2 hari ini aku memang berada di titir nadir. Aku kehilangan semangat untuk meneruskan kehidupan. Aku menjadi labil, emosional tak karuan. Aku begitu membenci diriku sendiri. Menyumpahi setiap kegagalan yang telah ku torehkan.

Aku menyadari sesungguhnya kuliah 7 tahun adalah keterlaluan. Aku paham bagaimana kedua orang tuaku begitu malu dengan keadaanku yang belum juga wisuda, sementara teman-teman satu SMA sudah bekerja dan mandiri dengan penghasilan sendiri. Aku mengerti betapa sulitnya mencari uang.

Tapi kenapa di akhir ini sepenggal kalimat yang meruntuhkan semangat harus keluar dari Bapak? Apakah tak cukup penjelasan bagaimana aku berjuang untuk melawan doktrin filsafat itu haram selama lebih dari 4 tahun?? Sejak awal kuliah diolok-olok oleh uda satu kamar di asrama dengan statusku sebagai mahasiswa filsafat, tapi tak pernah memahami kondisi diriku? Berjuang belajar agama di Salafi dengan mencari pengajian demi kajian sendiri di sekitar UGM, hanya untuk mencari jawaban apakah filsafat itu Haram atau tidak. Sudahlah bercapek-capek mengayuh sepeda saban pagi, siang, sore, malam untuk menghadiri pengajian, namun hanya senyuman kecut yang diberikan oleh teman-teman satu pengajian pada diriku yang lusuh, “scholar of philosophy” pembelajar “ilmu setan” itu. Berangkat dari 60 sks di semester 7 dengan IPK jeblok. Dan, setelah titik kumulasi di tahun 2006 aku bisa menghabiskan teori di semester kemarin dengan raihan IPK 3,5. Apakah perjuanganku tiada berarti???

Aku hanya minta waktu 4 bulan lagi, mengejar wisuda bulan November esok. Meminta waktu untuk merampungkan skripsi, bukan satu tahun, tapi cuma 4 bulan Pa. Bukankah membuat sebuah skripsi itu teramat sulit, membutuh pikiran dan tenaga ekstra. Apakah untuk sesuatu yang berat ini, tiada kesempatan bagiku untuk meminta waktu???

Siapa mahasiswa yang tidak ingin diwisuda dengan cepat? Tapi dilema demi problema yang kuhadapi di sini begitu berat. Ini bukan Sumatera Barat, dimana persaingan dan kultur masih dalam taraf regional. Ini UGM Pa, universitas no 1 di Indonesia. Yang membuat anak kampung sepertiku harus mengejar ketertinggalan.

Entahlah, aku tak tahu harus memberikan penjelasan apalagi… Mudah2an Bapak mengerti…

Aku akan melanjutkan hidupku, melanjutkan kuliahku apapun yang terjadi. Simpati dari Pak Dr. Saafroedin Bahar (Anggota Komnas HAM, pengajar Pasca Sarjana UGM) membuatku bangkit kembali. Aku tak menyangka, tulisanku di wall facebook mengundang beliau untuk menanyakan keadaanku. Pak Saaf Doktor berbintang, karena memang beliau aktif di militer, lulusan Amrik yang ku kenal lewat seminar dan diskusi di milis Rantaunet, rela memberikan nasehat dan motivasi agar aku kembali bangkit. Aku terharu, di saat aku merasa ditinggalkan oleh orangtuaku, ada seseorang seperti Pak Saf yang membujukku untuk menghapus airmata. Pak Saf makasi atas semuanya…hikss…

Buat sahabatku yang turut berempati, Wanda,  Kiki, Kasmir, thanks ya. Aku merasakan bahwa persahabatan memang tak tergerus oleh jarak dan perjalanan waktu. Makasi sahabat.

Untuk dirimu yang kucintai, maafkan aku yang telah melukai hatimu. Lewat sms dan sikapku tak mengacuhkan telepon darimu. Aku benar-benar kalut dua hari ini. Yang membuatku memilih untuk berdiam diri. Aku tak mengingkari apa yang telah kuucapkan padamu. Aku percaya engkau menjaga cinta ini. Aku percaya hatimu begitu tulus untuk menjaga ikatan ini. Maafkan aku yang telah mengecewakanmu. Ku harap, masih ada maaf untuk diriku ini…

Aku tak menganggapmu gadis desa. Malahan engkau telah mengalahkan gadis kota yang kutemui di sini. Hanya kesempatan yang tak engkau miliki. Dirimu baik, cerdas, dan sholehah, mungkin lebih dari mahasiswi-mahasiswi UGM yang kutemui di sini. Apakah engkau memaafkanku kekasih???