Jangan Hina Pancasila


Mengisi Ramadhan dengan diskusi-diskusi ilmiah di sela-sela mengerjakan skripsi tentu menjadi keasyikan tersendiri untuk terus merefresh otak yang kadang-kadang jenuh dan buntu. Sabtu kemarin, 5 September 2009, teman-teman Keluarga Muslim Kehutanan UGM mengadakan “Bedah Buku: Pancasila Bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam“, di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM. Buku ini adalah karya terbaru Dr. Adian Husaini yang dirilis oleh Gema Press Insani bulan Agustus kemarin.

Perbincangan mengenai Pancasila, pasca jatuhnya Orde Baru, tidak menjadi materi yang begitu menarik bagi banyak kalangan. Bahkan, Pancasila yang merupakan konstitusi yang tertinggi di negara ini menjadi barang usang yang tak lagi dihiraukan.

Melihat realitas ini, UGM sebagai institusi yang konsen dengan Pancasila (lewat kehadiran Pusat Studi Pancasila dan pemberiaan mata kuliah wajib Pancasila-Kewarganegaraan kepada mahasiswa), pada bulan Juni kemarin bekerja sama dengan Mahkamah Konstitusi mengadakan workshop yang mengangkat Tema “Relevansi Pancasila ke Depan”. Acara ini menghadirkan banyak pakar hukum dan tata negara serta filsafat untuk menafsirkan dan mendudukan kembali posisi Pancasila sebagai dasar negara.

Dr. Adian Husaini melihat, selain usaha untuk meletakkan Pancasila pada posisi sebenarnya dalam kehidupan berbangsa bernegara, ada upaya sistematis untuk menarik Pancasila pada ranah humanisme sekuler demi mematahkan aspirasi umat Islam. Bentuk dari gerakan ini adalah usaha mementalkan Perda Syariah yang sudah berjalan di beberapa daerah dengan mendasarkan apologi pada “Perda Syariah bertentangan dengan Pancasila yang membawa semangat pluralisme agama dan penghormatan terhadap kemajemukkan”, penjenggalan terhadap RUU Halal dan Zakat.

Pada saat pemberlakukan azas tunggal oleh Orde Baru, banyak aktivis Islam yang menyatakan anti Pancasila. Bahkan Dr. Adian yang pada waktu itu masih berstatus sebagai mahasiswa Kedokteran Hewan IPB dibakar oleh pemikiran “Pancasila adalah Thagut”, bersama teman-temannya melakukan aksi penyobekan gambar Garuda yang tertera di halaman depan Al Qur’an cetakan Indonesia.

Penelitian berbulan-bulan yang kemudian melahirkan Buku  Pancasila Bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam setebal 260 halaman ini, merevisi beberapa kesalahpahaman Dr. Adian terhadap Pancasila yang dibawa dari masa mahasiswa dahulu. Distorsi historis yang memalukan jika kita menyamakan Pancasila dengan Thagut. Karena menurut beliau, Pancasila merupakan produk cerdas dari pejuang-pejuang Islam yang terbentur dalam misi pendirian negara Islam.

Perubahan 7 kata sila pertama Pancasila versi Piagam Jakarta yang banyak disesali oleh aktivis dakwah sekarang, haruslah dipahami sebagai batas maksimal pejuang-pejuang Islam. Prof. Kasman Singodimedjo mengatakan penerimaan tokoh-tokoh Islam tentang perubahan sila pertama Piagam Jakarta bukan karena tak militan, namun kita dihadapkan pada kondisi untuk segera mengesahkan konstitusi negara di tengah kondisi kritis, Sekutu segera mendarat sementara Jepang belum angkat kaki.

Kata Esa yang dimaksudkan dalam Sila Pertama tak lain tak bukan “Tauhid”. Hal ini dapat kita rujuk pada alinea ketiga Pembukaan UUD 1945 yang mencantumkan kata Allah. Menurut penelian Dr. Adian, sebenarnya wacana untuk mengubah kata “Allah” pada pembukaan UUD 1945 ini sudah bergulir sejak awal kemerdekaan, dan sudah terjadi pada pembukaan UUD pada masa RIS dengan pemakaian kata “Tuhan”. Namun, lewat perjuangan politisi Islam pada saat Deskrit Presiden 5 Juli 1955, kembali kata “Allah” tertera di Pembukaan UUD.

Terkait pemakaian kata “Adil” dan “Adab” pada sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, maka sejarah bahasa Indonesia memamparkan bahwa sebelum kedatangan Islam orang-orang Nusantara tidak mengenal kata “adil”. Hal ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya istilah khusus “adil” dalam bahasa daerah suku-suku bangsa yang ada di tanah air. Menurut Prof. Naquib Al Attas, kejatuhan dan kebangkitan umat Islam tergantung implementasi adab, dan adab tertinggi adalah akhlak terhadap Allah.

Kemudian, pada sila keempat tertera kata “hikmah”. Hikmah tidak sama dengan “wisdom”. Hikmah merupakan istilah Islam yang berarti “wahyu”. Oleh karena itu pelaksanaan musyarawarah dalam konteks kenegaraan  yang sesuai dengan Pancasila adalah musyarawah yang dilandasi spirit wahyu.

Sekarang, Pancasila cuba digiring oleh intelektual yang berpikiran liberal ke arah humanisme sekuler dengan melepaskan muatan teologis. Maka sila pertama kemudian ditafsirkan sebagai “plularisme beragama”, sila kedua dimaknai “humanisme non teistik”, dan sila keempat diartikan “demokrasi liberal”.

Berkaca dari sejarah, bagaimana Pancasila dirancang begitu teliti oleh para tokoh-tokoh kemerdekaan dari kalangan Islam, agaknya ambigu jika Pancasila dewasa ini dijadikan alat untuk menjatuhkan dan mengeliminir umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini  menjadi tugas aktivis Islam untuk kembali membela dan menyebarluaskan tafsiran Pancasila yang “sebenarnya” berdasarkan Islamic Worldview. Karena, upaya pengerusan Pancasila untuk menghancurkan umat Islam sudah didepan mata.

Iklan

4 thoughts on “Jangan Hina Pancasila

    1. Apa ada pada Pancasila semuanya BRENSEK
      Orang Indonesia kaki gaduh dan permusuhan…tidak punya OTAK.

      saya yang jujur
      Osamn bin Ali
      ( Petronas Staff )
      Tingkat 14, Menara 2,
      55001, KLCC, KL, Malaysia
      60323313110
      othmama@petronas.com.my

  1. Betul saya melihat ada upaya untuk mengaburkan PANCASILA. ketika ada yang mengoyang pancasila (artis yang tidak punya otak) tapi tidak di tindak tegas oleh pemerintah sekarang, malah jadi duta PANCASILA. Neh sungguh aneh saya pikir seharusnya orang begitu di penjara saja!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s