8 Miliar lebih, donasi pemirsa berhasil dikumpulkan TV One untuk bantuan Gempa Jawa Barat yang terjadi beberapa minggu sebelum Ramadhan 1430 H yang lalu. Belum lagi yang didapatkan oleh lembaga-lembaga lain yang juga membuka rekening kemanusiaan. Mungkin kisarannya mencapai pulusan atau bahkan ratusan miliar.

Infak, zakat, dan sadaqah diumumkan oleh panitia sholat hari raya, baik di masjid maupun di lapangan. Sementara orang-orang kaya yang tak percaya kepada lembaga-lembaga ZIS, membagikan sendiri kekayaannya kepada “orang-orang miskin”.

Kala lebaran tiba, banyak yang berjibun membeli tiket pesawat, kapan, bis, maupun kereta untuk berhari raya dengan sanak saudara. Masih penuh mall dan pasar hingga omzet melonjak dari hari biasa. Menyuguhkan makanan-makanan enak kepada tetamu yang berkunjung silaturahim di hari raya.

Artinya, masih banyak orang dermawan di negeri ini.  Empati kepada yang ditimpa kesulitan, berbagi dalam kebersamaan masih menjadi budaya bangsa ini. Para pengemis masih bisa tersenyum lega, makan ayam tiap hari karena para perderma masih ringan mengeluarkan uang didorong rasa iba.

Di sisi lain, jutaan putra-putri terbaik bangsa ini berhasil menyandang gelar sarjana dari berbagai bidang keilmuan dan perguruan tinggi yang tersebar di nusantara. Tiap tahun, 2000 ribu lebih siswa-siswi pilihan negeri ini berangkat menuntut ilmu di Universitas Islam tertua di dunia Al Azhar Mesir. Belum lagi yang bersekolah di Saudi Arabia, Malaysia, Inggris, Amerika, Australia, Belanda, Jerman, dan penjuru dunia lainnya.

Ratusan Ribu doktor dan professor mengisi jabatan birokratis dan ruang akademis. Bahkan, salah satu partai yang mengklaim diri sebagai partai nan bersih, berbangga dengan 1000 kader dengan gelar doktor.

Orang baik, orang sholeh, orang pintar banyak mendiami negeri ini. Kekayaan alampun melimpah. Cuaca dua musim nan indah. Sepanjang tahun diberi anugerah dengan sinar mentari yang menumbuhkan berbagai macam tanaman dan buah.

Soal isi perut bumi, jangan ditanya. Minyak, batubara, timah, tembaga, emas, intan permata, hingga gas pun ada. Tak hanya di daratan. Di lautpun berjuta sumber daya menjadi harta yang tak ternilai yang siap dieksplorasi kapan saja.

Sungguh, apa lagi yang kurang dengan negeri ini??? Tapi mengapa korupsi menjadi menggurita, menjadi mainan keseharian penguasa. Banyak Orang kelaparan masih dijumpai pula???

Orang-orang baik hanya diam membisu menyaksikan Sang Raja dan koleganya berpesta pora. Karena tak tahu dengan apa cara apalagi menyadarkan Sang Raja nan bertahta setelah mendapat kuasa dari rakyat jelata. Rakyat yang terpesona dengan pesona kegagahan dan wibawa fatamorgana. Hingga tak sadar lagi bahwa tangan telah terluka, disayat pisau kekuasaan. Agaknya suara merdu Sang Raja nan amat santun telah menidurkan mereka dalam buaian mimpi indah.

Sementara para anjing penjaga tak mau kehilangan muka. Merekapun berteriak mengelu-elukan Sang Raja. Menyalak, menakuti-nakuti Para Pahlawan yang berontak tak rela menjadi budak. Menjilati-jilati kaki Yang Mulia, kala dielus-elus kepalanya. Makananpun terhidang, sebagai hadiah  setelah bekerja dengan baik menjaga muru’ah Sang Majikan.

Entah dimana logika dan agama??? Sulit mencari idealita surga yang diperintahkan Tuhan untuk digejewantahkan dalam realita. Akal sehat diberondong senjata memabukkan, harta dan kuasa.

Duhai, betapa malangnya nasib rakyat negeri ini. Hidup bagai cerita telenovela. Menikmati realita semu, bagaikan Manusia Goa. Tidur dalam mimpi indah. Menertawakan orang-orang terjaga, kenapa letih-letih begadang tapi tetap sengsara???

Ah, apakah yang bisa membangungkan… Adakah harapan kepada Tuhan nan maha Terjaga?? Sementara, kemaksiatan dan kedzoliman mengalir deras bak air terjun Niagara… Sungguh, negeri nan malang…

Iklan