Uang seratus ribu yang diberikan oleh koordinator daerah Jogja atas kerjaku di Team Relawan Garuda (salah satu team dari 9 team pemenangan JK-Win) terasa hambar setelah sore ini sepulang menjadi saksi pendamping TPS, aku menyaksikan perolehan suara Pak Jusuf Kalla dan Pak Wiranto jauh dari yang ku bayangkan sebelumnya. Harapan akan terjadi perubahan dan hasil yang berbeda dari hasil-hasil survey yang dilakukan oleh berbagai lembaga akhir menguap tak berbekas.

Apa mau dikata, 50% lebih rakyat Indonesia telah membuat keputusan untuk “lanjutkan” kondisi yang sekarang ini. Terus mau apalagi? Tidak perlu dicederai pemilu sekarang ini dengan tindakan anarkis dan kekerasan karena kecewa dengan hasil pilpres. Tidak perlu mengklaim rakyat menginginkan yang lain. Rakyat sudah merasa nyaman dengan kondisi sekarang. Ayo mau apalagi? Tidak perlu perubahan ataupun slogan-slogan pro kerakyatan. Rakyat yang mana diklaim?

Telah nyata, rakyat masih menyenangi SBY sebagai pemimpin negara ini. Rakyat masih senang dengan pemimpin yang punya wibawa dan pandai membawakan diri. Rakyat masih suka dengan pemimpin yang pandai membangun image dan punya “sopan-santun”. So, mau apalagi?

Terserahlah mau kemana negara ini mau dibawa oleh sang pemenang. Bukankah rakyat telah menyerahkan mandat? Jadi biarkanlah bangsa ini akan digiring oleh para elite yang saat ini sedang tersenyum sumbringah. Oleh politikus yang akan menguasai lembaga-lembaga negara.

Susah untuk mengharapkan check and balance. Karena parlemen sudah dikuasai oleh Demokrat dan Partai pendukung koalisinya. Sehingga susah untuk diharapkan akan ada koreksi terhadap kebijakan presiden SBY.

Entahlah. Jika saat acara bedah buku Jum’at 3 Juli yang lalu, Prof. Syafi’i Ma’arif masih mengecam orang-orang yang sudah pesimis dengan nasib negeri ini, saya tak tahu apakah setelah jagoannya kalah dalam pilpres hari ini sikap optimistis dengan nasib bangsa ini masih ada dalam hati Buya Syafi’i? Entahlah…

Mungkin benar apa yang disampaikan oleh politisi ulung Bang Andi Mallaranggeng dalam email beliau yang diduga bocor oleh banyak kalangan. Bung Andi menulis:

***************************************************

Kontrol media, mohon jadi pertimbangan

Menurut saya, kita masih on the track. Isu yang menyudutkan saya di Makasar, masalah di Medan, DPT bermasalah, atau omongan ngaco PS tentang GBK tidak akan mempengaruhi pemilih. Apa dia punya bukti kita memanipulasi media. Masyarakat kan melihat media sendiri lah yang menentukan berita mana yang pantas mereka turunkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ada beberapa argumen yang bisa memperkuat keyakinan saya bahwa beragam isu ini tidak akan mempengaruhi kita.

Pertama, bangsa kita berada pada tahap puncak konsumerisme yang menyebabkan kaburnya identitas Nasional. Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila itu tinggal jargon2 saja. Jadi orang akan memiih dari apa yang mereka lihat dan sukai dan itu jelas masalah pembawaan dan penampilan. Masyarakat konsumen tidak akan peduli dengan apa yang dibawa oleh orang tersebut. Mau kapatalis, sosialis, atau neolib sekalipun, mereka tidak akan pedulikan. Yang penting mereka puas dengan penampilan si kandidat.. Dan kandidat itu adalah SBY-Boediono. Jadi, kejadian saya di Makassar kemarin itu tidak usah dipikir terlalu berat, itu hanya sebuah eksperimen kecil saya untuk melihat apakah isu berbau SARA masih mendapat tempat di masyarakat kita? dan saya sudah mendapatkan jawabannya, memang betul terjadi sedikit riak di Makassar sana dan mungkin elektabilitas JK langsung meningkat tajam. Tetapi lihatlah pada hari pencontrengan nanti, masyarakat tetap tidak akan bergeming dari pilihan kita. Sebab bagi masyarakat konsumen, yang penting bukanlah isu, tetapi penampilan dari kandidat. Ibaratnya blackberry vs pancasila, jelas ketahuan mana yang laku dan tidak sekarang ini. Masyarakat kita mati2an berhutang kiri kanan buat beli blackberry makin lupa lah sama pancasila. Ingat bung, Obama bisa jadi presiden hanya karena konsumerisme dan kapitalisme di AS sedang runtuh sehingga penduduknya kembali ke nilai-nilai kebangsaannya yaitu “all men are created equal”, makanya kulit hitam bisa jadi presiden. Kalau ndak ada keruntuhan ekonomi ndak mungkin kejadian tuh Obama boss.

Kedua, Fadli Zon cs tidak percaya bahwa politik aliran sudah mati di Indonesia. NU, Muhammadiyah apalah yang lain juga sudah tidak seperti dulu lagi. Kita kan juga liat sendiri, kyai kan UUD juga akhirnya toh, tinggal mana yang kantongnya paling dalam dan janjiny paling manis aja. Dan kita kan main cantik sekali seperti anda liat. Lalu, orang seperti ini ini juga tidak mau belajar dari sejarah kepemimpinan nasional di Indonesia. Sejak negara ini berdiri, semua presiden yang naik itu karena kecelakaan sejarah. Bung Karno diangkat menjadi presiden, karena Jepang kalah dari sekutu dan terjadi vacuum of power pada masa itu. Soeharto naik juga akibat kecelakaan sejarah yaitu terjadinya peristiwa 65. Nah yang lucu, setelah itu kecelakaan sejarahnya semakin ngaco. Reformasi bergulir tahun 98, menghasilkan presiden yang buta. Presiden buta dijatuhkan, naik pula lah perempuan bisu. Kalau politik aliran memang belum mati, sudah pasti Mega atau Habibie jadi. Lagipula kalau memang ada politik aliran maka alirannya pasti jawa, laki-laki, militer dan islam. Non jawa seperti saya dan teman-teman ini kan sudah memang tempatnya jadi king maker saja, lebih enak ndak repot tapi kebagian serunya toh. Makanya SBY berbeda, dia muncul by design yang matang lewat pemilihan langsung.

Ketiga, ancaman tentang gerakan mahasiswa dan rakyat itu sudah tidak relevan lagi dengan iklim demokrasi sekarang. Hanya mimpi siang bolong yang bisa menghadirkan kekuatan mahasiswa. Bahkan tahun 98′ pun banyak orang salah meletakkan sejarah itu sebagai kebangkitan mahasiswa menggulingkan Soeharto. Padahal bukan begitu. Itu memang jatuhnya Soeharto dan mahasiswa jadi alat saja, tapi memang jumlahnya besar sekali jadi secara visual kelihatan seperti sebuah fenomena gerakan mahasiswa yang digerakkan sebuah pemikiran kebangsaan. Buktinya tidak ada satu pun tokoh mahasiswa yang jadi legenda karena pemikirannya di tahun 98′. Rama yang jadi tokoh terpopuler pun ternyata Cuma onggokan omong kosong saja dan sebentar lagi berangkat pula ke bui. Jadi tidak perlu khawatir mahasiswa kita ndak ada yang berkualitas pemikirannya sampai bisa menggerakkan massa jadi selalu menunggu ditungangi. Dan yang menunggangi tidak pernah pintar sehingga selalu ketahuan sehingga masyarakat tidak pernah percaya lagi sama kredibilitas demo mahasiswa jadi tenang saja boss. Kita mengontrol pikiran dan sentiment public sekarang, ndak ada yang bisa kalahkan itu. Sudahlah, rakyat tidak percaya lagi pada mahasiswa. Kita datangin mereka ke tv saja mereka sudah senang sekarang. jadi Bos, gerakan mahasiswa itu bukan lagi suatu hal yang menakutkan sekarang.

Lagipula, taruhlah media tidak lagi “bersahabat”, itu hanya segelintir. Media itu bisnis bung, owner nya ndak mungkin ambil risiko untuk lima tahun ke depan. bisa ndak makan mereka kan. Yang penting anda kan sudah dijelaskan dan ditunjukkan. selama skenario utama tetap terjaga, Cuma hitungan hari kok dan jadilah kita berangkat ke Bermuda kan haha…… ingat saja, skenario ini sudah lima kali dites dan tidak pernah gagal.. Dengan persiapan sudah lebih lama dan panjang, skenario sekarang jauh lebih sempurna.Ndak usah paniklah dengan semua isu yang berkembang ini, mereka lupa musuh utama adalah waktu, bukan kita. betul kan? Kalau orang ini memang bisa berbuat sesuatu kan sudah lama dia lakukan.

Ok boss, nda usah kuatir dengan FZ cs, mereka itu cuma angin sepoi-sepoi. Tiga hari lagi dan lima tahun ke depan kita selesaikan urusan dengan mereka
satu persatu.

***************************************************

Benar kata Bang Andi. Saat ini orang tidak lagi mempersoalkan  ideologi. Yang penting saya bisa makan,  kebutuhan saya terpenuhi. Sudah jarang di negeri ini orang yang rela mati demi ideologi. Buat apa mempertahankan ideologi jika kehidupan melarat? Pancasila cukuplah dibahas dalam seminar-seminar di gedung-gedung mewah oleh para akademisi. Cukuplah menjadi simbol negara yang tampak gagah dipajang di dalam konstitusi. Tapi bagi masyarakat wacana-wacana tentang Pancasila hanyalah omong kosong belaka. Orang lebih butuh Blackberry, biar tiap saat bisa facebook-an.

Hari ini sudah usang membicarakan harga diri bangsa. Jika, kemarin2 banyak orang yang marah karena ulah Pangeran Kelantan terhadap Manohara, itu hanya ekspresi emosi sesaat dan imbas dari masyarakat tidak mau, seorang yang layak menjadi IDOL seperti Manohara diperlakukan secara tidak baik oleh orang Malaysia. Cuma itu saja. Bukan karena rasa kecemburuan dan kemarahan yang timbul dari sikap cinta bangsa – bela negara.

Jika besok BBM jadi dinaikan, mahasiswa tidak usah marah dan turun ke jalan. Karena rakyat sudah dengan sadar bisa menerima semua kebijakan dari Pak SBY yang begitu dicintai rakyat. Tidak valid jika anda menjustifikasi perjuangan anda demi rakyat. Karena rakyat sudah rela untuk dibujuk dengan BLT dan bantuan tunai ratusan ribu lainnya. So, sekarang lebih baik belajar baik2. Biar anda bisa jadi pejabat dengan gaji puluhan/ratusan juta. Atau jadi pekerja hebat di perusahaan besar dengan gaji yang bisa menyelamatkan kesejahteraan anda dan keluarga sampai beberapa keturunan.

Jadi, terimalah takdir bahwa hari ini lebih 50% rakyat memilih SBY-Boediono. Mau apalagi?????