Greaty, tahukah dirimu, salah satu lagu Kak Siti Nurhaliza yang paling senang kudengar sehabis bersua denganmu di SMA dulu adalah “Bicara Menghiris Kalbu”. “Sad Song” yang saat ini kudengarkan lewat komputer yang telah menjadi teman kesendirianku beberapa tahun belakangan ini.

Bukan karena syairnya yang persis dengan kisah asmaraku kepadamu, tapi karena alunan sendu Kak Siti yang begitu dalam membawakan lagu ini yang membuatku menyukainya. Tiap kita berjumpa begitu sederhana kata yang terlontar dari lisanmu, sapaan “hai” saja dengan iringan senyuman manis. Suara lembutmu sudah membuatku tak bisa memejamkan mata ketika malam dan sering tertawa sendirian.

Hari ini, tiada kutemui pengalaman seperti bersamamu dulu. Akupun hanya bisa sekuat tenaga memanggil memori yang terjadi lebih dari 7 tahun yang lalu itu. Hanya samar-samar yang kudapatkan. Tapi cukuplah mengobati kerinduanku kepadamu.

Greaty, saat ini aku sedang berkutat dengan skripsiku. Baru masuk Bab 2 dari 5 bab keseluruhan skripsi. Kumainkan jemari di atas keyboard lewat semangat yang dialirkan oleh Kak Siti dan semangat yang dulu pernah engkau hadirkan untukku. “Satu minggu satu bab”. Itulah tekad yang kupatrikan. Karena target wisuda bulan November tahun ini harus bisa kugapai. Aku juga rindu dengan pakaian dinas ala pegawai yang engkau kenakan Great. Sebagaimana yang ku lihat dari foto-foto yang engkau rilis di facebook. Aku juga ingin merasakan bagaimana nikmatnya menyandang gelar sarjana di belakang nama.

Great, dulu aku meraih impian kuliah di UGM karena spiritmu. Sekarang, akupun ingin di akhir masa studi, saat aku melewati puncak ujian merampungkan studi, semangatmulah yang menjadi motivasiku. Karena engkaulah cinta pertamaku. Ku yakin, “Cinta pertama akan kekal selama-lamanya”.

Selamat malam Great. Selamat menikmati buka puasa. Aku hanya bisa menyapamu goresan ini. Karena engkau jauh di sana. Tempat yang tak mampu kujangkau dengan asaku…