Aku tak ingin lagi “sakit hati” yang membuatku “semangat” ntuk melangkah. Aku tak ingin “dendam” yang memberikanku nafas melanjutkan hidup. Luka karena cinta, pedih karena dihina, terkucil di tengah pergaulan manusia. Aku teramat mendambakan cinta, kasih sayang dari seseorang.  Bukan dengan menjual nama sebagai mahasiswa UGM. Bukan dengan memamerkan derajat keluarga. Aku ingin dicintai apa adanya.

Dan hari ini, kurasakan hangatnya kasih sayang yang telah lama ku impikan itu. Telah ku temui bidadari yang menemani hari-hari sepiku. Seorang gadis yang begitu baik. Ibu guru muda yang begitu memikat hatiku.

Aku tak mengharapkan perkenalan dengannya. Tapi ia datang tiba-tiba, tak pernah kuduga sebelumnya. Sejak perkenalan pertama, entah kenapa, hati ini sudah terjatuh dalam alunan asmara.

Sayang, dia lebih tua dariku. 4 tahun kurang 2 bulan. Malangnya, aku hidup dalam masyarakat yang masih patriakhis. Menempatkan laki-laki harus lebih tua daripada perempuan jika hendak melangsungkan pernikahan. Percuma saja kubaca buku-buku feminis yang berjejal di perpustakaan kampusku, jika Bapak sudah marah besar ketika kuberitahu aku lagi dekat dengan gadis yang lebih tua dariku. Itu baru kukatakan “dekat”. Apalagi jika yang kusampaikan kata-kata “nikah”. Mungkin aku sudah disuruh pulang dan meski memperbaiki pikiranku yang sudah “tak normal”.

Melawan stigma negatif tak beralasan yang hidup di masyarakat, kuasa aku lakukan. Tapi melawan “pemikiran” Bapak dan Ibu, itulah yang tak sanggup. Meski sudah disekolahkan di UGM, dengan jurusan yang berkutat dengan pemahaman pemikiran-pemikiran para filsuf seantero dunia, tetap saja aku dianggap sebagai anak kecil, yang belum mampu memilih dengan benar jalan hidup yang harus ditempuh.

Hendak pula aku mengatakan, bukankah Nabi Muhammad menikah dengan Ummul Mukminin Khadijah juga selisih usia 4 tahun (Rasulullah berumur 25 tahun dan Khadijah menurut salah satu riwayat berumur 29 tahun). Nabi Yusuf yang tersohor dengan ketampanannya juga menikahi perempuan yang berumur lebih tua. Bung Karno sang proklamator negeri ini, juga menikahi bu Inggit Ganarsih yang lebih tua. Pak Natsir ketika menikahi Ummi juga berusia lebih muda. Pak Natsir (lahir 17 Juli 1908) pada tahun 1934 mempersunting Puti Nur Nahar lahir 28 Mei 1905).

Jika orang-orang besar yang mengukir tinta sejarah peradaban umat manusia melakoni kisah percintaan “suami lebih muda dari istri”, kenapa jika ada sepasang anak manusia di zaman ini yang juga saling menyayangi harus ditertawakan dengan ejekan-ejekan tak pantas? Dimana salahnya? Dimana khilafnya?

Jikalau pandangan yang mau dikedepankan adalah ketidakpantasan, kepemimpinan, ekonomis, dan pertimbangan kesehatan, mungkin tulisan Suami Harus Lebih Tua dari Istri? bisa menjadi menjadi benteng pertahanan.

Aku tak ingin menyalahkan keadaan. Menangisi  kenyataan bahwa saat ini aku mencintaimu kak. Aku tak akan marah kepada kedua orang tuanya yang masih gamang dengan hubungan kita.

Cuma aku mengalami kegamangan. Aku tak bisa memberikan janji apapun kepadamu.  Tak mampu bersikap ksatria untuk memperjuangkan rasa ini dalam maghligai yang diredhaiNya. Aku tak  tahu bagaimana cara melabuhkan rasa ini. Bagaimana caranya membujuk orang tuaku.

Itulah yang membuat sakit. Sehingga hanya bisa mengatakan kepadamu “Kak, aku tak bisa menjanjikan apa-apa. Jika ada yang datang kepadamu, pemuda sholeh yang hendak melamarmu, dan engkaupun redha dengan dirinya, silahkan engkau menyempurnakan din ini Kak.”

Aku sudah terbiasa kecewa dalam bercinta.  Dan hari ini, ketika hatiku begitu ingin bersamamu  dan engkaupun telah menyatakan rasa yang sama kepadaku,  jika  keredhaan orang tua itu tak bisa jua kuperjuangkan, aku ikhlas melepasmu kak. Aku sudah biasa sakit karena cinta. Takdir Tan Malaka yang tak bisa bersatu dengan kekasihnya, kisah kasih tak sampai, hidup membujang seumur hidup, jika memang itu kenyataan terburuk yang akan ku terima, aku sedia untuk menjalaninya.

Airmataku sudah kering. Hatiku sudah beku. Biarkan angin malam terus menderu. Dan ombakpun terus menyapu pasir putih di tepi pantai. Aku memang pemuda sunyi. Hidup sepi dalam nisan kuburan yang berdiri sendiri.

Iklan