Aku tak tahu kalut apa yang menyergapku pagi ini. 2 kali hampir tabrakan, sampai umpatan-umpatan membatin yang menyelimuti otakku. Entah kenapa emosiku bangkit di pagi yang cerah ini?

Sepulang sholat Shubuh dari Masjid, sudah datang pikiran mengelisahkan jiwa. Berpapasan dengan ibu-ibu yang juga ikut sholat, mengingatkanku pada kata-kata Ustadz Yunahar Ilyas. “Sebagian orang Islam zaman sekarang memang aneh. Di saat perempuan sudah kemana-mana, eh masih ada yang melarang perempuan sholat ke masjid. Apologi yang sering dilontarkan adalah ‘menghindari fitnah’.”

Akupun sependapat dengan Ustadz Yunahar. Kelompok yang mengharamkan perempuan sholat di masjid itu, malah tidak begitu getol melarang wanita untuk datang ke pasar, mall, supermarket ataupun tempat-tempat umum lainnya. Tapi kenapa kalau ke masjid dilarang? Benar-benar aneh. Apakah fitnah di mall, pasar tidak ada, tapi kalau di masjid malah banyak syetan yang berkeliaran??? Kenapa masjid menjadi wilayah tertutup dan berasumsi laki-laki yang datang ke masjid punya niatan buruk dan berahi yang besar. Sehingga jikalau ada wanita yang ikut sholat, akan merangsang para lelaki? (Agaknya baik untuk membaca artikel bagus di sini)

Maaf, kalau kata-kataku saat ini sedemikian kasar. Aku memang benar-benar muak dengan klaim kebenaran sepihak oleh kelompok-kelompok tertentu yang menganggap dirinya lebih sholeh, mengikuti sunnah rasul. Mengiring orang pada ego ekslusif, bahwa orang-orang yang tidak berpenampilan seperti kelompok mereka adalah para pelaku bid’ah, orang yang tidak mendapatkan rahmat.

Saat-saat naik darah seperti ini, aku hanya ingin mendengarkan suara kakakku tersayang, Kak Siti Nurhaliza. Terserah jika ada yang mengatakan, “engkau ibarat membersihkan pakaian dengan air kencing”. Aku punya pikiran, punya rasa, punya hati. Aku bisa berpikir yang terbaik untuk diriku. Aku tak butuh sapaan orang-orang yang menganggap dirinya suci. Aku hidup dengan jalanku sendiri. Akupun bisa memahami agama dengan pikiranku sendiri. Tanpa perlu didoktrin dengan apa yang mereka miliki. Enyahlah kalian yang telah menghancurkanku selama ini…