Tak seperti biasanya, jum’atan di Masjid Kampus 2 hari yang lalu kulalui dengan kegelisahan. Bukan karena khutbah yang tak bermutu, bukan pula karena suara imam Ustadz Muhammad Nur (juara MTQ nasional yang jadi imam tetap Masjid Kampus UGM), tapi sms perpisahan yang kusampaikan padamu beberapa jam sebelum berangkat ke Masjid Kampus-lah yang membuatku pikiranku kalut tak menentu.

Sebuah keputusan yang kuambil karena emosional, rasa benci kepada diri sendiri yang begitu kuat, dan ketidakmampuanku untuk membalas kebaikan yang telah engkau berikan selama ini, membuatku merasa tak pantas untuk menjadi insan spesial di hatimu.

Resah, marah, dan kecewa pada diri sendiri becampur aduk di hati. Rasa sunyi menyergap. Sepi menghiasi jiwa yang kosong. Hampa, sungguh terasa hampa. Kehilangan yang membuat mataku hanya melihat gelap, hingga ingin rasanya aku mati saja.

Entah apa yang terjadi padaku. Telah mampu kulewati masa-masa sulit, kecewa karena “kasih tak sampai”. Aku masih enjoy kehilangan sosok-sosok berkesan yang menambat hati ini. Aku masih bisa tertawa, ketika akhwat yang cuba ku dekati mengatakan, “Mas, maaf… Saya sudah bertunangan”.

Tapi, ketika mengucapkan kata berpisah kepadamu, serasa sinar mentari yang begitu terang tak mampu lagi terangi jalan yang akan ku tempuh. Aku masih bertanya apakah ini yang dinamakan cinta itu???

Saat aku linglung dan habiskan waktu setelah jum’atan di kampus ntuk ringankan debaran jiwa, suara lembutmu kembali menyapaku. Dengan tenang engkau merangkai kata. Dengan kedewasaanmu tiada nada emosi yang engkau lantunan. Engkau masih mengajak untuk tertawa. Seolah tiada yang harus disesali. Tiada beban yang mesti dipikirkan terlalu serius. Suaramu yang hilang beberapa waktu, hadirkan riang yang mengisi hari-hariku 2 bulan ini.

Percakapan terjadi seolah tidak ada masalah antara kita. Seolah tak pernah kata perpisahan terucap dari lisan ini. Dan akhirnya, kita saling berbesar hati untuk menerima kesalahan masing-masing. Tiada silaturahim yang terputus, karena engkau masih sedia menemaniku. Masih sedia menjadi gadis spesial di hatiku.

Kekasih, betapa aku semakin rindu bersua denganmu. Aku rindu mendengarkan suaramu, tak lagi lewat handphone yang menjalin rasa di antara kita selama ini… Semoga rasa ini bukan kemaksiatan kepadanya. Karena ku yakin, Allah menciptakan cinta bukan untuk menjerumuskan hambaNya di lembah kenistaan. Kekasih, semoga aku bisa menjemput cintaku yang saat ini engkau semai di hatimu…