Alkisah, di tahun 80-an seorang pengusaha sukses ingin mengembangkan bisnisnya dengan mendirikan Bank Perkreditan Rakyat. Modal yang disediakan 5 Miliyar, angka yang sangat besar kala itu. Diterbitkanlah publikasi lowongan mengisi beberapa posisi lewat berbagai media. Tentunya posisi yang paling dicari adalah kandidat Direktur yang akan mengemudikan bisnis baru ini. Kebetulan BPR masih menjadi unit usaha yang langka ketika itu.

Setelah melewati berbagai test, tinggallah 5 orang kandidat Direktur. Satu lulusan MBA universitas lokal ternama, satu lulusan MBA Filipina, dua orang lulusan Ekonomi universitas lokal ternama, dan satu sarjana filsafat UGM. Satu per satu masuk ke ruangan wawancara. Di dalam sudah menunggu sang pemilik modal, dan psikolog yang dikontrak khusus untuk seleksi.

Dua orang bertitel MBA memaparkan konsep yang akan ia lakukan dengan uang 5 Miliyar itu. Dua sarjana ekonomi mencoba menyakinkan pemilik modal dengan kajian-kajian ekonomi yang telah mereka pelajari baik di bangku kuliah maupun pengalaman bekerja di beberapa perusahaan.

Tibalah giliran sarjana Filsafat masuk ke ruang wawancara. Sang pemilik modal membuka form data diri pelamar yang sedang duduk di depannya. “Anda alumni filsafat?”…. “Benar Pak”… “Apa pengalaman anda di bidang bisnis?” …. “Belum ada sama sekali Pak.”…. “Trus, kenapa anda berani melamar jadi Direktur untuk bisnis BPR saya?”.. “Saya yakin mampu memimpin usaha ini Pak”… “Ah, anda ini bercanda… Anda tahu, uang yang akan saya investasikan untuk pendirian BPR ini 5 Miliyar… Bagaimana saya akan mempercayakan uang sebanyak ini kepada orang yang bukan berlatar belakang ekonomi, tak punya pengalaman bisnis lagi… Bisa hilang sia-sia uang saya”...

Sarjana Filsafat UGM itu, menenangkan diri. Menghela nafas, tanpa sedikit gentar dengan pertanyaan menohok dari Pemilik Modal. “Begini Pak, maaf sebelumnya.. Saya tidak akan melamar menjadi Direktur kalau saya tidak yakin dengan kemampuan diri saya sendiri. Saya memang tidak pernah berbisnis dengan modal 5 Miliyar. Jangankan 5 miliar Pak, 500 juta pun belum… Tapi saat menjadi mahasiswa dulu saya pernah memimpin 50.000 orang turun berdemontrasi.. Aksi berlangsung damai, tanpa anarkis sedikitpun… Menurut Bapak mana yang lebih susah mengelola orang 50 ribu dibandingkan mengurus uang 5 Miliyar??”

“Okey, jika saya serahkan uang 5 Miliyar kepada anda, kira-kira apa rencana anda??”… “Ya, akan saya kembangkanlah Pak… Tapi untuk plan yang lebih rigid saya belum bisa menyampaikan sekarang… Bertemu dengan calon nasabah saja belum… Nasabah yang akan dihadapipun, saya belum tahu karakternya seperti apa???…”

“Ah anda terlalu banyak berapologi…”… “Tidak Pak, saya berbicara apa adanya… Yang akan saya kembangkan bukan sekedar uang Pak… Uang 5 Miliyar itu kecil.. Amat sedikit… Mengembangkan Bank Perkreditan Rakyat itu tidak hanya mengurusi uang Pak… Ada Rakyat yang menjadi sentra pengembangan bisnis ini. Dan saya memiliki kemampuan mumpuni untuk mengorganisir orang.”

“Saya heran, tanpa pengalaman yang mumpuni dalam bisnis, anda begitu percaya diri dengan kemampuan anda???…. “Pak, saya ini lulusan terbaik dari universitas terbaik… Yang tentunya akan melakukan apapun yang terbaik dalam hidup saya”….

Wawancarapun diakhiri… Sang pemilik modal dan Psikolog yang menginterview ngak habis pikir dengan kepedean alumni Filsafat UGM itu. Jawaban-jawaban aneh, jauh dari jawaban-jawaban yang diberikan oleh kandidat-kandidat sebelumnya… Tapi di balik itu, ada kekaguman pada anak muda yang saat jadi mahasiswa terkenal sebagai aktivis itu… Hingga Sang pemilik modal memutuskan anak muda lulusan Filsafat UGM-lah yang dipilih menjadi direktur BPR.

Satu bulan pertama, Sang Pemilik Modal  terus memonitor kerja Direktur BPR-nya. Tiap kali mendatangi kantor direktur, tiada ia temui alumni filsafat itu di ruangan… Terbitlah emosi sang Pemilik Modal. Suatu hari Direktur dipanggil… “Mas, anda ini bagaimana? Setiap kali saya cek di kantor, anda tidak keluyuran entah kemana….”… “Jangan marah dulu pak… Saya bukan keluyuran, tapi sedang mendampingi petani-petani nasabah kita di desa.. Bagi saya jadi direktur itu bukan hanya duduk saja di kantor menunggu laporan dari bawahan… Tapi harus terjun langsung melihat bagaimana modal yang telah kita berikan kepada nasabah dikelola…”… “Terus, siapa yang mengendalikan BPR jika anda tidak di kantor???”… “Pak, kalau modal 5 miliyar yang bapak berikan kepada saya tidak bertambah, silahkan bapak masukkan saya ke penjara.. Ini surat perjanjian, mari kita tanda tangani dengan materei sebagai landasan legalitasnya…”

Satu tahun BPR itu berjalan, sang Direktur Muda berhasil meraih keuntungan 2 miliyar…Setelah melewati tahun ketiga, melihat tak ada lagi tantangan di BPR, alumni Filsafat UGM itu resign, mengundurkan diri.

“Kisah ini bukanlah cerita bualan.. Tapi kisah nyata yang diceritakan oleh teman dekat Sang Direktur BPR lulusan Filsafat UGM itu dalam sebuah obrolan ringan dengan penulis di asrama mahasiswa Sumatera Barat – Yogyakarta. Semoga menjadi inspirasi bagi kita”

Iklan