Anganku melayang pada kisah 7 tahun yang lalu. Di awal bulan Juli 2002. Saat aku harus bertempur dengan seabrek soal untuk menembus perguruan tinggi negeri. Berbekal modal seadanya, bimbel yang hanya dijalani 1,5 bulan kuisi formulir SPMB dengan 2 pilihan: Filsafat UGM Jogja dan Ilmu Politik Unand Padang. Jam belajar berkurang, karena di tahun itu sedang bergulir Piala Dunia di Jepang dan Korea Selatan. Berhubung di kamar kos yang diisi 7 orang tidak ada TV, terpaksalah menumpang di sebuah Pangkas Rambut Jalan Veteran Padang.

Entah kenapa, aku selalu intens mengikuti perkembangan hasil UN dan seleksi perguruan tinggi. Ada kecemburuan dengan prestasi yang diraih oleh adik-adik lulusan SMA yang bisa meraih nilai UN sempurna, 10. Pada tahun kelulusanku, tak ada yang bisa meraih nilai setinggi itu. Bahkan siswa-siswa exelent dari SMA-SMA favorit di Sumbar yang ku kenal setelah sampai di Jogja, sedikit sekali yang mencapai nilai 80. Tahun 2002 itu, mata pelajaran yang tertera di lembar ijazah ada 10 mata pelajaran. Sementara nilai yang kuperoleh hanya 74 koma dikit. Itupun setelah dengan nilai Bahasa Inggris 4 pas.

Keberhasilan anak SMA adalah bisa menembus perguruan tinggi favorit, bisa masuk jurusan favorit. Aku tak tahu, apakah keberhasilanku menembus UGM adalah sebuah prestasi??? Toh, aku tetap saja menjadi siswa biasa dalam pandangan guru-guruku. Lulus UGM tak pula mengantarkanku berhasil meraih cinta seorang gadis yang sejak SMP telah ku suka.

Dua hari ini flu menyerang tubuhku. Hari ini telah satu minggu ujian akhir semester selesai. Namun, aku masih terpaku di sini. Masih lelah tubuhku untuk memulai membuat skripsi. Masih letih pikiranku untuk memikirkan skema-skema tulisan tentang Yahudi yang akan ku angkat sebagai tugas akhir. Hari ini, 7 tahun setelah aku bergulat dengan soal-soal SPMB yang karena keberuntungan aku bisa menjadi mahasiswa UGM.

7 tahun, masa yang sangat lama untuk kuliah S1. Masa maksimal yang diberikan oleh universitas bagi mahasiswa Sarjana untuk merampungkan studi. Cuma satu tahun pertama saja aku serius. 3 tahun kemudian kuliahku berantakan. Hari-hariku cuma dihabiskan untuk menjawab “apakah filsafat itu haram?”. Pertanyaan yang baru bisa kupecahkan tahun 2006, saat aku kembali pada impian awalku menjadi pemikirm filsafat.

Semester ini semua teori sudah habis. Hanya tinggal skripsi. Jika nilai mata kuliah perbaikan bagus-bagus, capaian IPK 3,5 bisa tertera di transkrip. Namun, kenapa sulit untuk memulai menulis. Sementara bahan-bahan sudah tertumpuk di kamar. Entah kemana semangatku menghilang??? Ya Allah tolonglah aku