Tantangan terbesar para aktivis dakwah bukanlah kemampuan mengadakan tabligh akbar atau seminar dihadiri ribuan orang dengan mendatangkan pembicara-pembicara terkenal. Bukan pula kemampuan mendapatkan ratusan kader tiap tahun untuk dibina dalam halakah dakwah. Tantangan terbesarnya adalah kemampuan memanage hati agar tidak terjerumus dalam keasyikan dan bermasyuk dengan sesama aktivis tapi berlainan jenis.

Benarlah apa yang disampaikan oleh Ustadz Nasir Harist, Lc dalam sebuah kesempatan ceramah tarawih di Masjid Kampus UGM, “Sesungguhnya godaan syaitan itu lemah, dibandingkan godaan lawan jenis.” Mengapa tidak, pertemuan yang intens dalam rapat-rapat dan kegiatan-kegiatan bersama semakin hari membuat hubungan semakin dekat. Berawal dari obrolan biasa, sampai perbincangan antara 2 hati yang berbeda. Ketika cinta datang, rindupun mendera. Karena badan belum kuasa menikah, terpaksalah menjalin hubungan asrama terselubung karena harus menutupi status diri sebagai aktivis Islam.

Bukanlah cinta yang aib, tapi kemampuan untuk mengendalikanlah yang sedang diuji. Hati-hatilah dengan indahnya alunan kata “ukhuwah”. Yang kemudian membuat pandangan mata tak lagi terjaga. Rayuan indahnya ukhuwah telah banyak melenakan, bahkan oleh beberapa pengusungnya telah membuat beberapa ikhwan dan akhwat yang ingin menjaga kemuliaan hati kemudian terjerumus meninggalkan ghaddul bashar karena dipaksa oleh seniornya untuk melihat satu sama lain.

Aku tidak sedang menganggap diri sebagai orang yang bersih, selamat dari godaan ini. Malahan aku membuat tulisan ini karena sudah merasakan sakit dan kegelisahan membiarkan perasaan suka mengembara semaunya. Sudah pernah terjerat dalam cinta tak semestinya karena tertipu oleh kata-kata ukhuwah yang memang manis untuk dilantunkan.

Atas pengalaman demi pengalaman yang telah kudera, ku sampaikan pesan kepada ikhwan dan akhwat yang masih lurus menjaga hati, ketahuilah sesungguhnya menjaga pandangan adalah kenikmatan yang tak terhingga. Aku pernah menggembarakan mata kemana saja, ingin meraih kenikmatan menatap keindahan ciptaanNya. Tapi bukanlah nikmat yang kurasakan, malahan resah berkepanjangan yang datang.

Cinta memang datang tanpa diduga, tapi tahanlah dulu sampai tiba masanya. Sebait kalimat dari seorang teman yang sekarang sudah bahagia dalam jalinan pernikahan ketika ia mengenang semasa masih sendiri dahulu, “Kami adalah hamba-hambaNya yang diberi kenikmatan dengan puasa”.

Btw, menutup postingan ini, aku ingin sekali lagi mengingatkan, “HATI-HATILAH DENGAN FITNAH BERBALUT UKHUWAH”.