Kehadiran para-para filsuf yang dianggap sebagai orang bijaksana/”ahli hikmah” telah membuat manusia tersadar untuk kembali merenungi arti kehidupan. Tapi, sebenarnya apakah kebijaksanaan itu?

Menjadi sebuah simbol kematangan seorang manusia, menjadi “bijaksana” tentu impian banyak orang. Karena orang bijaksana adalah mata air tempat bertanya, sosok yang dikagumi sekaligus dihormati oleh banyak orang.

Setiap kali aku mengunjungi blog seorang akhwat lulusan Austria, aku tercenung memahami kata-kata yang dirangkainya. Bagaikan Kalimat-kalimat yang ditulis oleh orang yang telah berumur 60-an tahun dengan renungan mendalam.  Tulisan dengan nuansa reflektif sebagaimana ku rasakan ketika membaca tulisan-tulisan Buya Syafi’i akhir-akhir ini  yang  lebih filosofis daripada  analisis empiris.

Gadis manis yang belum genap berusia 25 tahun itu begitu dewasa menghadapi hidup. Mencoba menangis sendiri, dan tak ingin berkeluh kepada orang lain. Mengapa? Satu hal yang dapat kutangkap dari tulisan-tulisannya adalah ia sangat percaya, semua hal menyakitkan menimpanya semata-mata takdir yang Allah timpakan kepadaNya. Jika terus berkeluh-kesah berarti kita mengabaikan kesempatan yang diberikan Allah untuk semakin meningkatkan kemuliaan diri di sisiNya.

Aku selalu terpukau dengan pribadi kuat seperti gadis ini. Begitu pula yang kurasakan ketika melihat gadis-gadis kuliahan yang berpeluh mengayuh bersepeda ke kampus. Aku lebih respek sama mereka dibandingkan cewek-cewek kampus yang bergelimang kemewahan dan glamor karena beruntung lahir dari orang tua yang kaya.

Meski ku tahu tidak ada manusia yang tak pernah menangis, tak ada manusia yang tak pernah menghadapi masalah, tapi aku memang lebih suka melihat sosok-sosok yang mencoba mengartikan problema yang sedang dihadapi tanpa harus tergesa-gesa curhat pada orang lain.

Mungkin, itulah yang kualami. Aku tak terbiasa curhat dengan orang. Karena seringkali curhat-curhat yang cuba kusampaikan hanya menambah beban pada orang tempat ku bercerita. Malah aku diabaikan, sering pula pertemanan semakin jauh. Makanya aku lebih suka menuliskan apa yang kurasakan di blog ini. Bukan untuk mencari simpati. Tapi semata-mata meluahkan perasaan yang mesti ditumpahkan. Siapa yang berkenan untuk membaca silahkan. Yang tidak suka, tidaklah mengapa.

Entah kenapa, akupun mengimpikan gadis dewasa dengan kekuatan hati seperti itu. Apakah sekarang aku sudah menemukannya? Jujur ku jawab belum. Impian-impian perfeksionislah yang membuatku sering bermimpi dan tak mudah untuk menyukai seseorang. Saat SMP dan SMA aku tergila-gila dengan gadis secantik putri salju yang memang jadi primadona di SMAku. Pas kuliah, aku tergila-gila sama gadis bersuara merdu seperti penyanyi negeri jiran Siti Nurhaliza.

Aku tak tahu jika denganmu aku menemukan sesuatu yang mampu membuat hatiku terpesona. Sampai sekarang, jujur kukatakan belum ada. Aku masih mencoba mengenalmu. Mencoba untuk menghilangkan impian-impian utopisku yang melangit. Aku mencoba untuk menyanyangi, tapi maaf, aku belum bisa menyanyangi. Aku belum bisa memberikan janji, karena memang aku masih sibuk mengurus diri sendiri.

Aku tidak akan berlagak seperti Arjuna yang mampu menyelamatkanmu dan menghiburmu setiap waktu. Karena hari ini, aku lebih mencintai diriku sendiri dari siapapun. Aku lebih menyenangi keegoisanku daripada bersimpati dengan kesedihan yang engkau rasakan.

Mendambakan kedewasaan dari diriku, agaknya belum bisa engkau dapatkan. Aku masih senang dengan laku-laku kebebasan. Membiarkan imajinasiku berkembang, mengembara entah kemana. Melihat dunia dengan berbagai warna.

Aku hanya menjalani hidup sebagaimana adanya. Aku tak ingin mengumbar janji kepadamu, karena aku tak yakin mampu menepatinya. So, aku masih ingin bebas. Dekat denganmu, hanyalah media bagiku untuk mengenal lebih jauh tentang “insan” yang bernama “perempuan”. Soal ‘cinta’, bukankah kata ini hanyalah indah jika dituliskan dalam syair-syair para pujangga??? Lagian tak ada batas yang jelas antara cinta dan kebencian, rindu dan kejenuhan.

Hari ini aku hanya menjalani takdirku. Dan memang takdirku harus berjumpa denganmu. Jika memang harus menikah denganmu, ya itulah catatanNya yang tertulis untukku. Jika aku harus melanjutkan pengembaraan, ku harap engkau tiada kecewa. Karena hidup bukanlah kita yang menentukan. Karena kita hanyalah pemain skenario yang menjalani apa yang sudah ‘dinaskahkan’.

Kedewasaan memang tak diukur oleh usia. Tapi pengalaman hidup memang membuat manusia semakin arif untuk menjalani kehidupannya. Tentu bahagia orang yang telah memiliki kebijaksanaan sejak masa muda… Tapi tak semua orang bisa seperti itu. Mungkin termasuk diriku…