Bertempat di seputar kolam Air Mancur Masjid Kampus UGM, Jama’ah Shahuddin dalam rangka menyambut Bulan Ramadhan 1430 H, Rabu 27 Agustus 2009 yang lalu mengadakan bedah buku “Sumbangsih Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern”. Adapun pembicara yang dihadirkan,  Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi (Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), dan Drs. Adaby Darban, SU (Dosen Sejarah UGM). Pada postingan kali ini, saya hanya akan menuliskan beberapa point penting yang diuraikan oleh Dr. Hamid yang merupakan pakar filsafat Islam Jebolan Birmingham University -Istac IIUM Malaysia.

Dalam sastra Arab dikenal sebuah pepatah, “Yang penting bukanlah bangga dengan keberhasilan yang telah digapai, namun bagaimana memahami kenapa kegagalan terjadi”. Perspektif ini perlu dikedepankan agar pembicaraan mengenai kegemilangan Peradaban Islam pada abad pertengahan tidak dipandang sinis sebagai luapan “romantisme belaka”.

Saat ini terjadi arus sistematis dan besar-besaran “penghilangan identitas” umat Islam lewat kampanye Globalisasi. Untuk memuluskan proyek ini, maka Barat memproduksi buku-buku ilmiah dalam bahasa Inggris, sehingga ilmu hanya bisa diakses lewat penguasaan terhadap bahasa Inggris. Di sisi lain, jenggot, baju koko, gamis, jilbab, dan  cadar distigmakan sebagai “costum” teroris.

Padahal dulu, saat umat Islam berjaya, orang Barat rela memakai pakaian ala Arab dan berkomunikasi dengan bahasa Arab, untuk menaikkan “prestise”, dianggap sebagai intelektual. Saat ini, fenomena itu terbalik, umat Islamlah yang meniru cara berpakaian Barat dan mesti menguasai bahasa Inggris agar dianggap “modern”.

Memajukan ilmu semata-mata untuk kepentingan ilmu dan manusia, telah membuat peradaban Barat di ambang jurang kehancuran. Ilmu yang hanya bersandarkan humanistik yang dikembangkan Barat saat ini, telah menghasilkan masyarakat yang kehilangan orientasi hidup.

Berbeda dengan Barat, Islam memandang ilmu sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan. Ilmu dalam Islam selalu disandarkan pada pijakan theistik. Mencari ilmu bagi setiap muslim dan muslimat adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga dalam sejarah Islam tidak pernah terjadi “tradegi Gereja Abad Pertengahan”, dan kebinggungan polarisasi ilmu dengan teologi.

Para Filsuf Yunani, bisa bangkit dari jeratan “mitos” menuju “logos” mengandalkan kemampuan berpikir “deduktif (umum-khusu)” yang menghasilkan pengetahuan spekulatif (kira-kira/prediksi). Sementara membawa semangat rasionalistik Yunani, Islam mampu menciptakan pola logika “induktif” lewat observasi. Sehingga pengetahuan yang didapatkan tidak lagi berupa kira-kira/prasangka, tapi sudah memasuki ranah pembuktian secara objektif di lapangan.

Satu hal yang perlu mendapatkan perhatian kita adalah originilitas pemikiran Thomas Aquinas, salah satu filsuf abad pertengahan yang dielu-elukan oleh kaum Nasrani. Berdasarkan penelitian Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, MA. M.Phil, diketahui bahwa karya hebat Aquinas, “Summa Theologia” adalah plagiasi dari karya Al Farabi dan Ibnu Rusyd.

Melihat keterpurukan umat Islam beberapa dekade ini, tentu baik jika kita mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kegemilangan umat Islam di masa lalu:

1. Faktor Politik: khalifah zaman dulu peduli dengan ilmu.

2. Pedagang menyisakan uangnya untuk pelajar dan ulama. Dulu buku-buku ulama dihargai senilai dengan emas (berapa berat buku yang ditulis, seberat itulah emas akan didapatkan sebagai bentuk apresiasi atas kerja ilmiah mereka).

3. Ekonomi yang kuat. Pada zaman dulu di Damaskus, sulit mencari penerima zakat karena orang sudah berkecukupan.

4. Kebanggan memiliki buku daripada memiliki barang.

5. Frekuensi halakah  ilmiah sangat tinggi.

Pada saat itu, lahirlah ilmuwan besar yang saat ini diakui oleh Barat, Ibnu Sina. Ada cerita menarik tentang interaksi Ibnu Sina dengan Al Farabi. Sebagaimana diketahui, Al Farabi merupakan filsuf Islam penganut Aristotelian. Ibnu Sina mendapatkan buku Al Farabi dari pasar buku loakan. Al Farabi merupakan penerjemah Aristoteles yang canggih. Lewat Al Farabi-lah orang-orang Barat baru bisa memahami pemikiran Guru Alexander the Great ini. Setelah dibaca berkali-kali, barulah Ibnu Sina paham. Setelah itu, Ibnu Sina menulis sebuah buku terkait dengan Aristoteles yang lewat buku ini.

Ada juga serangan yang menyudutkan umat Islam, dengan mengatakan “tradisi ilmiah dalam Islam mundur dikarenakan pemikiran dan karya-karya Al Ghazali”. Menurut Dr. Hamid, ini merupakan pendapat orientalis yang salah memahami pemikiran Al Ghazali. Pengarag Ihya ‘Ulumuddin ini sebenarnya mengkritisi pandangan Ibnu Sina yang mengatakan “ilmu yang rasionalistik tidak perlu dijustifikasi lewat kebenaran teologis”. Pandangan Ibnu Sina ini mempengaruhi Ibnu Rusyd, sehingga lahirlah “double truth) yang saat kemudian dalam tradisi Nasrani dan modern terpolarisasi menjadi “kebenaran Tuhan” dan “kebenaran ilmiah”.

Kalau ditelaah karya Al Ghazali yang menyerang filsafat, “Tahafut  al Falasifah”, maka ini tidak akan didapati satupun ayat Al Qur’an. Artinya, Al Ghazali adalah seorang pemikir yang tidak anti dengan kemampuan berpikir manusia. Dia hanya menkritisi kecendrungan membawa ilmu lepas dari nuansa iman. Maka kemunduran Islam bukanlah dikarenakan Al Ghazali, tapi karena takdir dan penghancurand dari luar. Oleh karena itu, jika ada yang mengatakan orang Islam saat mundur karena terlalu banyak memikirkan akhirat, maka pandangan ini benar-benar salah. Realita yang kita temui sekarang adalah umat Islam mundur karena terlalu sibuk memikirkan dunia, sehingga kehilangan ruh keimanan dalam menuntut ilmu yang berpengaruh pada produktivitas yang rendah.