Kuawali hari ini Sholat Shubuh berjama’ah di masjid. Aku begitu terkesan selama kedatangan 3 hari rombongan Jama’ah Tablig dari Sumatera Barat. Bapak-bapak yang baik itu membangkitkan semangat ibadahku yang belakangan ini berantakan. Tak lagi ada rasa curiga dan antipati. Celaan-celaan yang dulu kudengarkan tentang jama’ah yang berpusat di Nizamuddin Delhi India ini tiada lagi mengacaukan pikiranku. Malahan yang banyak diceritakan oleh Bapak-Bapak yang kebanyakan sudah mapan itu adalah kisah-kisah hidup mereka yang dulu bisa dikatakan berkubang dalam “Kejahiliyahan”. Tak terlalu banyak dalil agama dan kutipan-kutipan dari Fadhail Amal yang menjadi buku rujukan utama Jama’ah Tabligh. Malam terakhir rangkaian Jaulah (menginap dari Masjid ke Masjid yang dilakukan oleh Jama’ah Tabligh) di Masjid Asramaku, kamipun makan bareng. Surprise, di malam itu mas Sakti mantan personel Sheila on Seven ikut makan berjama’ah. Lucunya, mas Sakti masuk asramaku malah lewat dapur. Spontan saja anak-anak asrama pada kaget.

Sehabis Sholat Shubuh, kuantarkan Adik satu kamar dan anak baru asrama ke kampus. Ya, minggu ini adalah masa ospek di UGM yang sekarang namanya berganti menjadi Pelatihan pembelajar Sukses Mahasiswa Baru. Karena berdekatan dengan kampus, aku langsung saja meluncur ke PP. Muhammadiyah Cik di Tiro menghadiri pengajian kamis pagi yang hari ini diisi oleh Ustadz Faturrahman, Lc., M.Si. Salah satu ustadz favoritku, alumni Universitas Islam Madinah. Aku memang benar-benar ingin merefresh kepalaku. Maklumlah, tadi malam otakku pusing mendengarkan ceramah dari salah seorang Ustadz di Masjid Asrama. Gaya ceramah sang Ustadz yang katanya sering ngisi kajian di TV dan Radio tadi malam membuat ghirah agama hilang. Ceramahnya tak lebih seperti pemain teather dengan nada bicara yang dibuat-buat. Kontan saja, aku jengah melihat ustadz dari Medan itu.

Kata Ustadz Fatur, berkutat dalam narasi fiqih membuat orang seringkali kehilangan ruh agama. Aspek-aspek batin dikalahkan karena sibuk mengurus hal-hal lahiriah. Imam Al Ghazali melihat fenomena dominasi fiqih ini telah membuat umat terpecah dan kehilangan orientasi. Makanya beliau mencoba merubah paradigma itu dengan menulis kita Ihya Ulumuddin. Imam Al Ghazali yang pernah memimpin Universitas Nizamiyah di Baghdad, telah melahirkan generasi Salahuddin Al Ayyubi yang mampu memenangkan Perang Salib di Palestina. Ya, Salahuddin adalah salah satu alumni Nizamiyah.

Hari-hari terakhir ini kata Ustadz Fatur, wilayah opini public akan digiring dalam perdebatan penentuan awal Ramadhan oleh media. Padahal perbedaan rukyah dan hisab sudah familiar pada masyarakat. Tapi tetap saja perdebatan ini menghangat menjelang Ramadhan. Memang wacana kita sering dimainkan oleh media yang memang harus mencari topik-topik “panas” sehingga menarik minat masyarakat. Alur berpikir masyarakat Indonesia dibayangi oleh heroik dramatisasi. Maka tak salah sinetron-sinetron kacangan jadi laris dan meraih rating tinggi.

Janjian jam 10 pagi di kampus dengan Bu Septi dan Pak Agus Himawan. Menyerahkan proposal skripsi yang baru selesai kemarin. Mudah-mudahan rencana penulisan selama 40 hari bisa ku kejar, sehingga target wisuda November tahun ini bisa tercapai. Mendapat sambutan yang begitu baik dari pak Agus dan buk Septi membangkitkan optimisme di hati.

Saat berdiri di depan perpustakaan, tiba-tiba bu Widi lewat. “Hai Anggun. Kamu tambah anggun aja……. Eh, aku datangi blogmu secara periodik lho”. Sapaan surprise dari bu Widi membuat hatiku berbunga-bunga. Bahagia karena bu Dosen yang paling cantik di fakultas Filsafat (versi diriku dan beberapa teman-teman) adalah salah satu dari sekian banyak pengunjung blogku ini. Serasa melayang deh…he2..

Malam ini, emosiku naik. Anak-anak asrama yang terlalu kegirangan, mengacuhkan azan Isya dari Masjid yang bertetanggaan dengan asrama. Sampai-sampai teriakan mereka mengalahkan suara azan. Benar-benar jengkel aku jadinya. Sampai-sampai gayung yang berisi air yang dipegang oleh teman angkatan asrama putri, kupukul keras. Anak-anak masih cegigisan. Entah apa yang diriangkan. Tak salah jika warga kampong semakin antipati.

Huh… Baru kemarin Sakti memberikan pencerahan sama anak-anak asrama, tapi semua seolah lenyap di bawa angin. Malam ini aku ingin tidur saja. Biar kemarahanku hilang, berlalu bersama mimpi.