Membaca profil beberapa orang teman yang baik satu kuliah maupun satu SMA membuatku agak iri juga dengan mereka. Sudah bisa mendapatkan finansial sendiri tanpa harus membebankan orang tua. Ya, amat kontras dengan diriku yang masih berstatus mahasiswa dan masih mengandalkan kiriman dari orang tua.

Tapi ada yang lain menganggu pikiranku. Teman-teman yang ku tahu punya capability mumpuni, pintar dan cerdas terpaksa harus bekerja di perusahaan-perusahaan yang nota bene dibenci oleh para aktivis. Perusahaan pembabat hutan, perusahaan penyumbang pembantaian muslim Palestina, perusahaan pengeruk kekayaan bumi Indonesia, bank-bank ribawi. Beberapa di antara temanku yang luar biasa idealisnya dan mencaci perangai PNS, saat ini tunggang langgang memasukan aplikasi penerimaan CPNS.

Aku tidak sedang menghujat mereka. Karena begitulah realitas yang terjadi di negeri ini. Mencari kerja sulit. Tentu mendapatkan pekerjaan yang bergaji wah, pekerjaan yang tetap bahkan tetap digaji meskipun sudah meninggal dunia, menjadi impian banyak orang. Akupun tidak mencibir mereka yang dulunya getol memboikot perusahaan penyumbang Israel, memaki perusahaan multinasional perampas kekayaan negeri ini, menghina PNS sebagai pemakan gaji buta, karena saya paham itulah idealis yang mereka dapatkan dari pemikir-pemikir jenius yang ada di universitas. Tapi ketika harus berhadapan dengan dunia sebenarnya, merekapun harus mengubur idealisme demi mendapatkan kehidupan yang mapan. Tidak ada yang salah. Yang salah hanyalah tak bersahabatnya realita dan idealita di negeri ini.

Beberapa hari ini, saat membuka situs penerimaan CPNS, aku hanya tertegun. Dari sekian banyak departemen dan lembaga-lembaga pemerintah yang membuka rekruitment, hanya Departemen Dalam Negeri yang menerima lulusan S1 Filsafat. Itupun hanya untuk satu kursi. Ya, harus gimana lagi. Memang jurusanku masih jadi lulusan asing bagi lembaga-lembaga pemerintah, atau dalam bahasa konotasinya, lulusan yang ngak dibutuhkan.

Aku apresiatif dengan langkah yang dilakukan oleh pimpinan fakultasku mempromosikan kompetensi lulusan filsafat kepada berbagai lembaga. Tapi untuk saat ini, mungkin para alumni filsafat harus mengurut dada, dan melupakan harapan untuk menjadi PNS.

Kemarin, pas main ke kampus aku bertemu dengan pak Nusyirwan, dosen filsafat yang juga berasal dari Sumatera Barat. Beliau barusan pulang dari SOAS University London UK setelah mendapat beasiswa dari dikti. Sempat ngobrol sebentar. Pak Nusyirwan mengatakan kepadaku akan memberikan rekomendasi kepadaku untuk bisa S2 di Inggris dengan syarat lulus dengan IPK mumpuni dan Toelf di atas 500. Kebetulan beliau sudah punya hubungan baik dengan beberapa professor di SOAS. Soal penginapan juga tidak jadi masalah. Kata pak Iwan, di sana ada apartemen kepunyaan Ibu-Ibu berdarah Minang yang sudah lama tinggal di UK. Kebetulan beliau menikah dengan orang Kurdi.

Ku pikir-pikir tawaran Pak Iwan bagus juga. Setelah lebaran ini aku akan ikut kursus lagi untuk memperkuat bahasa Inggrisku. Mengandalkan cari kerja dengan ijazah S1 filsafat, agaknya sulit. Bukan hanya prasangkaku saja. Kenyataannya memang beberapa teman alumni filsafat yang ku kenal dekat meskipun dengan IPK di atas 3, masih luntang-lantung sampai saat ini.

Ya, mudah2an apa yang kuimpikan ini bisa terwujud. Amien.

Iklan