Penetapan 2 orang pimpinan KPK Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto sebagai tersangka oleh Kapolri menjadi healine surat kabar dan fokus pembahasan televisi beberapa hari ini. Salah satu LSM yang aktif terlibat adalah Indonesia Corruption Watch. Tersebutlah nama Febri Diansyah, salah satu juru bicara ICW yang sekarang menjadi populer. Barusan Febri tampil di Metro TV bersama mantan Ketua KPK Taufiqurrahman Ruki. Febri, seorang sahabat yang pertama kali ku kenal pada kesempatan Musyawarah Besar Ikatan Generasi Muda Minang Yogyakarta di Wisma Kaliurang Yogyakarta. Kebetulan aku menjadi pimpinan sidang kala itu. Banyak kritikan dan masukan berbobot yang ia sampaikan. Aku kagum dengan kecerdasannya. Sekarang, lulusan Fakultas Hukum UGM itu telah menjadi public figure terutama terkait pembahasan korupsi.

Satu lagi nama yang amat ku kenal terkait dengan wacana korupsi adalah Oce Madril, staf peneliti Pusat Studi Anti Korupsi UGM. Satu tahun ini Oce bermukim di Jepang, meneruskan studi di Graduate School Law and Governance Program Nagoya University. Temanku yang satu ini sering muncul lewat artikel-artikel anti korupsi di berbagai media nasional.

Febri dan Oce, dua teman seangkatan-ku (tahun 2002) di UGM. Sama-sama berasal dari tanah kelahiran Hatta, Syahrir, Tan Malaka – Minangkabau -. Lewat kecerdasan dan kerja keras, sekarang mereka telah menjadi “selebritis intelektual” yang mewarnai wacana nasional terutama masalah korupsi. Senang sekali rasanya pernah mengenal kedua sosok ini.

Ketika mereka sudah menapaki jenjang kesuksesan, diriku masih terpaku di bangku kuliah. Menjadi mahasiswa tua.  Topik perbincangan adik-adik kelas karena sudah tujuh tahun menjalani studi, tapi belum jua wisuda.

Jika mengenang masa lalu, ingin aku caci-maki orang-orang yang telah membuatku membenci jurusan filsafat. Mencerca mereka yang telah membuatku terombang-ambing dalam ketidak-menentuan. Mereka bilang “filsafat itu haram”. Mencemoohku saban waktu, dalam setiap perbincangan. Hingga IPK di atas 3 di 2 semester awal kemudian jeblok karena aku termakan sindiran-sindiran mereka.

Namanya juga mahasiswa baru yang masih meraba-meraba bagaimana rasanya kuliah, bukan dorongan semangat yang kuperoleh, tapi lontaran-lontaran sinis yang mereka hujamkan. 3 tahun bimbang mendera. Tak masuk kuliah, hanya menyesali diri, kenapa saat Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru mengambil filsafat sebagai pilihan pertama.

Tuhan masih sayang padaku. Menyelamatkanku dari kehancuran lebih remuk lagi. Tahun 2005 Ibu datang menengokku ke Jogja. Surat yang kukirimkan sebelumnya, bahwa aku ingin berhenti kuliah dan mau masuk pesantren di Surabaya, telah membuat emosi Bapak meledak. Beliau amat kecewa denganku. Tak habis pikir dengan niatku itu.

Melewati 2 hari-2 malam perjalanan Ibu sampai di Jogja pagi hari. Tubuhnya lusuh, rambutnya acak-acakkan. Langsung saja aku didera Ibu dengan pertanyaan, “mengapa kamu mau berhenti kuliah Gun?” Baru beberapa kalimat yang disampaikan Ibu, kulihat air mata membasahi mata beliau. Ibu bilang, Bapak sedih bercampur marah atas niatku berhenti dari Filsafat UGM. Sampai-sampai beliau melempar piring di rumah, dan tak masuk kerja.

Sejak kedatangan Ibu yang mengiris hati itu, aku mengurungkan niat mondok di Surabaya. Air mata Ibu dan cerita kemarahan Bapak, telah cukup buatku untuk kembali sadar meneruskan kuliah. Mulai saat itu, kuacuhkan semua suara-suara filsafat itu haram. Ilmu syetan, yang sia-sia saja dipelajari”. Terserah siapa yang mengatakan. Mau, Ustadz lulusan Saudi Arabia dengan gelar Doktor sekalipun, atau kakak sekamar yang terbilang cerdas, terserahlah. Ku kuatkan tekad untuk meneruskan kuliah, meskipun di tahun ketiga itu baru 40 sks (dari 148 sks total mata kuliah) yang kuambil. Itupun berjibun nilai C dan D, dengan IPK 2 koma.

Lewat air mata Ibulah, Aku menemukan semangatku. Melangkah lagi dengan modal IPK Dua Koma, akhirnya lewat perjuangan serta do’a Ibu dan Bapak di kampung,  di tahun 2009  berhasil kugapai IPK 3,56. Semester ini aku tinggal menyisakan skripsi dan 2 mata kuliah. Semoga februari tahun 2009, sudah kusandang gelar Sarjana Filsafat (S.Fil). Anggun Gunawan, S.Fil.. :)

Berkaca dari kesuksesan Oce dan Febri, akupun punya impian menjadi orang besar. Yang berkontribusi buat kemajuan bangsa ini. Bidang ilmuku, Filsafat, belum terlalu membumi di negeri ini. Apalagi filsafat yang berkutat dengan pemikiran masih menjadi keilmuan langka bagi masyarakat Indonesia.

Apalagi kalau bicara prospek lulusan filsafat. Penerimaan CPNS yang akhir tahun ini dibuka oleh berbagai instansi pemerintah, hanya mencatat Departemen Dalam Negeri saja yang menerima kualifikasi lulusan S1 Filsafat. Itupun untuk satu kursi

Ku buka lagi lowongan untuk sarjana filsafat. Lumayan, ada peluang yang lebih besar untuk dosen. Tapi harus punya ijazah S2. Artinya, mesti kuliah lagi. Kepingin sih meneruskan pasca sarjana di UGM. Tapi melihat daftar dosen pengajar S2 Filsafat UGM kebanyakan dosen-dosen yang telah akrab denganku lebih dari 7 tahun ini, akupun jadi ragu meneruskan kuliah pasca sarjana di UGM. Ku pikir, tak banyak ilmu-ilmu baru yang dapat kuserap.

Sampai beberapa waktu yang lalu, aku bersua dengan dosen Filsafat yang barusan pulang dari SOAS University London UK. Beliau mendapat beasiswa program sandwith selama 3 bulan. Pak Nursyirwan namanya, salah satu dosen yang ditakuti oleh mahasiswa filsafat karena gaya mengajarnya yang unik. Tapi entah mengapa aku bisa jadi dekat dengan pak Nusyirwan??? He2..He2..

“Gun, kalau sudah dapat TOEFL 500-an, siap-siap berangkat ke Inggris. Nanti bapak rekomendasikan ambil S2 di SOAS.”

Aku terkejut. Tawaran pak Nursyirwan tiada kusangka. Maklumlah, aku hanya mahasiswa biasa di kampus. Tiada prestasi membanggakan, kecuali sepak terjang menjadi blogger sejak tahun 2006 yang lalu dengan torehan 500-an ribu pengunjung selama 3 tahun. Tapi apakah ini bisa dianggap sebuah prestasi???

Aku mencoba mengenang, masa 7 tahun silam. Saat namaku tercantum  sebagai siswa yang diterima di UGM melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Atas kemahakuasaanNyalah aku sampai di Jogja. Seorang siswa kampung yang biasa  menjadi ejekan guru, bisa diterima di universitas ternama di Indonesia.

Mengingat masa SMA itu, ku pikir mengapa aku ragu untuk bermimpi bisa kuliah di luar negeri???

Sejak pertemuan dengan Pak Nusyirwan, kupatrikan gelora untuk mengejar impian kuliah di Inggris. Kujadikan keberhasilan Oce dan Febri sebagai pembakar semangat.

London??? Inggris??? Ah.. Kota impian yang hanya bisa kusaksikan di televisi dan foto-foto di Internet. Lewat sajian EPL yang disiarkan oleh TV One tiap malam minggu. Ya, aku paling suka menyaksikan Liga Inggris yang permainannya cukup agresif, berbeda dengan liga-liga Eropa lainnya. Dulu suka sama Manchester United, tapi sekarang kepicut sama Arsenal… he2…

London, kota impianku. Tempat penyanyi favoritku, Siti Nurhaliza, mengadakan Mega Konser tahun 2005 lalu. Tepatnya Royal Albert Hall, London. Aku selalu bermimpi bisa mengunjungi tempat-tempat spesial yang pernah disinggahi kak Siti.

Malam ini di kala resah, ku putar kembali  “Get Here” yang dilantunkan oleh Kak Siti Nurhaliza. Salah satu video saat Kak Siti mengadakan konser di Albert Hall London. “Kak Siti , aku berdo’a suatu saat nanti bisa pula menginjakkan kakiku di Negeri Ratu Elizabeth, seperti dirimu dulu.”

Kututup tulisan ini dengan sebait kata motivasi dari Joseph Conrad, Novelist kenamaan Inggris,

“Tiada manusia yang sukses dalam semua yang dilakukannya dan kehadiran kita ini sebenarnya mesti menempuh kegagalan. Yang penting ialah kita tidak menjadi lemah ketika kegagalan itu terjadi dan kekalkan usaha hingga ke akhir hayat.”