Sejak tadi malam engkau diam. Hingga pagi ini, engkau terus hening tanpa kabar. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Akupun cuma bisa terpaku di sini. Hendak menghubungimu, aku takut engkau masih menyisakan marah kemarin sore. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa, bisa berkenalan dengan gadis baik dan cerdas sepertimu. Sungguh berarti buat orang pinggiran sepertiku yang selama ini tak lebih sosok yang terlempar dari pergaulan dunia.

Aku kembali marah pada diriku sendiri. Kenapa aku begitu kasar menyakiti orang yang baik sepertimu. Kenapa aku tak bisa bermuka manis dan juga memahami perasaanmu. Aku terlalu egois dengan jalan pikiran dan kehendakku sendiri. Sikap yang tak baik untuk menjalin sebuah hubungan.

Barusan engkau menelponku. Tapi aku masih tak sanggup menerimanya. Masih kelu lidahku untuk bicara denganmu. Aku tak tahu harus berkata apa. Maafkan aku…

Saat kesendirian, aku sangat mendambakan cinta. Tapi setelah dekat dengan seseorang yang begitu baik dan begitu tulus memberikan perhatian, aku seolah kehilangan peta, bagaimana harus melangkah. Alam bawah sadarku, terlalu terbiasa dengan penolakan. Ketika, engkau datang, aku tak mampu segera membiasakan diri. Tidak lagi seperti waktu sendiri dengan keegoisanku, tapi harus menyadari bahwa ada perasaan seorang gadis yang mesti diperhatikan. Aku masih belum mampu untuk melakukan hubungan yang pelik karena cinta seperti ini.

Pernah juga seorang teman mengatakan, “Meskipun engkau lari saat ini, tapi engkau takkan bisa menghindar dengan hal ini. Kelak engkau mungkin akan menghadapi problematika yang lebih sulit dari sekedar hubungan biasa”. Tapi, belum juga mampu kupahami benar apa yang dikatakan oleh temanku itu. Entahlah, mungkin aku masih menikmati kebebasanku sebagai manusia yang tak terikat hubungan apa-apa.

Apa yang ini yang namanya cinta itu? Alunan bahagia, sedih, resah, rindu dan marah bercampur begitu cepat. Sorenya masih tersenyum dan ketawa bahagia,  tiba-tiba malam suasana sudah berubah, hening, resah tak menentu. Apakah ini rasanya dimabuk asmara itu?

Entahlah. Aku juga pusing. Kata-kata menyakitkan terlanjur kusampaikan. Hati yang tersakiti tentu, tak bisa diobati seketika itu jua. Bahkan sangat mungkin bertahan hingga bilangan tahun. Daripada harus menanggung dosa lebih berat lagi, pada detik ini aku mohon maaf yang sebesar-besarnya kepadamu.

Engkaulah adalah permata. Tapi mataku yang kabur, hatiku yang berdebu, tak mampu menangkap indahnya kilau cahayamu. Tak pandai aku menghargai ketulusan, kemuliaan dan kebaikanmu. Karena dari dulu aku memang pecundang. Orang yang berhati kasar, yang tak mampu menghargai perasaan orang.

Sekarang, biarkanlah aku pergi. Daripada aku terus saja menyakitimu. Aku masih gila dengan pikiranku. Aku takut engkau akan terus terluka dengan kegilaanku yang datang tak menentu. Semoga engkau menemukan orang yang baik, dan tulus menyintaimu kak… Selamat jalan…