Gadis manis itu bernama Yulia. Mahasiswi  Jurusan Sejarah Universitas Andalas Padang. Dia tampak seperti mahasiswa kebanyakan. Berpakaian sederhana, di tengah kampus Unand yang hedonis.

Jurusan Sejarah bernaung di bawah Fakultas Sastra Unand. Termasuk jurusan “pinggiran” yang tak begitu dilirik oleh lulusan Sekolah Menengah Atas. Tak hanya itu, banyak orang tua yang “gengsi” kalau anaknya kuliah di Sejarah yang dianggap bukanlah jurusan prospektif.

Begitu pula yang dirasakan oleh Yulia di rumah. Keluarga besarnya menganut paham “mahasiswa yang hebat adalah yang bisa kuliah di jurusan-jurusan favorit seperti Kedokteran, Teknik, Hukum, Ekonomi”. Sampai-sampai Yulia diperlakukan inferior oleh Bapak dan Ibu-nya. Dalam pertemuan-pertemuan keluarga, ia lebih banyak diam karena yang menjadi bintang pembicaraan adalah sanak saudaranya kuliah di Kedokteran, Teknik dan Ekonomi.

Ketidakpercayaan diri Yulia kuliah di jurusan Sejarah mulai nampak, meskipun ia sangat suka mempelajari Sejarah. Hingga beban psikologis itu diketahui oleh salah seorang dosennya, yang dulu menjadi aktivis pergerakan di tahun 80-an. Kedekatan Yulia dengan sang Dosen semakin intens. Lama bergaul, sang Dosen melihat bakat literer dalam diri Yulia. Beliaupun kemudian menyemangati untuk membuat tulisan sekaligus membimbing Yulia dalam pemilihan judul dan  pemilihan diksi yang baik. Beberapa tulisan berhasil dirampungkannya. Tinggal dikirim ke media.

Beberapa minggu kemudian, tulisan Yulia dimuat pada salah satu surat kabar terkenal Sumatera Barat. Minggu berikutnya giliran cerpennya dirilis media. Kepercayaan diri Yuliapun timbul, hingga ia memberanikan diri membuat opini yang mengkritisi kebijakan Gubenur Sumatera Barat.

Sementara itu, di kantor Bapak-nya, Yulia menghebohkan seisi ruangan. Bapak Yulia dipuji-puji dengan prestasi anaknya bisa tampil di koran. “Wah Pak, anaknya pintar ya. Pasti rajin ya belajar di rumah… Kalau saya punya sepinter Yulia, sudah saya penuhi segala kebutuhannya Pak.”

Saat opini mengkritisi Gubenur naik cetak, Yulia semakin santer menjadi buah bibir orang sekantor. Sang Bapak hanya bisa tersenyum kecut bercampur rasa bersalah, karena di rumah ia memarjinal Yulia dibandingkan saudara-saudaranya.

Yuliapun tiada pernah membicarakan kesuksesannya menembus media massa kepada keluarga. Ia tetap seperti biasa, beraktivitas seperti biasanya.

Suatu ketika, sang Bapak menemui Yulia di kamarnya. “Lia, kita ke toko komputer yuk”.. “Ngapain Pa?”… “Ya, beli komputer lah”… “Buat siapa?”… “Buat Lia… Kalau Lia lebih suka notebook atau pc?… “Kalau Lia sih pingin notebook Pa.. Tapi apakah tidak kemahalan?”… “G pa2.. Ayuk sekarang kita berangkat.”

Tulisan-tulisan kritis dan tajam Yulia hadir dari PC yang dipinjamkan oleh Dosennya yang baik itu. Awalnya, Yulia masih segan memakai komputer sang Dosen. Tapi, melihat ketulusan hati sang Dosen, Yuliapun tak canggung lagi.

Yulia bangkit dari keterbatasan fasilitas dan keadaan terpinggirkan. Untuk membuat tulisan ia menumpang mengetik di ruangan dosen. Statusnya sebagai mahasiswa Sejarah, tak dianggap oleh keluarga sendiri.. Tapi berkat kegigihan dan semangat ingin membuktikan “Saya bukan Mahasiswa Biasa”, akhirnya Yulia bisa berprestasi menjadi penulis muda terkenal di Sumatera Barat. Sementara, saudara-saudaranya yang kuliah di Teknik, Ekonomi, dan Kedokteran hanya menjadi mahasiswa biasa. Hanya menjalani rutinitas kuliah dengan IPK biasa-biasa saja.