Aku benar-benar merasa bosan malam ini. Ngak semangat lagi nonton Indonesia Open, kerana cuma Taufik Hidayat aja yang main memukau malam ini. Tak ada komen baru di blog ini. Tak ada email baru yang masuk. Tak ada komentar baru di facebook. Telah jua ku baca “Ruang Publik” Jurgen Habermas, mencari inspirasi untuk membuat makalah filsafat komunikasi. Tapi memang filsuf Jermah yang terpengaruh para pemikiran idealis dan pemikiran yang abstrak, membuatku kesulitan memahami.

Tak ada sms yang masuk menemani malam minggu sunyi ini. Sebenarnya aku masih berharap Kak Titi kirimkan lagi sms. Namun, apa daya, aku telah membuat kakak yang baik itu tersakiti oleh ketidakseriusanku menjalin hubungan. Bukan karena apa-apa, cuma aku masih gamang dengan masa depanku sendiri. Aku masih belum bisa memutuskan apa yang terbaik buatku nanti.

Saat, sendiri seperti ini, aku ingin ada seorang teman yang menemani. Tapi ketika aku mulai dekat dengan seseorang, aku kehilangan akal untuk melanjutkan hubungan. Entah apa yang terjadi denganku…

Bosan mengutak-atik blog dan membaca berita di beberapa media online, kembali aku iseng-iseng ikut kuis facebook. Kuis yang kucuba kali ini adalah Enneagram, 9 Tipe Kepribadian Manusia.

Metode Enneagram yang dikemukakan oleh Renee Baron & Elizabeth Wagele ini membagi tipe kepribadian manusia menjadi 9, yaitu Perfeksionis, Penolong, Pengejar Prestasi, Romantis, Pengamat, Pencemas, Petualang, Pejuang, dan Pendamai. Dan hasilnya, kata Facebook diriku termasuk tipe kepribadian Pengamat. Lengkapnya:

Memiliki suatu kebutuhan akan pengetahuan, dan adalah pribadi yang introver, penuh rasa ingin tahu, analitis dan berwawasan. Mengandalkan kemampuannya sendiri dan menemukan rasa aman dalam pengetahuan. Keunggulan : analitis, berpendirian teguh, sensitif, bijaksana, objektif, mudah memahami, dan mandiri. Kejelekan : sok pintar, kikir, keras kepala, menjauhkan diri, suka mengkritik orang lain, mudah menyerah, dan sering bertentangan dengan orang lain. Cara bergaul dengan saya : Mandirilah. Jangan maunya menempel terus. Bicaralah secara langsung dan ringkas. Saya butuh waktu sendirian untuk mengatur perasaan dan pikiran saya. Ingatlah, jika saya kelihatannya jauh, tidak mau mendekatkan diri atau sombong, itu “bisa” berarti bahwa saya sedang merasa tidak nyaman. Buatlah agar saya merasa diterima, tapi jangan terlalu menggebu, jika demikian, saya mungkin meragukan ketulusanmu. Jika saya menjadi jengkel karena harus mengulang sesuatu, itu mugnkin karena saya terlalu berusaha keras mengeluarkan pikiran saya pada kesempatan pertama. Jangan mendekati saya dengan sikap yang berisik. – Bantu saya menghindari hal yang tidak saya sukai : pesta besar, musik orang lain yang hingar bingar, emosi yang melelahkan, dan pelanggaran terhadap privasi saya.

Mataku sudah ngantuk. Mungkin setelah postingan ini selesai, aku mau istirahat dulu. Mudah2an besok aku bisa bangun pagi dan sholat shubuh di masjid…

Iklan