Sudah 26 hari Ramadhan berlalu. 3 hari lagi Idul Fitripun datang menghampiri. Beberapa sms dari teman singgah di handphone, mengundang untuk buka bersama alumni SMA, dan menanyakan apakah aku pulang kampung lebaran tahun ini. Ku kuatkan hati melalui lebaran ketiga berturut-turut di kota Jogja yang amat kucintai ini. Mengusir kerinduan, mengusir sepi ketika satu persatu anak-anak asrama meninggalkan Jogja.

Hari ini, tulisan salah seorang teman angkatan di UGM hadir lagi di Koran Republika. Masih dengan tema yang sama dengan tulisan-tulisan sebelumnya, Korupsi. Masalah yang saat ini menjadi pembicaraan hangat mengalahkan arus mudik lebaran yang terus semberawut tiap tahun. Kebetulan Ramadhan ini dia liburan ke Indonesia, setelah melewati tahun pertamanya di Jepang untuk meneruskan studi Graduate School.

Melancong ke kampus siang tadi, tampak hanya beberapa mahasiswa. Kelaspun tak berisi, karena dosen urung mengajar disebabkan mahasiswa yang datang cuma satu-dua orang. Sempat juga ku bertemu dengan bu Septiana. Ngobrol sebentar membahas perkembangan skripsi. Ku minta tenggang waktu sampai sehabis lebaran untuk merampungkan Bab III.

Malam ini, dengan tubuh yang lumayan fit, dapat jua aku sholat tarawih di Masjid Kampus UGM. Kebetulan yang mengisi tausiah adalah Prof. Dr. Yunahar Ilyas Lc, M.A., ustadz favoritku. Pada kesempatan tadi Ustadz Yun mengangkat persoalan bid’ah yang belakangan ini sering ditanyakan kepada beliau dalam beberapa forum pengajian maupun lewat sms.

Terakhir, kata Ustadz Yun, pertanyaan ini dilontarkan oleh kaummuslimin Indonesia yang berdomisili di Qatar dalam kesempatan 12 hari rangkaian kunjungan beliau di negara Timur Tengah tersebut. Apakah memulai pengajian ataupun rapat dengan membaca basmalah dan mengakhiri dengan alhamdulillah termasuk bid’ah? Apakah perayaan maulid nabi Bid’ah? Apakah memulai majelis dengan membaca Al Qur’an Bid’ah?

Memang perkara bid’ah ini telah menjadi persoalan yang memanaskan hati, apalagi banyak wilayah-wilayah kultural Islam yang dicap sebagai perkara bid’ah. Berarti “sesuatu yang baru”, bid’ah dalam dimensi agama memiliki konsekuensi yang berat. Setiap perilaku bid’ah diancam neraka sebagaimana tertera dalam hadist Rasulullah.

Golongan yang bersemangat menyuarakan pemurnian agama melakukan kampanye bid’ah yang cukup massif sehingga membuat kaummuslimin kebinggungan. Hingga terbangun stigma, “kok rasanya Islam ini berat”. Melakukan ini salah, melakukan itu bid’ah. Dimana-mana bid’ah.  Padahal Allah telah menyatakan “Sesungguhnya Islam itu mudah”. Islam membahagiakan, bukan menyulitkan.

Berbicara masalah bid’ah, terlebih dahulu harus dipilah 2 kategori ibadah dalam Islam. Pertama, ibadah ‘aammah (umum). Untuk kategori pertama ini para ulama memberi batasan, “boleh dikerjakan sampai ada dalil yang melarang”. Sehingga diperkenankan untuk melakukan kreasi-kreasi baru, reformasi, inovasi dalam perkara-perkara yang termasuk wilayah ibadah ini. Kedua, ibadah khaasshos (khusus – mahdoh). Ibadah jenis ini hanya boleh dikerjakan jika ada dalil yang memerintahkan. Tata cara, upacara, pelaksanaan, waktu dan segala hal terkait ibadah mahdoh murni disandarkan pada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Maka untuk menjernihkan, apakah membaca basmalah, al fatihah ketika membuka membuka majelis termasuk perkara bid’ah atau tidak, kita tinggal menilai, apakah perkara-perkara ini berada dalam wilayah ibadah umum atau ibadah khusus?

Beberapa golongan umat Islam saat ini terjebak dalam 2 kutub yang berbeda menyikapi persoalan agama. Ada yang terlalu permisif – liberal, sehingga memodifikasi semua ibadah tanpa melihat mana yang mahdoh dan mana yang masuk ‘aammah. Di sisi lain, ada yang terlalu bersemangat, sehingga terlalu kaku dalam puritanifikasi Islam, kemudian terjebak membid’ahkan ibadah-ibadah yang sifatnya umum. Kecendrungan kelompok pertama berakibat runtuhnya pondasi Islam. Sementara semangat kelompok kedua, membuat kehidupan bermasyarakat menjadi kering dan sekuler dari nilai-nilai Islam.

Umat Islam memang diperintahkan untuk meneladani Rasulullah. Menjadi Rasulullah sebagai uswah. Kalau kita cermati teks hadist ini, maka yang disebutkan adalah Rasulullah. Maka kita hanya wajib mengikuti Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dalam posisinya sebagai Rasulullah. Artinya, ada perilaku-perilaku beliau yang amat erat kaitannya dengan pengaruh insaniyah beliau. Nabi Muhammad sebagai ‘arabi (orang Arab) tentunya memakai bahasa Arab, memakan makanan orang-orang Arab, dan memakai pakaian orang Arab. Dalam konteks ini, memakai jubah dan berkopiah putih bukanlah suatu keharusan untuk diikuti. Karena begitulah orang-orang Arab berpakaian.

Akhirnya, ada baiknya kita merenungkan perkataan Syaikh Muhammad Al Ghazali. “Saat ini saya melihat pemuda-pemuda Islam bersemangat mempelajari agama. Mereka membaca Al Qur’an, Hadist, dan buku-buku Islam. Namun sayang, ketika mereka mendapati satu-dua hadist Rasulullah yang mereka baca dari kitab-kitab hadist, timbul keberanian berfatwa. Padahal apa yang mereka sampaikan itu berbeda dengan pendapat Imam Syafi’i ataupun imam-imam besar kaummuslimin lainnya. Merekapun berkilah, Imam Syafi’i laki-laki dan kamipun laki-laki. Sungguh semangat telah mengelincirkan mereka. Apakah sama kedudukan dan kapabilitas ilmu mereka dengan Imam Syafi’i?”

Para pengunjung yang saya hormati, mudah2an tulisan ini bisa memberikan pemahaman kepada kita tentang bagaimana seharusnya meletakkan ibadah-ibadah dalam Islam agar kita tidak terjebak dalam “memberat-beratkan” diri dalam berIslam. Membuat Islam dijauhi karena dianggap berat, padahal Allah mengatakan “Islam itu Mudah”.