Sungguh berat memulai menulis skripsi lagi, setelah target wisuda november tak bisa kukejar. Persoalannya cuma satu, nilai mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar yang sudah tertera di transkripku sekian lama, tak diakui oleh pihak akademik. Apalagi setelah dicek ke data manual tidak ditemukan salinan mata kuliah ini.  Terpaksalah aku harus mengambil mata kuliah baru, karena mata kuliah jadul ini tidak ditawarkan lagi oleh fakultas. Wakil dekan akademik-ku yang baik, Dr. Arqom Kuswanjono merekomendasikan agar aku mengambil mata kuliah filsafat perennial saja. Kebetulan beliau sendiri yang mengampu. Lagian pak Arqom menjanjikan akan mengeluarkan nilaiku sekitar bulan desember mendekati ujian akhir semester, sehingga aku bisa mengejar pendadaran januari 2009.

Hanya satu yang menjadikanku semangat menjalani kuliah, pasca miss data pegawai akademik yang baru diketahu beberapa hari yang lalu, paling tidak ada kesempatan menambah 1 digit koma dalam indeks kumulatif menjadi 3,6-an. Sementara hadiah ulang tahun ke 25 dengan gelar S.Fil, urung bisa tercapai.

Bab 1 dan Bab 2 skripsiku telah disahkan oleh Bu Septiana, dosen pembimbingku yang baik. Hari kamis esok, bab 3 sudah harus diantar ke meja beliau. Tapi belum satu goresan-pun yang mampu ku ketikkan di lembaran word. Beberapa hari ini, aku malah disibukkan dengan pikiran-pikiran “membunuh” diri sendiri. Larut dalam kekalutan sendiri.

Kegalauan yang membuat aku teramat sensitif. Mudah marah, mudah tersinggung, mudah sekali berprasangka buruk. Dan salah satu “korban” kegilaanku, adalah Mbak Ade yang belakangan ini senantiasa ku tunggu postingan-postingan baru blognya. Mahasiswa S2 UI, yang entah kenapa kalau chat di YM kayak bersua dengan teman lama. Padahal, belum pernah kenal sebelumnya. Hari ini dia marah, kesel karena aku bikin komen “ngak sopan berbau fitnah” di blognya. Hingga, aku “disemprot” habis-habisan. Ya, gimana lagi, terpaksa diterima karena memang aku yang salah. Usai dimarahi, ia-pun mengirim fotonya. Sungguh tak kuduga. Dia bilang, foto ini silahkan disimpan, dan dia berharap tiada rasa curiga lagi di antara kami.

Setamat dari UI, dia mau ke Jerman. Ya, sesuatu yang mudah buat dirinya yang memang tergolong pinter dan berada. Maklumlah S1-nya dulu di Austria. Katanya, di Jerman banyak orang Turki. Jadi ngak terlalu risau untuk menjalani kehidupan berIslam.

Pertemanan dengan orang-orang luar biasa, yang sebelumnya belum pernah kutemui, membuat mataku semakin terbuka. Ternyata dunia yang kutapaki dengan kaki ini baru beberapa jengkal. Masih banyak belantara dunia yang belum ku datangi, masih luas lautan yang belum ku arungi.

Saat impian membumbung tinggi , saat itu juga beban pikiran menghampiri. Hingga lebih sering kaki diam terpaku. Aku belum mengerti dunia. Pandanganku masih terbatas.  Tapi Aku akan terus belajar, biar suatu hari nanti bisa terbang, mengalahkan angin dan waktu.

Aku ingin mengejar “pengetahuan sebenarnya”, setelah selama ini aku hanya menjadi “manusia goa”, terkurung dalam realitas maya. Sindiran  yang ribuan tahun lalu disampaikan oleh Plato kepada  sosok manusia yang hanya mengenal hidup tak lebih sekedar dari bayangan.

Tuhan, izinkanlah aku mengenal insan-insanmu yang mulia, yang engkau tinggikan dengan iman dan ketaqwaan. Izinkan aku menaguk mata air suci pelajaran hidup dari mereka, hingga aku tak lagi hidup dalam fatamorgana. Amien…