Kukatakan pada seorang adek di Asrama, bahwa diriku masih sendiri. “Aku masih menunggu Siti Nurhaliza” atau kalau beruntung bertemu dengan seorang gadis yang secantik, sebaik, yang memiliki suara semerdu suara Kak Siti. Aku bercanda dengan ungkapan ini, meski aku pernah punya cita-cita untuk meraih impian ini.

Diamku beberapa hari yang lalu, kepergianku dari facebook beberapa waktu bukanlah tanpa sebab. Aku berusaha kembali ke titik nol. Mencoba memulai semua dari awal lagi. Mereda emosi yang tak stabil belakangan ini. Gelora kembali ke Salafi bercampur dengan kenyataan diri yang sudah jauh dari agama dan etika Islami.

Menjadi orang biasa yang tak diburu oleh perasaan bersalah. Namun, mencoba untuk bergaul dengan cara yang baru, malah membuatku semakin aneh. Semakin membuat orang heran dengan tingkahku.

Belakangan ini, aku mencoba merenungi apa yang telah kujalani selama ini. Aku mencoba berpikir telah apa yang telah kulakukan. Aku bertanya pada diri, apakah ada yang salah? Aku bertanya pada hati, kemanakah harus melangkah? Aku bertanya pada sunyi siapakah sebenarnya yang benar-benar berkesan di sanubari?

Sehabis Shubuh tadi, aku kembali terlelap. Kantuk tak bisa ku tahan. Menjelang bangun, aku bermimpi. Pada suatu tempat dan orang-orang yang sangat akrab di pikiranku. Kembali aku menjumpai dia. Seorang gadis yang telah merebut hatiku selama lebih dari tujuh tahun. Ya, aku kembali bersua dengan Greaty. Wajahnya begitu jernih kupandang. Masih seperti dulu, saat terakhir kali aku bersua dengannya di SMA.

Entahlah, mengapa dirimu begitu kuat bersemanyan di alam bawah sadarku Great. Sudah 7 tahun, setelah kita tak pernah berjumpa lagi selepas tamat SMA. Masih saja aku bisa merasakan sensasi jiwa yang pernah engkau tanamkan dulu. Rasa bersalah dan sedih bercampur semangat dan harapan.

Di pagi ini, dirimu hadir hiasi mimpiku. Aku tak tahu makna di balik semua ini. Sementara kenyataan, jauh dari yang terlintas dalam alunan tidur. Aku hanya mencoba menikmati kesendirianku. Menikmati takdir yang memayungi hidupku. Engkau kekal dalam jiwa, karena syair-syair yang dialunkan Kak Siti persis sama dengan deraan cintaku kepadamu.

Entahlah… Sampai kapan aku bisa melupakanmu Great…

Kamis, 13 Agustus 2009 07.30