Terlalu membuka diri, ternyata  tak baik juga. Beberapa hari ini aku jengah dengan sms-sms tak jelas yang memaki-maki-ku tak karuan. Bahkan salah satu ungkapan yang tertera di hp-ku, “saya harap anda tidak lagi menyakiti kaum saya”. Aku benar-benar binggung, emang salahku apa, dan apakah aku telah menjadi laki-laki bejat yang menodai banyak wanita??? Jangankan untuk mencium atau lebih dari itu, memegang tangan seorang wanita telah membuat jantungku berdebaran tak karuan.

Tidaklah mereka mengerti, kenapa aku memutuskan untuk terus melafadzkan namamu Great, dalam rangkaian diaryku di blog ini? Bukan untuk terus berharap, karena harapan itu sudah pupus setelah dirimu tak lagi mau bicara dan bahkan menolak hanya sekedar permintaan jadi teman di facebookku. Aku tak ingin menyakiti wanita. Karena aku paham betapa halusnya perasaan wanita. Sebagaimana Kak Siti mengajarkanku tentang hal ini. Tapi ketika mereka memintaku untuk melupakan dirimu Great, tiba-tiba pemberontakkan dalam jiwa hadir. Rasa benci hadir, mengarah kepada mereka yang meminta kepadaku untuk melakukan hal itu. Mereka tak mengerti Great, betapa susahnya mempertahankan cinta yang telah dipupuk semenjak kelas 2 SMP sampai semester 8 kuliah. Mereka tak mengerti, bagaimana sulitnya melupakan cinta karena pandangan pertama.

Aku mengenangmu, bukan untuk berangan-angan memilikimu. Karena cintaku kepadamu ditakdirkan hanya indah dalam kenangan. Aku manusia biasa, yang juga ingin merasakan realita. Tapi aku tak mau ditipu lewat samaran yang seolah indah tapi semu. Aku percaya dengan pandangan nyataku. Dan itulah kupertahankan ketika melihat dirimu Great, dan Liza.

Hari ini, aku kembali menikmati sepi. Di kejauhan malam ini, tanganku masih menari-nari di atas mesin tik komputer. Mataku belum mau terpejam, meski lelah sudah menjerat tubuhku. Entah kenapa? Apakah karena suasana gembira saat sore tadi menghadiri “Buka Bersama Keluarga Besar Muhammadiyah” yang diadakan oleh teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Gadjah Mada? Gembira karena disemangati oleh ceramah Pak Dien Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyah untuk terus membangun IMM. Gembira melihat antusias mahasiswa-mahasiswa UGM menghadiri acara tadi sore, yang menggelorakan optimisme akan kebangkitan IMM. Aliran suka, karena bertemu dengan teman-teman lama . Getaran riang, kembali bersua dengannya, mahasiswa psikologi yang mencuri perhatianku.

Ataukah, mata yang tak mau terpejam hingga detik ini, karena pusing memikirkan satu nilai mata kuliah yang sudah tertera di transkrip nilai, tapi harus dieliminir karena kesalahan teknis yang dibiarkan oleh staf akademik selama lebih 5 tahun. Kesalahan yang baru aku ketahui hari ini, sehingga aku harus menemui Dr. Arqom Wakil Dekan Bidang Akademik. Kecorobohan staf yang mengentri data, sehingga aku mesti mengambil mata kuliah baru agar tak bermasalah di sidang kelulusan nanti.

Entahlah… Ku coba renungi kata-kata Ustadz Nasrullah S.Si NLP yang tadi mengisi ceramah tarawih di Masjid Kampus UGM. Para Sahabat Rasulullah, ketika menghadapi cobaan yang mengelisahkan hati, mereka segera merujuk kepada Al Qur’an. Tidak memandang ayat-ayat yang menceritakan kisah kedzaliman, kefasikkan, kemunafikkan, dan kekafiran kepada orang lain. Tapi mereka menginsafi ayat-ayat itu, jangan-jangan merekalah yang sedang dicela dan disindir oleh Allah. Terlalu banyak memikirkan aib orang lain, membuat hati buta untuk merenungi diri sendiri. Mungkin saatnya mengaca muka sendiri. Sudah seberapa tebalkah debu yang menempel? Sudah seakut apakah hati didera oleh serbuan-serbuan kemaksiatan.

Di malam yang masih menyisakan purnama ini, aku berusaha menyakinkan diri akan kuasa-Mu Ya Allah. Ketika Engkau menciptakan seorang anak manusia, maka saat itu pula Engkau telah tetapkan jalan yang akan dia tempuh. Engkau tiada sedikitpun dzalim dengan ciptaanMu. Diri yang berlumpur dosa ini, hanya mampu menadahkan tangan, menundukkan keangkuhan akan kehinaan dan kelemahan yang dimiliki. Tiada yang mampu mengangkat kami menempati SurgaMu, kecuali kebaikan dan luasnya ampunanMu.

Ya Allah, jika Engkau panjangkan umurku, Engkau berikan kesempatan kepadaku untuk menunaikan sunnah RasulMu, ku mohon Ya Allah, karuniakanlah kepada seorang istri yang sholehan. Yang dengannya ingin ku raih surgaMu Ya Allah. Yang dengan bersamanya, ingin ku gapai ridhoMu Ya Allah… Amien Ya Rabbal ‘alamin