Sebenarnya aku tak ingin mendiamkanmu. Tapi sebuah kalimat yang ku baca dari wall facebook seorang teman yang dulu pernah kukagumi membuatku tercenung lama. “Kami adalah hamba Allah yang diizinkan untuk berpuasa”. Begitulah bait kalimat yang menohok begitu kuat dalam diriku.

Begitu lama aku bergelut dengan kajian-kajian menjaga pandangan dan aturan-aturan mengenai hubungan 2 anak manusia berlawanan jenis bukan muhrim. Ketetapan syariat yang belakangan ini ku terjang begitu saja. Larut dalam kata dan laku yang tak lagi terkendali.

Sebait kalimat itu menyadarkanku. Menamparku begitu hebat. Aku terhuyung. Gamang, tak sadarkan diri. Kembali aku takut dengan cinta dan hal-hal yang berbau nikah. Bukan karena aku mengingkari Sunnah Nabi nan begitu agung ini. Tapi, aku merasakan belum sanggup untuk menjalani amanah ini.

Masih panjang jalan yang mesti kutempuh. Masih kabur jalan di depan pandangan. Masih banyak hal yang ingin kuraih dengan status “sendiri”. Aku tak bisa berjanji dan tak bisa menjanjikan apa-apa.

Selain itu, harus kuakui, belum bisa aku melupakan “someone” yang diingatkan oleh syair-syair kak Siti. Masih kuat wajahnya bersemanyam di hatiku.

Aku tak ingin menyakitimu dengan keadaan ini. Saat ini, biarkanlah aku sendiri… Kembali pada rumahku yang sebenarnya… Tempatku berimajinasi dan menumpah kreasi. Tanpa harus menganggu keberadaanmu. Aku hanya bisa menyampaikan salam perpisahan. Bukan sebagai tanda pemutus silaturrahim. Tapi aku ingin menyelamatkan dirimu untuk tidak lagi mengharapkanku. Dirimu bebas untuk memutuskan menikah dengan siapa saja. Karena menunggu rintik hujan di musim kemarau, jika engkau menungguku…

Iklan