2 malam kemarin, kuhabiskan beberapa saat di luar asrama. Memang bukan kebiasaanku menghabiskan malam ditemani angin malam, tapi 2 hari ini aku ingin saja menghirup udara malam Jogja. Selasa malam kuhabiskan waktu makan nasi goreng di rumah makan Aceh dekat Borubudur Plaza dan Rabu malam kemarin, kusabangi lapangan terbuka SO di ujung Malioboro dalam rangka memberikan support sama adik-adik asrama yang tampil dalam acara pekan budaya yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Jogja.

Lumayan juga bule-bule yang nongkrong menyaksikan tampilan tari dari 5 daerah kemarin malam, Kalimantan Selatan, Kepulauan Riau, tuan rumah Yogyakarta, Sumatera Barat dan Bali. Menilai mana penampilan terbaik, tentu agak sulit bagiku. Maklumlah, kan aku bukan anak ISI yang bergelut dengan hal-hal berbau seni. Tapi aku terpukau dengan lentikan penari dari Bali, yang begitu kemayu menggerakan tubuh seiring irama musik.

Yang bikin pusing kepala adalah aksi “pacaran” para bencong yang ikut nimbrung dalam acara tadi malam. Capek deh lihat tingkah orang-orang yang kehilangan identitas ini. Tapi mau apalagi, mereka eksis di tengah-tengah kita. Mau ketawa, takut menghina. Mau marah, ya mereka juga manusia yang juga punya hati. Akhirnya, kunikmati saja aksi para bencong ISI sebagai fenomena sosial yang tak bisa kita pungkiri keberadaannya.

Asyik berfoto-foto ria dengan teman-teman asrama, aku tersentak menyaksikan seorang gadis kecil yang begitu lahap memakan sesuatu. Astagfirullah, ternyata ia makan nasi sisa yang tadi tidak dihabiskan oleh anak-anak tari. Ketika kita tertawa dengan perut kenyang sampai-sampai membuang makanan karena sudah merasa tak membutuhkan lagi, ternyata ada orang-orang yang kelaparan sampai rela memakan makanan sisa. Ya Allah… Betapa hinanya diri ini yang tak tersentuh dengan penderitaan gadis kecil yang harus berjuang untuk meraih sesuap nasi menganjal perut demi mempertahankan hidup. Oh……..

Selasa malam kemarin, sehabis makan enak di Rumah Makan Aceh, tiba-tiba datang seorang nenek tua yang sudah bungkuk menghiba dengan kaleng di tangannya. Menadahkan tangan meminta belas kasihan dari pengunjung rumah makan. Ya Tuhan, aku hanya tergerak mengambil uang seribuan dari kantongku. Betapa pelitnya aku…

Di sela-sela tawa bahagia yang mengiringi hari-hariku beberapa ini, ku temui momen-momen memilukan hati. Menemui insan-insan Tuhan yang papa, didera oleh derita. Menyentakan hati untuk bersyukur sekaligus berempati. Menyadari keberadaan orang lain yang jauh dari kecukupan. Menyadari keegoisan yang terlalu kuat tertanam dalam diri.

Tadi siang, tak kusangka tak kuduga Ustadz Ridwan Hamidi menelponku. Suprise banget. Ku kira ustadz dah lupa sama aku, apalagi saat kajian Ahad Pagi 3 minggu yang lalu, aku begitu kecewa ketika ustadz tak mengubris pertanyaanku. Aku menduga sudah diacuhkan sama ustadz karena memang diriku sudah jauh dari jalan agama. Aku sudah beranjak menjadi “orang gila”, bergelimang dengan maksiat. Aku benar-benar bahagia tadi siang. Mendengarkan suara ustadz yang lembut. Suara yang selalu kurindukan untuk mengobati kesusahan hati saat iman berada di titik terendah.

Aku tahu setiap orang bisa begitu mulia ketika ia berkehendak untuk melakukan hal-hal yang mulia. Aku sadar bahwa masih banyak orang-orang yang mencintai dan membutuhkan kehadiranku. Aku terbangun dari tidur yang melenakan. Bangkit dari mencaci diri terus menerus. Aku harus bisa lakukan yang terbaik buat agamaku, orang tuaku, guru-guruku, keluargaku dan insan yang kucintai- yang mencintaiku. Ya, aku harus bangkit. Karena kuyakin akan ada cahaya menyinari hari esok….