Kembali siang ini sepi. Dirimupun diam, berlalu entah kemana. Kucuba untuk menyapa, tapi hanya hening yang tersisa. Aku tak tahu dimana salahku. Apakah begitu menyakitkan sebuah permintaan yang tadi pagi kusampaikan itu? Apakah itu melanggar idealisme yang engkau yakini? Ataukah merubah dirimu menjadi seseorang yang baru?

Aku tak tahu harus bersikap apalagi. Aku tak terbiasa dengan dilema ini. Di saat aku mencoba untuk mencintai, saat itulah aku hanya mengalami sesuatu yang tak mampu kupahami. Aku masih belajar. Belajar mencintai, belajar menyayangi, belajar mengerti hati.

Aku tak mudah jatuh cinta. Ketika cinta itu hadir, sulit bagiku untuk melepaskan diri darinya. Kucurahkan segala asa untuk mencintaimu. Karena telah kupatrikan “Engkaulah Kekasihku”.  Tak ingin aku mengkhianati, tak ingin aku membagi hati. Namun, tetap saja aku kembali menyakitimu.

Aku terus berlari mengejar equilibrium dari keresahan-keresahan yang kualami. Membujuk perasaan untuk tidak larut dalam kesedihan.

Setelah ini, aku hanya bisa menunggumu. Sampai dikau kembali bersuara. Aku sudah tak tahu lagi bagaimana membujuk dirimu nan merajuk.  Kekasih, aku akan mencoba sabar menunggu hening yang alunkan…