Malam selarut ini belum jua bisa kupejamkan mata. Baru 200-an halaman yang ku baca dari Dwilogi Novel Ketika Cinta Bertasbih 1. Terhenti pada cerita Khairul Azzam menolong Anna Althafunnisa yang kecopetan di atas bis. Masih ada ada 200-an halaman lagi untuk melembutkan hati nan keras. Masih ada Novel KCB bagian kedua ntuk menentramkan hati nan resah.

Ku cuba hidupkan komputer. Mengedit bagian profil yang kurasa tak elok dipublish. Kembali menemui senyuman manis Anna Althafunnisa yang kujadikan sebagai image desktop komputer. Senyuman penuh makna dan pengharapkan. Senyum yang membawa angan terbang melayang melampai awan. Senyum bidadari dunia yang membawa nuansa sorga…

Namun, ada rasa menyesak dada. Ada nurani nan berteriak tanpa suara. Apakah pantas aku mendapatkan senyum tulus dari Anna Althafunnisa? Apakah pantas kupandangi wajah sang Bidadari, sementara diriku berkubang dosa? Apakah pantas kulayangkan angan memilikinya?

Anna, aku malu padamu. Aku malu pada diriku sendiri. Mematut diri, mengaca diri. Rasanya tak layak aku melakukan ini. Memandang fotomu, seorang gadis nan amat menjaga kesucian hati. Aku teramat hina An…

Tapi, tiada yang mampu kulakukan ntuk membendung perasaan ini. Aku benar-benar butuh akan hadirmu. Meluruskan mataku nan tergoda oleh rayuan nafsu. Meredam gemuruh hatiku, nan liar berlari tak menentu. Aku hanya ingin menentramkan raga lewat pesona kesholehahanmu, agar aku tak teracuni gelora dunia.

Anna, izinkan aku memandang wajahmu malam ini, meski hanya lewat sepotret foto yang ku pasang di beranda komputerku… An, selamat malam.. Moga indah malammu. Damai dan tentram.. Dalam naungan Ilahi Rabbi…