Kamis yang lalu, saat kuliah filsafat perennial, dosen saya mengutip perkataan seorang Bikhu menguraikan, “Meditasi adalah sarana untuk mencapai kelapangan hati menuju Maha Kuasa. Jika sholat yang kamu lakukan mengantarkan ketenangan hati dengan mengingat Tuhan, maka sesungguhnya sholat sama saja dengan meditasi.”

Sepulang kuliah aku kembali berpikir, apakah kalimat yang disampaikan oleh dosenku benar adanya? Dalam sejarah dikatakan Fira’un pada zaman nabi Musa juga mengakui adanya Tuhan. Para penyembah berhala di Makkah sebelum risalah Islam datang, bukanlah orang-orang pagan yang bodoh. Mereka tidaklah menyembah berhala tetapi cuma menjadikan berhala sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Patung sapi yang dibuat oleh orang-orang Bani Israil setelah selamat dari kejaran Fir’aun, adalah instrumen yang mereka buat, agar Tuhan segera datang menyelamatkan mereka yang terlunta-lunta di padang pasir. Jika begitu, sesungguhnya tidak ada yang perbedaan berarti antara Fir’aun, Orang-Orang Kafir Makkah, dan Bani Israil penyembah patung sapi?

Lebih jauh dosenku mengatakan, kalau kita perhatikan, penganut animisme dan dinamisme lebih humanis-cinta lingkungan dari penganut agama-agama semit. Mereka tidak asal menebang pohon. Ada ritual dan rasa pengagungan yang tinggi terhadap alam. Sementara agama-agama semit telah menjadi sumber konflik, perang atas nama Tuhan yang melumuri sejarah dengan darah.

Salah satu bentuk pemikiran yang dibawa oleh perennialis, yang merupakan salah satu cabang dari mazhab besar pluralisme agama, adalah hendak menjadikan manusia saling mencintai satu sama lain. Agama yang berbeda-beda pada hakikat menyembah Tuhan yang sama. Apalagi jika kita meletakkan pengalaman religius sebagai pengalaman subjektif masing-masing orang bersama Tuhan, maka tidak bisa diklaim bahwa pengalaman mistik saya lebih benar dari pengalaman mistik anda. Apabila penganut agama tidak lagi melihat kebenaran sebagai hak eksklusif kelompok, maka harapan terciptanya dunia yang damai, tentram dan harmoni akan segera bisa terwujud.

Sepintas lalu, pemikiran perennialistik ini membawa air sejuk di tengah-tengah konflik-konflik agama yang sampai detik ini tiada berkesudahan. Tapi, apabila kita telisik lebih jauh, maka akan didapati beberapa kejanggalan-kejanggalan.

Kaum perennial berasumsi semua agama itu sama saja.   Padahal perbedaan agama yang fundamental adalah perbedaan keyakinan teologis. Sebagai contoh, Agama Yahudi menolak kehadiran Jesus sebagai Messiah, dan penyaliban Jesus sebagai media penyelamatan-penghapuskan dosa-dosa manusia. Nasrani sampai hari ini masih bergerilya memurtadkan orang-orang Islam terutama orang-orang Islam yang miskin di daerah-daerah pelosok. Mereka menganggap risalah Tauhid Nabi Muhammad adalah bid’ah, sebagai penyimpangan teologi Kristen. Orang-orang Islam menganggap keyakinan Nasrani yang mengatakan Tuhan itu tiga, merupakan penghinaan terhadap kekuasaan Tuhan yang Esa.

Samakah Sholat dengan Meditasi??? Sama sekali tidak. Meskipun sama-sama berujung ketenangan jiwa, tetapi yang disembah berbeda. Alam pikiran ketika melakukan dua kegiatan ini juga berbeda. Tuhan yang hendak dituju-pun, dibayangkan secara berbeda.

Alih-alih hendak menawarkan pemikiran yang rasionalistik, Perennialis sebagai salah satu bentuk Pluralisme Agama membangun pemikiran dengan mitos tanpa kritik bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama. Prejudice yang selalu dikampanyekan, tapi tidak berangkat dari penelusuran teologis yang komprehensif.

Orang karena itu, ingatlah firman Allah,

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nimat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nimat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103)