Masalah Etis dalam Debat Capres


“Menurut Tifatul, penampilan JK tergolong bagus, tetapi JK terlihat terlalu ambisius. Apalagi, di tengah kultur masyarakat yang belum terbiasa dengan kebiasaan menyanggah orang di depan umum.” (Kompas Online 2 Juli 2009)

Ada yang menarik mencermati kutipan di atas. Ungkapan ini beredar pada arena perdebatan etis atau tidak etis. Ada 2 tafsiran dari apa yang diungkapkan oleh Tifatul:

  • Menyanggah orang di depan umum adalah perbuatan yang tidak etis.
  • Mengeneralisasi bahwa masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan kebiasaan menyanggah orang di depan umum.

Hal pertama, Tifatul hendak memadamkan keunggulan JK yang berani berinisiatif membuka perdebatan dengan melandaskan kepada adat istiadat masyarakat Indonesia. Dalam hal ini ada konteks yang dilupakan oleh Tifatul. Acara yang sedang berlangsung adalah “Debat”. Dalam debat tentu ada momen saling kritik di antara orang yang berdebat. Tentu aneh jika judul yang diangkat adalah “Debat Capres” tapi yang terjadi hanya suasana adem ayem saling setuju. Yang kedua, kenapa dalam kampanye-kampanye internal dan juga pemberitaan media yang menampilkan bukan lagi debat, tapi cercaan, hinaan, dan celaan antar kandidat termasuk yang dilakukan oleh team sukses SBY, tidak dikatakan sebagai hal yang tidak etis? Mengapa dibuat parameter yang berbeda? Padahal iklan, press rilis dan debat adalah bagian dari kampanye.

Kedua tentang pernyataan ” masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan kebiasaan menyanggah orang di depan umum”. Pandangan ini selalu menyandarkan pada adagium, “kita adalah bangsa timur yang mengedepankan sopan-santun dan kelembutan tutur bicara”. Apakah memang benar demikian? Sejak era reformasi, setiap orang bebas berbicara. Sanggahan dan kritik telah menghiasi setiap diskusi dan berita di media. Apakah memang masyarakat kita masih bermental feodal. Yang membungkam mulut meski telah ditindas dan dizalimi oleh penguasa?

Lagi-lagi pencitraan sebagai pihak yang diserang dan dirugikan, menjadi senjata team sukses SBY. Dan pernyataan Tifatul adalah bagian dari strategi ini. Sudah saatnya rakyat tidak dikibuli dengan tampan memelas dan berlagak kasihan, sementara kebijakan yang diambil menyengsarakan rakyat. Bak pepatah melayu “lebih baik berpahit-pahit di awal, sehingga sama-sama enak di akhir. Daripada bermuka manis di depan, tapi menikam di belakang.

Waktu semakin dekat. Tinggal 6 hari lagi menuju pilpres 2009. Pilihan harus dimatangkan. Jangan hanya terpukau oleh hal-hal artifisial. Saatnya memilih dengan cerdas sebagaimana yang disampaikan oleh KPU.

Iklan

4 thoughts on “Masalah Etis dalam Debat Capres

  1. Pret!! JK mengkritik tidak pada tempatnya. Inget dong tujuan diadakannya debat, yaitu supaya masyarakat Indonesia tahu visi-misi dan program mereka, jadi yang didebatkan harusnya pandangan mereka ttg visi-misi atau program itu, bukan justru kritik masalah iklan atau cara2 curang berkampanye, itu udah beda konsep acara lagi. Lah, JK malah banyak kritik ttg masalah di luar ide2 yang dibawakan. kalo emang mo gitu, tujuan diadakannya debat diganti aja, yaitu sebagai komoditas hiburan supaya rakyat bisa melihat bagaimana lucu dan serunya para calon pemimpin kita mendebatkan masalah di luar konsep

  2. Baik sekali ulasan Bung Gunawan. JK membuat kultur baru, dia menciptakan karakternya sendiri.
    Dia rela mengorbankan dirinya sendiri, meski sejatinya itu tugas timses. Untuk politik international, JK ini kolaborasi Soekarno dan Hatta, dia ditakukti karena tegas dan teliti…

    Beda dengan SBY, dia mengorbankan timsesnya dengan mengatakan ” Saya tidak tahu dengan iklan itu”, ini jelas pembohongan publik, mana mungkin dia tidak tahu, Denny JA dia yang bayar kok.

    Untuk mas di atas yang bilang Pret, kayaknya dia anak kosan yang baru tahun 2009 ini ngerti politik, jadi dimaklumi aja, taunnya hanya Symbol, karena SBY ganteng ya SBY yang bagus, padahal komentarnyanya sendiri ga ganteng

  3. Haha.. saya memang anak kosan yang sedang belajar politik. Tapi saya bukan orang seperti anda yang ga ngerti politik tapi sok-sok an ngerasa ngerti dan ahli, hahaha… yah.. memang repot kalo harus menghadapi orang yang “tidak tahu kalo dirinya tidak tahu” seperti mas-mas yang di atas ini. Dikiranya saya ini pendukung SBY. BUkan bung, saya juga pendukung JK, makanya saya agak kecewa dengan JK yang mengkritik tidak pada tempatnya. Harusnya dia lebih konsen aja untuk membela visi misinya,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s