Kajian Kamis Pagi di PP. Muhammadiyah Yogyakarta yang diisi oleh Pakar Tafsir Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc. masih membicarakan tentang kisah Nabi Isa ‘alaihissalam. Pagi yang dingin menghampiri kota Jogja sehabis hujan di beberapa tempat, tak membuat antusias jama’ah luntur. Yang datang lebih banyak dari minggu lalu, meski kalau dibandingkan dengan minggu2 saat aktif kuliah lebih sedikit. Maklumlah, mahasiswa-mahasiswi yang biasa mengikuti kajian ini banyak pulang kampung atau ikut KKN dengan penempatan di berbagai daerah.

Banyak yang dipaparkan oleh Ustadz Yunahar tadi, tapi yang menarik bagiku ada 2 hal. Pertama tentang orasi para da’i yang banyak menjemukan. Kedua, pola pengkaderan yang dilakukan oleh organisasi pelajar dan mahasiswa.

Terkait hal yang pertama, Ustadz Yun menceritakan, kalau diperhatikan dalam siaran-siaran rohani yang disiarkan televisi, tampak pendeta yang menyampaikan khutbah begitu semangat memaparkan pesan-pesan suci Kristus. Mereka punya orasi yang bagus, bersemangat, dan mampu memainkan emosi pendengar. Dalam salah satu perjalanan ke AS, Ustadz Yunahar bertemu dengan seorang pendeta Afro-Amerika yang memiliki nafas panjang. Sehingga ia mampu merangkai kalimat-kalimat panjang hanya dalam satu helaan nafas. Sehingga setiap mengakhiri kalimat, para jemaat bertepuk tangan, bahkan melakukan standing applause. Hal ini tampak kontras dengan situasi Da’i-Da’i Islam yang berceramah seperti “orang kurang gizi”. Suara datar dan pelan, wajah memelas, tidak mampu membakar semangat jama’ah, ataupun membangkitkan emosi jama’ah. Maka tak jarang momen sholat Jum’at menjadi momen tidur siang mengasyikan bagi kebanyakan jama’ah, bukan karena capek, tapi menurut penulis lebih dikarenakan ketidakmampuan para da’i membawa khutbah yang menginspirasi dan membawa semangat bagi pendengar.

Sempat terpikir oleh penulis, bagaimana kalau untuk khatib-khatib jum’at ada standarisasi khusus yang mesti dipenuhi, sehingga tidak sembarang orang yang bisa memberikan khutbah jum’at. Jangankan masjid-masjid yang dikelola oleh masyarakat, Masjid Kampus UGM yang dikelola oleh universitas yang diisi ratusan professor dan ribuan orang pintar masih kelabakan untuk menghandle hal ini. Maka, tak mengherankan jika dalam beberapa Jum’at khatib yang dihadirkan ibarat menyanyikan lagu tidur untuk jama’ah. Padahal, berceramah dengan suara lantang dan bersemangat adalah sunnah khutbah penting yang ditekankan oleh Rasulullah.

Kedua, tentang pola pengkaderan di organisasi pelajar dan mahasiswa. Menurut Ustadz Yun, saat ini pembinaan internal kader/anggota cendrung terabaikan. Organisasi-organisasi lebih banyak melakukan aksi-aksi advokasi, yang meskipun baik untuk melatih rasa empati kepada sesama, tetapi apabila tidak diiringi dengan pembinaan internal, akan menjadi persoalan tersendiri. Terutama untuk organisasi dakwah pelajar dan mahasiswa, seharusnya training untuk menguatkan aqidah, ibadah, akhlak menjadi fokus utama selain keterampilan-keterampilan lain seperti ceramah, membaca alqur’an, keahlian bahasa dan lain sebagainya. Kalau pengemblengan internal sudah kuat dan ada keteladanan dari Ustadz dan senior-senior maka harapan untuk hadirnya generasi Hawariyyun sangat besar. Oleh karena itu, ini menjadi tugas para petinggi organisasi dakwah untuk mengkonsep arah pengkaderan, sehingga tumbuhnya kader-kader militan tak lagi menjadi impian belaka.

Mendung pagi sudah berganti panas. Saatnya meneruskan aktivitas. Mengerjakan tugas-tugas yang belum terselesaikan. Mesti tetap semangat. Karena masa depan ditentukan oleh apa yang kita kerjakan hari ini… Fastabiqul khairat…

Iklan