Kajian Ahad Pagi – Maskam UGM 26 Juli 2009


Dibangunkan oleh suara adzan dari Masjid sebelah, alhamdulillah pagi ini kembali bisa shubuh di Masjid. Segera bersihin ruang tv, karena minggu ini dapat giliran piket, agar bisa hadiri kajian Ahad Pagi di Masjid Kampus yang beberapa minggu ini tak sempat kuhadiri.

Sampai di Masjid Kampus UGM 06.30, ruang masjid masih terlihat sepi. Selang beberapa menit, barusan Ustadz Abu Abdirrahman datang. Kata panitia, Ustadz Ridwan Hamidi berhalang hadir, makanya Ustadz Abu-lah yang mengantikan.

Kajian pagi tadi membahas QS. Hud ayat 15-16:

15. Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (QS. 11:15)

16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS. 11:16)

Menurut penjelasan para ulama, amal perbuatan yang dilakukan oleh manusia bisa digolongkan menjadi 3:

  1. Orang yang beramal semata-mata demi kepentingan dunia. Inilah tipelogi orang kafir.
  2. Orang yang beramal mencari keridhaan Allah sekaligus mencari kenikmatan dunia. Ini adalah orang yang belum sempurna imannya.
  3. Orang yang beramal semata-mata atas dasar keikhlasan mengharapkan keridhaan Allah. Inilah orang-orang yang benar imannya.

Dalam kehidupan ini, masing-masing orang memiliki karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu perlu treatment-treatment khusus pada orang-orang tertentu. Dalam hal ini menyampaikan maslahat syariah diperbolehkan dengan syarat hanya sebagai wasilah, bukan sebagai tujuan. Misalnya, ajakan sholat dengan memaparkan keuntungan sholat dan puasa bagi kesehatan dari tinjauan medis, berlimpahnya harta jika rajin bersadaqah, serta hal-hal yang lain.

Alkisah, pada suatu ketika Syaikh Muhammad Abduh ditanya oleh koleganya dari Barat, kenapa Islam melarang umatnya untuk memakan babi?  Abdul tidak menjawabnya mengunakan ayat, “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Al-Baqarah: 173), namun mengungkapkan jawabannya lewat sebuah analogi yang cerdas. Mengetahui bahwa orang Barat sangat kental memegang empirisme, maka Abduh meminta untuk dilakukan sebuah penelitian tentang perilaku ayam dan babi. Pada kandang pertama, dimasukan sepasang ayam dewasa. Tampak kedua ayam itu melakukan perkawinan.  Kemudian dimasukkan pejantan lain ke dalam kandang yang sama. Jantan kedua ini menunjukkan rasa ketertarikan kepada betina. Namun, jantan pertama terbakar emosinya. Kemudian terjadilah pertarungan antara 2 jantan itu. Pada kandang yang lain, dimasukan sepasang babi. Tak lama kemudian terjadilah perkawinan antara mereka. Jelang beberapa lama, dimasukkan babi jantan ke dalam kandang yang sama. Babi kedua ini berahi terhadap betina di dekatnya. Alih-alih babi jantan pertama mempertahankan betinanya, malah ia mempersilahkan jantan yang baru kawin dengan sang betina. Artinya, lewat penjelasan ilmiah bahwa makanan berpengaruh terhadap perilaku, Abduh mampu meruntuhkan kesangsian orang Barat tersebut tentang syariat Islam.

Manusia adalah makhluk yang dinamis. Seiring waktu dan keadaan, hatinyapun mengalami perubahan terus-menerus. Oleh karena itu, untuk menjaga hati tak menjerumuskan manusia dalam perkara-perkara yang diharamkan ketika mengalami titik nadir, maka kita butuh bimbingan guru dan lingkungan yang mampu memberikan nasehat di saat iman lemah. Sangat penting memilih teman dalam menjaga keistiqomahan dalam beragama.

Untuk mencapai keikhlasan memang sulit. Salah satu penyakit yang meruntuhkan keikhlasan adalah riya. Salah seorang ulama terkemuka mengatakan “Beribadah karena manusia adalah kesyirikan. Meninggalkan ibadah karena manusia adalah riya”. Riya harus dihilangkan dengan melawan bisikan-bisikan riya yang ada di dalam hati. Bukan malah memudarkan semangat untuk beribadah. Misalnya, di saat kita mencoba untuk melafadzkan alqur’an dengan suara merdu, kemudian timbul bisikan untuk mengharapkan pujian, maka bisikan itu harus dihilangkan, seiring kita tetap membaca alqur’an dengan suara yang lebih bagus. Sama halnya dengan orang yang mengatakan ” saya tidak mau sholat jama’ah di masjid, karena takut riya”. Pemahaman seperti ini harus dihilangkan, katena ibadah itu ada 3 macam:

  1. Ibadah yang mesti ditampakan, seperti: haji, sholat jama’ah, dan sebagainya.
  2. Ibadah yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekat, seperti puasa, sadaqah.
  3. Ibadah yang hanya kita dengan Allah saja yang mengetahui, seperti zikir.

Maka sholat jama’ah yang merupakan syariat dari Allah tak boleh kita ingkari dengan dalih tidak mau menampakkan amalan.

Iklan

One thought on “Kajian Ahad Pagi – Maskam UGM 26 Juli 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s