Berhenti di perempatan lampu merah AM. Sangaji selepas tarawih dari Masjid Kampus UGM, membuatku miris menyaksikan seorang pengamen tua. Dari raut wajahnya, bapak itu kira-kira berumur 40/50-an tahun. Celana selutut, memegang gricing-gricing botol limun yang dipipihkan, bersepatu ket, sambil mengoyangkan badan menyanyikan lagu yang begitu melekat dalam ingatanku. Sebuah lagu yang mengingatkan akan malangnya nasib di negeri perantauan.

Ya Allah, hatiku berdesir. Namun, entah kekuatan apa yang menahanku untuk meraih uang dari saku celana. Rasa iba yang sekilas tiba, kemudian hilang ketika suara-suara “pengemis, pengamen itu makan enak, bahkan lebih enak dari yang kita makan” yang beberapa ku dengar dari orang-orang yang biasa disebut sebagai ustadz, berkelabat di kepalaku.  Tapi, rasa kasihan itu, masih terasa saat sampai di asrama. Hingga ntuk luahkan rasa bersalah, ku coba menuliskan kalimat demi kalimat ini.

Ya Tuhan, inilah wajah negeriku. Ketika mobil-mobil mengkilat buatan luar negeri berlalu-lalang di jalan-jalan yang dibangun dari sebagian pajak dari barang haram (rokok, dll), saat itu pula pemandangan miris, memilukan hati hadir di depan mata. Sosok-sosok manusia lusuh, yang menadahkan tangan mengumpulkan recehan 100, 500, 1000 rupiah, demi sesuap nasi untuk menegakkan tulang meneruskan hidup yang tak ramah terhadap mereka.

Negeri apa ini Tuhan????? Sungguh bukan salah Engkau, kenapa keadaan ini terjadi. Tapi kerakusan para penguasa dan orang-orang kayalah yang membuat negeri ini melarat dan bergelimangan dengan kemiskinan. Tak kan mungkin sosok-sosok menghibakan hati itu turun ke jalan menjadi peminta-minta, kecuali memang keadilan belum terealisasikan.

Teladan Umar bin Khatab yang tak bisa tidur sebelum mengetahui  “apakah ada rakyatnya yang belum tidur merintih karena lapar?”, yang mengisi buku-buku agama yang laku di bulan Ramadhan, yang berbuih-buih disampaikan para da’i di atas mimbar-mimbar mulia, tak lagi menjadi renungan para penguasa.  Entah bagaimana Tuhan akan menurunkan rahmatnya, jika penguasa tak menunaikan kasih sayang kepada rakyat. Karena kemurahan Allah tergantung kasih sayang di antara manusia.

Tuhan, telah 3 kali engkau kirimkan gempa atas negeri ini ketika 18 hari Ramadhan telah terlewati. Tak ada sesuatu yang datang tanpa sebab. Tuhan, apakah gerangan yang membuat bumi berguncang, hingga penderitaan demi penderitaan terus menimpa negeri ini???