Berjuang merampungkan makalah filsafat komunikasi sejak tadi malam, akhirnya bisa juga aku selesaikan makalah yang menjadi penganti ujian akhir itu. Di sela-sela mengetik malam tadi, Kak Titi kembali menelponku. Ada rasa bahagia, ada rasa gembira, ada suka yang memenuhi hati ini. Aku memang takut kehilangan Kakak yang begitu baik kepada diriku itu. Entah kenapa? Aku masih saja berharap semoga ia adalah jawaban atas keresahanku selama ini.

Berhasil merampungkan makalah tadi pagi, membuat langkahku begitu santai menuju kampus. Tak tergesa-gesa mengejar deadline pengumpulan. Kurang 5 jam, aku berhasil merampungkan 10 halaman tulisan. He2.. HE2.. Memang otakku ini memang harus dipaksa untuk melakukan sesuatu. Kalau ngak, alamat malas menyelimutiku.

Duduk sebentar setelah mengumpulkan makalah, akupun putar lagi otak buat persiapan ujian besok. Masih ada beberapa bahan yang belum kudapatkan. Besok ada satu ujian. Hari Rabu ngumpul makalah Filsafat Hukum. After that, aku harus segera merampungkan proposal skripsi biar bisa segera diseminarkan.

Sesampai di asrama membawa makanan yang ku beli di warung, ku samperi koran hari ini. Memang aku punya kebiasaan aneh, baca koran pas makan. Di halaman pertama harian Republika, aku terkejut melihat foto Prof. Amien Rais bergandengan dengan SBY dalam rangkaian kampanyenya di Sumatera Barat. Bukan apa-apa sih, cuma heran aja. Awalnya sebelum Boediono ditunjuk Amien Rais merapat ke SBY. Terus, karena kecewa Amien angkat kaki beralih mendukung JK. Eh, sekarang balik lagi ke SBY. Duh, memang politik memang berfluktuasi terus. Mau ikut tren kurs mata uang kayaknya.

Meskipun, ada yang bilang, memang begitulah politisi, kemarin bilang A, sekarang bilang B, mungkin esok bisa berubah bilang C. Terus omongan mana yang bisa dipegang? Boleh aja sih, bertukar-tukar pendirian. Tapi ada penjelasan ke publik dunk. Apalagi untuk orang-orang yang dianggap sebagai “Guru Bangsa” atau apalah namanya.

So, aku suka politik. Tapi aku benci politik belang-belang. Kalau sudah gitu, lebih baik jadi macan sekalian. Biar jelas punya nafsu untuk merampas kekuasaan. Bukan seperti kucing yang sering malu-malu, bahkan malu-maluin.