Beberapa hari ini aku memang fakum menulis. Maklumlah, Senin sampai Rabu kemarin, aku disibukkan oleh ujian yang memang menyita waktu dan pikiran. Maklumlah, paradigma kebut semalam belum jua dapat dihilangkan. Mungkin karena sudah dibiasakan sejak SD sampai kuliah, sehingga di semester terakhir inipun, gaya konservatif ini masih saja terbawa-terbawa. Padahal, aku memang ngak kuat kalau cuma menghafal satu malam. Kekuatanku menjawab soal-soal ujian lebih diandalkan pada ingatan saat dosen menerangkan di depan kelas.

Tadi malam, setelah siangnya mengikuti “Hearing Mahasiswa Tua dengan Pimpinan Fakultas”, ku hilangkan be-te dengan menonton film terbaru “Garuda di Dadaku” di Cinema XXI Jalan Solo. Wah, keren deh pokoknya. Film ini menceritakan kisah seorang anak kelas 6 SD berumur 12 tahun yang bernama Bayu. Ia tinggal bersama Ibu dan Kakek Usman. Sang Kakek begitu terobsesi untuk menjadi Bayu menjadi orang besar. Maka setelah pulang sekolah, Bayu diharuskan mengikuti berbagai macam les. Musiklah, Matematika, Bahasa Inggris, Lukis and etc. Kakek Usman begitu membenci sepakbola karena traumatik masa lalu. Papa Bayu (anaknya Kakek Usman) memang pemain bola yang handal. Sayang saat mau seleksi team nasional ia cedera berat, dan berhenti bermain bola. Harus menghidupi keluarga, ia terpaksa menjadi sopir taksi karena memang tak punya keahlian lain. Sampai Papa Bayu meninggal karena kecelakaan. Jejak buruk masa lalu itulah yang menjadikan Kakek Usman begitu benci dengan sepakbola.

Konflik itulah yang cuba diangkat oleh sang Sutradara, dengan cara yang khas dan menarik. Ada cerita lucu, horor, sampai cinta-cintaan ala anak SD. Dari kritik moral tentang kejujuran, kritik sosial tentang lahan bermain yang semakin sedikit buat anak-anak, sampai kritik psikologis, “orangtua jangan memaksakan kehendak kepada anak”. So, komplit deh pesan-pesannya. Yang paling penting tentu, membangkitkan nasionalisme anak-anak untuk berprestasi di event internasional. Tentu, kalau semangat anak-anak Indonesia kayak Bayu dan Heri (sahabat Bayu yang cacat tapi maniak bola), kita berharap 10-20 tahun yang akan datang bangsa ini akan digerakkan oleh generasi baru yang punya semangat dan karakter  untuk mengangkat bangsa ini sejajar dengan negara-negara maju.

**************************

Senin yang lalu, perjalanan malamku berlabuh di Kantor DPD Golkar DIY di Jalan Sudirman. Saat itu ada acara nonton bareng debat cawapres. Ngak tahu kenapa, malam itu anak-anak asrama pada semangat. Lumayan juga sabetan yang didapet. Masuk Metro TV, dapat kaos, buku, bendera sama spanduk dan tawaran membuka posko JK-Win Sumatera Barat. Karena ada teman yang dapat doorprice amplop berisi uang, jadinya makan malam enak di Duta Minang. Ya, seru pokoknya. Cuma, keinginan untuk kenalan sama reporter Metro TV Lalita Gandaputri (alumni Ilmu Komunikasi UMY) ngak jadi. Karena pas acara selesai, ngak sempat sempat lagi ketemu sama mbak berjilbab itu… He2..He2..

Tadi pagi, sempat juga datang ke PP Muhammadiyah ikut pengajian kamis pagi. Disebabkan Ustadz Yuhanar berhalangan, Ustadz Faturrahman Kamal Lc, M.Si-lah yang mengantikan. Yang dibahas tadi mengenai “Islamic Worldview”. Seru kalau dah dengar pemaparan Ustadz Fatur. Beliau bilang saat ini kalangan Islam Liberal sudah mengalihkan terjangannya pada ranah-ranah praktis. Karena mereka memang kalau beradu argumen secara akademis. Saat ini mereka berorientasi pada penguatan ibadah-ibadah mahdoh para kadernya dan juga memperbanyak hafalan qur’an sehingga bisa mengimami sholat dengan panjang. Yang kedua, mereka bergerak langsung pada persoalan2 riil masyarakat seperti kemiskinan dan pendampingan sosial sekaligus mencoba memasukkan pemahaman mereka secara perlahan-lahan.

Tadi sempat juga Ustadz Fatur menyayangkan kondisi aktivis dakwah kampus yang masih saja berperang satu sama lain, hanya karena persoalan perebutan masjid dan penyesatan terhadap ustadz-ustadz tertentu. Sehingga energi mereka habis dan tak lagi fokus mendakwahi mahasiswa-mahasiswa yang masih belum sholat dan berpakaian syar’i. Pertengkaran antara aktivis dakwah dari Tarbiyah, HTI, dan Salafi telah menimbulkan sikap apatis bagi mahasiswa-mahasiswa biasa, malahan ajaran-ajaran sesat seperti NII, Satrio Piningit dan yang lain mengambil keuntungan dari situasi ini.

Oleh karena itu, memang tugas kita semakin berat. Di saat politisi Islam sudah hanyut dalam perebutan kekuasaan sehingga melupakan dakwah dan melecehkan syariat, umat dibiarkan binggung. Mudah2an masih ada para ulama yang hanif, yang senantiasa menasehati umat untuk terus istiqomah di jalan Allah di tengah terpaan masalah-masalah yang semakin lama semakin berat dan kompleks.

So, sebagaimana Bayu yang pantang menyerah, kitapun harus tetap semangat memperjuangkan cita-cita yang paling mulia, yakni meninggikan kalimat Allah di muka bumi. Berjuang dan berkorban sesuai dengan bidang kita geluti dan kemampuan yang kita miliki.