Sosok Prof. Dr. Rusdi Lamsudin, M.Med


Pernikahan antar suku bangsa berpotensi besar melahirkan keturunan-keturunan yang bagus secara fisik, dan cerdas secara intelektual.

Tiap kali bersilaturahim ke rumah Prof. Dr. Rusdi Lamsudin tak lupa beliau mengatakan hal ini. Kemarin malam, lagi-lagi beliau menyampaikan “indahnya pernikahan beda etnis”. Banyak tokoh-tokoh yang beliau sebutkan sebagai contoh sukses pernikahan ini. Yusuf Kalla (menikah dengan Ibu Mufidah kelahiran Tanah Datar Sumatera Barat), Din Syamsudin (menikah dengan Fira Beranata Urang Maninjau Sumatera Barat), Dr. Rachmat Ali Direktur Koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta (putra Sangir Solok Selatan menikah dengan gadis Jawa), Prof. Syafri Sairin Antropolog UGM (menikah dengan gadis Jawa).

Istri berperan besar dalam kesuksesan seorang suami. Orang-orang besar lahir karena di belakang layar ada support Istri yang cerdas. Salah memilih sang Ibu untuk anak-anak, akan membuat rumah tangga tak lebih seperti neraka. Panas, hidangan percekcokan yang mendominasi.

Perkenalanku dengan Prof. Rusdi sebenarnya berawal dari kedatanganku di asrama mahasiswa Sumatera Sumatera yang ada di Yogyakarta. Beliau menjabat Ketua Yayasan Baringin, yang menaungi asrama putra dan putri Sumatera Barat di Yogyakarta. Kedekatanku dengan beliau semakin intens sewaktu aku diamanahi teman-teman untuk menjadi Ketua Asrama Putra tahun 2006. Sering berkomunikasi dan membicarakan perkembangan asrama baik lewat telpon maupun email telah membuatku mengagumi karakter beliau yang amat ramah, dan low profile.

Di tengah kesibukan beliau sebagai salah satu dokter syaraf terkemuka di tanah air, sibuk berpergian ke luar negeri, aktivitas sosial di Muhammadiyah, dan karir akademis di Universitas Islam Indonesia (UII Yogyakarta), kalau sudah berhubungan dengan asrama, pasti beliau punya waktu. Kalaupun lagi di luar kota atau di luar negeri tetap saja email ataupun sms yang dikirim beliau respon.

Kadang aku bertanya sendiri, kenapa Prof. Rusdi begitu amat peduli dengan asrama? Sampai sekarang aku belum menemukan jawaban pasti. Beberapa kali ngobrol, aku baru bisa menyimpulkan hal ini terkait dengan sejarah pendirian asrama pada tahun 1963 pasca peristiwa berdarah di Sumatera Barat PRRI. Peristiwa kelam yang membuat mahasiswa rantau kesulitan ekonomi. Sejarah buram yang menjadi awal mula stigma orang Minang di perantauan menjadi copet bermula.

Berkunjung ke rumah Prof Rusdi, aku selalu mengagumi perpustakaan beliau yang diisi ribuan buku dalam berbagai bidang, yang sekilas ku perhatikan didominasi oleh buku-buku kedokteran, psikologi, dan agama. Kemarin sempat juga terucap oleh beliau, karena pertanyaan-pertanyaan kritis yang sering kuajukan kepada beliau terkait suku bangsa Minang, beliau kemudian membeli beberapa buku seputar etnis Minang.

Hal yang paling dibenci oleh Prof. Rusdi adalah ketidakjujuran, lepas tanggung jawab, dan korupsi. Hingga kalau mau memberikan proposal kepada Prof. Rusdi harus jelas kegiatan yang akan dilakukan, apa tujuannya, dan perkiraan anggaran. Selepas mengadakan acara, maka laporan keuangan dan jalannya kegiatan harus segera diberikan. Pernah suatu kali dalam kunjungan anggota DPRD Sumbar ke Yogyakarta beliau dimintai uang sogok oleh anggota DPRD sebagai “uang jasa” telah meng-gol-kan dana renovasi asrama. Sontak saja Prof. Rusdi kaget, dan mengatakan Yayasan tidak menerima apapun dari Pemda terkait renovasi asrama. Eksesnya, sampai sekarang beliau tak mau terlibat terlalu jauh dengan birokrasi jika gelagat-gelagat tak baik mulai tampak.

Prof. Rusdi selalu memotivasi kami untuk belajar dengan giat. Tidak sibuk membicara aib dan gosip-gosip yang tak jelas. Kekuatan analisis dan terus optimis itulah yang diajarkan Prof. Rusdi. Kemajuan hanya bisa diperoleh jika kita tak terjebak dengan masa lalu. Dan untuk menghadapi dinamika dunia yang begitu rumit, sifat pemaaf dan lapang dadalah yang menjadi penetralisir semua.

Beberapa dari nama alumni asrama yang beliau sebutkan untuk kami jadikan tauladan seperti Uda Dr. Pheni Khalid (Staf UNDP PBB, dosen UIN Syarif Hidayatullah), uda Awaldi (petinggi Bank Niaga), dan uda Rizal Yaya (dosen UMY yang akhir bulan ini akan berangkat ke Scotland untuk meneruskan studi di Program Ph.D Aberdeen University), ternyata dulu orang yang “terpinggirkan” di asrama. Menjadi orang yang “dimusuhi” oleh mayoritas penghuni asrama kala itu. Sayang seribu kali sayang, cerita-cerita sentimen tentang orang-orang berhasil ini masih dilanggengkan oleh alumni yang hidup luntang-lantung tak jelas. Hingga aku berpikir, apakah mereka yang mencerita kejelekan alumni2 sukses ini yang harus ku dengar, ataukah menutup telinga memandang sinis para penyebar polusi pikiran ini?

Perkenalan dengan orang-orang sukses dan baik hati seperti Prof. Rusdi Lamsudin, telah mengajarkan kepadaku banyak hal tentang jalan menuju keberhasilan. Terima Prof, sampai saat ini aku tak menyangka, diriku yang hanya anak kampung yang tak ada apa-apanya, bisa berkenalan dekat dengan sosok sekaliber Professor.

Iklan

3 thoughts on “Sosok Prof. Dr. Rusdi Lamsudin, M.Med

  1. artikel yg bagus kawan…

    sebagai inspirasi aja ngun ” Teruslah berusaha meningkatkan kualitas diri dan jangan berusaha menghapus kelemahan mu karena ketika kualitas diri telah tercapai maka orang2 akan memaapkan semua kelemahan2 mu”

  2. Aduuh cerita tentang uda Rusdi..mengingatkan uni ditahun 85-an juga terlibat dalam aktiviti Baringin Sumatera Barat tapi uni aktif di kesenian… Ketika itu ada juga Uda Wir.. dan uda yang punya rumah makan Roda…aduuh lupa namanya..ada ibu Kudus..Uda Rusdimemang sangat ramah dan kuat agama..beliau ini adalah cendekiawan dan tokoh tauladan yang membuat generasi muda dlm organisasi Minang “Baringin Mudo” sukses seperti sekarang..salam dari saya Nerosti Adnan (Mly).

  3. tentang nikah beda etnis ternyata kedua putri prof rusdi lamsudin menikah dengan beda etnis.beliau punya menantu orang palembang dan sunda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s