat pelebaran kekuasaan di IMF sebagai “langkah strategis membagi beban AS dan negara-negara Eropa terkait resesi ekonomi saat ini untuk berbagi masalah dengan anggota G-20 lainnya”.  Dan Indonesia menjadi penolong penting, karena masih menyimpan potensi sumber daya alam amat banyak untuk dieksplorasi lewat kontrak-kontrak baru-baru perampasan harta anak negeri.

Hah, beginilah nasib negeri ini. Di dalam negeri dipusingkan oleh persoalan korupsi, sementara di luar negeri menjadi sapi perahan “negara-negara bergigi.”

Untung saja, rakyat negeri ini begitu sabar, bahkan teramat sabar. Mereka tak pernah menyerah untuk terus berusaha mencari sesuap nasi untuk melanjutkan hidup. Jarang di antara mereka yang putus asa lalu memutuskan bunuh diri. Karena mereka percaya, inilah takdir Tuhan yang tak pantas diomeli. Jika Tuhan menghendaki, tentu keadaan akan berubah, berbalik arah. Kembali menegakkan kejayaan Atlantis yang dulu digapai nenek moyang mereka.