Kemarin malam, aku masih sempat sholat tarawih di Masjid Kampus UGM. Awalnya timbul keraguan, karena hari ini Bis “Pulang Basamo” Asrama akan berangkat jam 21.00-an. Ternyata keberangkatan  terlambat 1,5 jam. Jadi masih ada waktu membantu panitia dan penumpang.

Tadi malam, yang mengisi ceramah tarawih adalah Ustadz Ir. H. Abu Haris, M.Ag. , seorang pakar ekonomi Islam. Tulisan ini  menceritakan kembali pengalaman beliau yang beberapa waktu yang lalu  diundang berceramah di Australia.

Dalam kesempatan ceramah di negeri Kangguru itu, Ustadz Abu Haris menyampaikan  ekonomi Islam. Beliau mengatakan, membicarakan ekonomi Islam simple. Cukup mengupas Surat Al A’raaf ayat 96, yang berbunyi:

Surat Al A’raaf 96:
96. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Setelah menyampaikan ayat ini, saat sesi tanya jawab, ada jama’ah yang bertanya, “Ustadz, sudah berapa kali datang ke Australia?” Kemudian Ustadz Abu Haris menjawab, “Baru kali ini”. Sang penanya menimpali, “kalau begitu Ustadz salah menyampaikan ayat ini kepada kami. Cubalah ustadz berkeliling seluruh Australia . Tidak akan ustadz temui orang-orang miskin dan melarat. Bahkan penganggurpun diberi uang 400 dollar Australia tiap bulan oleh pemerintah (1 dollar Australia setara Rp. 8.000-an). Sekolah dari Tk sampai perguruan tinggi gratis. Rumah sakit gratis. Padahal Australia ini negeri Kafir. Kami tidak butuh ceramah ustadz ini. Silahkan pulang saja ke Indonesia.”

Mendapatkan serangan seperti itu Ustadz Abu Haris terperanjat. Baru sekali ini ia mendapatkan pertanyaan menohok saat memberikan ceramah. Kemudian, setelah menahan emosi beliau menjelaskan, “Ada dua rumah. Yang satu kecil, kotor, dengan perabotan sederhana. Kalau bertamu, mungkin hanya disodorkan segelas air putih saja. Rumah kedua: besar, mewah, megah, dengan berbagai perabotan yang mengisi tiap sisi ruang. Apabila bertamu, akan disuguhi hidangan-hidangan enak membangkitkan selera… Menurut bapak-bapak, manakah di antara rumah itu yang Islami.” Jama’ah menjawab, “rumah yang kedua Ustadz.”

Beliau melanjutkan, “Rumah pertama, dihuni oleh keluarga buruh tani, yang setiap harinya membanting tulang, memeras keringat, mengarap sawah orang dengan upah pas-pas-an. Sehingga hanya rumah itulah yang mampu dia bangun dari hasil kerja kerasnya…. Rumah kedua yang mewah itu, penghuninya adalah pencuri. Setiap jengkal dan seluruh perabotan ia dapatkan dari maling, dan merampai milik orang lain”. Spontan saja, sang penanya tadi angkat bicara, “Berarti Ustadz menuduh Australia ini negara pencuri???” Dengan lugas Ustadz Abu Haris menjawab, “Iya”.

Kemudian Beliau mengeluarkan uang lusuh Rp.1000 dari dompet. “Bapak-bapak masih  ingat dengan uang ini??? Apa yang bisa didapatkan dengan uang segini??”. Beberapa saat kemudian Ustadz mengeluarkan uang 100 $Aus. Seiring dengan itu, beliau mengeluarkan HP kamera dibeli di Indonesia dengan harga Rp. 800-an ribu. “Bapak-bapak, apakah dengan Rp. 1000, saya bisa membeli HP ini?… Tapi apakah dengan dengan uang  100 $Aus, ini saya bisa mendapatkan HP ini??… Manakah yang lebih besar 1000 atau 100???…” Jama’ah hanya diam terpaku.

Jikalau dulu kolonialisme dan imperialisme mesti menyiapkan dana yang besar untuk merampas kekayaan suatu negeri,  menyiapkan kapal, pekerja, pasukan, senjata, maka hari ini bentuk penjajahan yang terjadi lebih canggih. Penjajahan lebih halus melalui alat tukar yang bernama uang kertas. Kalau kita cermati, biaya produksi uang Rp. 1000 dengan 1000 $Aus tak jauh berbeda. Tapi mengapa ketika dibelanjakan, jauh berbeda?

Bagaimanakah kita mendatangkan dollar ke Indonesia??? Dengan menjual minyak, gas, batubara, kayu, rotan, barulah kita bisa mendapatkan kertas-kertas yang ditulisi dengan angka-angka itu. Kekayaan alam kita ditukar dengan uang-uang kertas yang tak sebanding disobek sedikit saja sudah tak laku.

Dalam Islam, tidak ada penipuan dan penindasan seperti ini. Mata uang yang ditakrir oleh Rasulullah, dan digunakan sebagai alat tukar internasional sampai kekhalifahan Utsmani adalah dinar dan dirham yang terbuat dari logam mulia, emas. Barang yang ditukar mendapatkan nilai yang sebanding.

Itulah syariat yang ditinggalkan oleh umat Islam saat ini. Baru satu syariat yang ditinggalkan, apa dampaknya??? Luar biasa. Kemiskinan, kemelaratan, dan kelaparan merajalela di negeri-negeri Islam. Maka benarlah firman Allah,

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS.  Thaahaa: 124)

Menyambung apa yang disampaikan oleh Ustadz Abu Haris di atas, saya hendak menyampaikan fenomena yang semakin membuat Indonesia (negeri milik kaummuslimin, bukan negeri milik penganut agama penjajah) semakin terpuruk, yakni berduyun-duyunnya putra-putri terbaik bangsa menjadi kaki tangan penjajah. Ikut berkontribusi menjarah kekayaan alam dari negeri yang permai ini. Menjadi buruh-buruh kapitalis multinasional membawa gelondongan emas, minyak, gas, kayu keluar dengan upah kertas dollar yang tak sebanding dengan kemiskinan sekian ratus juta manusia Indonesia yang ditimbulkan karena perampasan terang-terangan ini.

Di sisi lain, putra-putri terbaik bangsa berduyun-duyun mempelajari ekonomi kapitalis, menjadi pekerja ribawi di bank-bank konvensional. Menyerang syariat, dengan mengatakan ekonomi Islam tidak membawa kesejahteraan bagi kami.

Ya, inilah wajah Indonesia. Bukan satu syariat yang dilanggar, tapi puluhan, bahkan ratusan, atau mungkin ribuan syariat sudah dilanggar. Maka, apakah pantas Allah memberikan rahmatnya kepada negeri yang penduduknya durhaka???

Mudah2an kita termasuk orang yang diselamatkan Allah dari azab, bukan sebagai orang yang menantang Allah dengan argumentasi-argumentasi yang tampak ilmiah, tapi sesungguhnya hanya pesanan dari penjajah yang akan terus mengeruk harta negeri ini hingga habis tak tersisa. Semua berpulang kepada kita, hendak menjadi pembela panji syariah ataukah bergabung bersama perusak-perusak agama – menjadi penindas bangsa sendiri…