Tiada aku bermaksud merendahkanmu. Bacalah kembali bait demi bait kata yang ku gubah. Aku tak sedang mencaci ataupun menghinakanmu. Aku sedang menampar diriku sendiri. Aku sedang menghujat diriku sendiri. Membenci diriku yang tak pantas untuk engkau cintai, karena keadaan diriku yang terhuyung, jauh sosok yang engkau impikan.

Jangankan mengurus orang lain, mengurus diri sendiri saja aku masih tak sanggup. Betapa tidak aib, di usia yang akan memasuki seperempat abad aku masih saja bergulat dengan kuliah. Masih saja menadahkan tangan, meminta uang kiriman dari orang tuaku. Sementara teman-temanku yang lain sudah bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Bukan aku ingin merendahkanmu. Sesekali tidak. Karena aku tidak diajarkan untuk merendahkan orang lain oleh para guruku. Apa yang bisa diharapkan dari orang yang tak jelas masa depan dan keadaannya sepertiku ini? Orang yang masih dibayangi mimpi-mimpi. Padahal hidup adalah nyata. Apakah yang bisa diharapkan dari orang yang takut dari realitas??? Tidak ada kan???

Sementara, di luar sana banyak pemuda yang lebih baik. Banyak yang lebih sholeh. Lebih jelas masa depannya. Aku hanya ingin dirimu mengalihkan pandangan pada mereka. Meski dengan cara yang agak menyakitkan. Tapi itu lebih baik daripada menjalin hubungan denganku, pemuda yang belum menjadi “laki-laki”.

Aku tak tahu apa yang terbaik untukku. Tapi ku berharap, tak lagi berhubungan denganku membuat dirimu lebih baik dan menemukan orang yang baik. Bukan pecundang sepertiku. Lewat goresan ini, aku hanya bisa meminta maaf kepadamu. Karena lewat ini bisa kusampaikan setelah engkau tak lagi memperbolehkan untuk dihubungi dan facebookkupun telah engkau remove. Semoga hari-harimu indah, karena ku yakin orang sebaik dirimu akan selalu diiringi kebahagiaan. Hanya senyum yang bisa kutitipkan sebagaimana yang sering engkau bilang kepadaku, “keep spirit and istiqomah”…