Salah satu kenikmatan yang paling kusyukuri adalah bisa hidup dengan normal dan berteman dengan orang-orang yang hidup dengan cita-cita. Ya, setelah 2 hari yang lalu tidur di atas jam 1 dinihari dengan kegiatan yang ngak jelas, akhirnya tadi malam aku bisa tidur lebih awal, setelah merampung tadarus Al Qur’an. Dan pagi ini, sahurpun bisa dilakukan mendekati shubuh sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah.

Sempat tadi terpikir, mengenang sosok spesial yang pernah menjadi bagian perjalanan hidupku, hanya akan membuatku hidup dalam kegelisahan masa lalu. Ibarat menangkap hembusan air dengan tangan, hanya kehampaan saja yang akan diperoleh. Sementara waktu terus berjalan, dan kemarin tak bisa diulang menjadikan aku hanya larut dalam angan-angan.

Memang masa lalu menjadi indah jika dikenang, tapi hidup bukan cuma buat restropektif. Berjalan dengan bayang-bayang dan lamunan masa silam hanya akan membuat kaki tak tetap melangkah di atas realitas kekinian.

Ya, sms-sms dengan seorang sahabat lama yang sudah lama tak berkomunikasi, yang membuatku sadar dalam bekapan ketidaksadaran. Dia sekarang sudah menjadi pengajar tahfidz di Diniyah Putri, salah satu pesantren ternama dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Selain itu, bulan oktober depan kalau tak ada halang rintangan, dia sudah kuliah lagi selama 2 tahun untuk merampungkan hafalannya.

Aku tersadar dari belenggu kekalutanku. Jika kita bisa berpikir jernih, sungguh banyak hal yang bisa dilakukan selagi muda. Selagi kekuatan fisik dan pikiran masih maksimal. Btw, makasi ya Nad atas sms-sms inspiratif tadi malam.